
"Tapi kan_" Ucapan Leina terpotong ketika Rendy tiba-tiba memotong ucapanya.
"Bimo benar mah, kita tidak perlu memaksakan mereka." Rendy menatap Leina intens. Agar istrinya itu tidak kembali bicara.
Rendy lebih mengerti sifat putranya.
" Tapi kan pah.."
"Mah, sebaiknya kita pulang, sepertinya Bimo sedang sibuk." Ucapnya yang melihat Bimo kembali kemeja kerjanya mulai bekerja.
"Iss...kalian itu sama-sama menyebalkan." Mau tidak mau Leina menurut ketika suaminya membawanya keluar.
Setelah pintu tertutup Bimo membanting map dimeja nya ke lantai membuat isinya berhamburan.
Tangannya memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing, mendengar kata perjodohan membuat dirinya muak. Bimo adalah pria penurut jika untuk masalah lain, tapi tidak untuk masalah menentukan hidupnya. Perjodohan bukanlah hal yang bisa dia terima, apalagi dijodohkan dengan wanita seperti Siera, sama sekali bukan tipenya.
"Keruangan saya sekarang." Bimo kembali menaruh gagang telpon, tanpa mendengar jawaban orang di seberang sana.
tok..tok..tok..
"Masuk.."
"Ada apa Tuan?" Daniel melihat map berhamburan dilantai, ingin maju untuk mengambil namun suara bosnya membuatnya urung.
"Suruh OB yang bertugas di ruangan ini untuk membereskan nya, dan kosongkan jadwal saya hari ini...saya tidak ingin di ganggu." Ucap Bimo menatap Daniel serius.
__ADS_1
"Ba_baik Tuan." Daniel segera keluar, dan melakukan apa yang bosnya suruh.
.
.
Alena mengetuk pintu ruangan bosnya namun tak ada sahutan.
"Tumben gak dijawab." Alena melangkah masuk dengan mengedarkan pandanganya tidak ada Bimo di sana. Melihat ruangan bosnya yang berantakan membuat dirinya berdecak. "Kek nya ini ruangan abis kena angin pu*ti*ng beliung deh." Alena berjongkok mengambil berkas dilantai.
Padahal terakhir dirinya masuk tadi ruangan bosnya itu masih baik-baik saja, tidak berantakan seperti ini.
"Apa yang terjadi..?" Pikirnya.
Alena hanya melihat jas yang Bimo tadi pakai di sandaran kursi kerjanya, namun sang manusia tak terlihat batang hidungnya.
Alena menoleh ketika mendengar pintu terkunci. "Bapak..?"
Bimo tersenyum tipis melihat wajah Alena yang terkejut.
Alena berjalan menuju pintu, dan berusaha membukanya. "Pak, kenapa di kunci?" Alena menatap Bimo tajam, meskipun jantungnya berdebar takut.
"Tidak apa-apa, hanya ingin mengurung mu disini saja." Ucapnya dengan santai.
Bimo berjalan mendekati Alena, yang sudah ketakutan. "Kenapa hm.." Bimo berdiri didepan Alena dengan jarak sangat dekat, membuat Alena semakin menunduk. "Kamu takut..?" Bimo menyentuh dagu Alena agar tidak menunduk.
__ADS_1
"Ba-bapak mau apa?" Ucapnya gugup.
Bimo menarik bibirnya, tersenyum tipis. "Apa saja agar kamu menjadi milik saya." Dengan cepat Bimo menarik tubuh Alena kedalam gendongannya, meskipun wanita itu memberontak dan berteriak. Karena ruangan Bimo kedap suara jadi tak ada seorang pun yang mendengar teriakan Alena.
.
.
.
"Maaf mbak, Pak Bimo nya sedang tidak bisa diganggu oleh siapa pun." Ucap sekertaris Bimo yang bernama Cindy.
"Memangnya Bimo sedang ada tamu?" Tanya Siera yang sedang berdiri didepan meja Cindy.
"Tidak, hanya saja beliau sudah berpesan seperti itu." Ucap Cindy dengan sopan.
"Ck. Menyebalkan sekali."
Siera kesal, dirinya sudah semangat mendatangi kantor Bimo hanya untuk bisa berdekatan dengan Bimo, namun pria itu seolah tidak bisa tersentuh.
Jika saja bukan Bimo orangnya, pasti dirinya tidak akan susah-susah berusaha hanya untuk menarik perhatian seorang Bimo Bagaskara, seorang pria yang begitu dingin dan kaku.
.
.
__ADS_1
Satu Bab saja ya gaess...😀 Soalnya kalo otor kasih doubel kalian lupa tinggalin jejakðŸ¤..