
"Sudah siap?" Tanya Bimo yang membantu Alena membereskan barang bawaannya.
"Hem..sudah."
"Ayo.." Bimo menggandeng tangan istrinya, tangan kirinya untuk membawa tas berisikan perlengkapan Alena.
Sudah tiga hari Alena menginap dirumah sakit, dan suaminya lah yang selalu menemaninya setiap jam istirahat siang, pulang kerja hingga pagi hari lagi. Bimo setia menemaninya.
"Mau membeli sesuatu." Tanya Bimo.
"Hem..aku mau makan eskrim." Ucap Alena dengan mata berbinar.
"Tapi kamu baru sembuh sayang." Ucap Bimo mengingatkan Alena yang baru keluar dari rumah sakit.
"Tapi aku pengen yank.." Alena merengek dengan wajah cemberut.
Bimo menghela napas dalam, kenapa sifat Alena menjadi menggemaskan. "Oke."
Mendengar ucapan Bimo Alena tersenyum bahagia, tubuhnya mendekat kearah suaminya.
Cup
"Terima kasih sayang." Tangan Alena melingkar di lengan kiri Bimo untuk dirinya peluk.
Bimo tersenyum lebar mendapat ciuman di pipi dari sang istri, karena Alena tipe pemalu jika mulai lebih dulu.
Setelah beberapa menit mobil Bimo berhenti di cafe tongkrongan anak muda cafe yang menyediakan eskrim lengkap dengan toping.
"Ayo.." Tangannya menggandeng tangan Alena agar berjalan disisinya.
"Suka.." Tanya Bimo yang sudah duduk di kursi pinggir jendela dan bisa melihat ke segala penjuru pemandangan luar cafe.
"He'um..suka banget." Alena menatap kesekeliling.
__ADS_1
Dirinya merasa takjub melihat interior yang didesain begitu Instragramabel cocok untuk yang suka ber-selfie atau membikin konten Vidio untuk di unggah ke media sosial mereka.
"Kenapa?" Tanya Bimo yang melihat istrinya terpaku pada satu obyek.
"Tidak apa-apa." Ucap Alena menatap suaminya dengan menggeleng.
Alena sebenarnya ingin mengajak suaminya berfoto di spot yang paling menarik baginya, tapi mengingat suaminya yang tidak suka dengan hal berbau selfie Alena mengurungkan niatnya.
Bimo yang peka pun berdiri, dan mengajak Alena untuk mengikutinya.
Sebenarnya semenjak masuk ke dalam cafe Bimo dan Alena menjadi pusat lerhatian bagi para pengunjung cafe yang kebanyak siswa siswi pelajar dan kalangan anak muda, wajah rupawan Bimo seakan menghipnotis bagi kaum hawa yang sedang berada di cafe itu, begitu pun Alena yang sederhana mampu membuat para cowok menatap kearahnya meskipun sudah ada yang mengandeng tangannya yang berarti miliknya.
"Mbak tolong ambilkan foto kami berdua." Ucap Bimo pada salah satu karyawan cafe.
"Bim.." Alena merasa malu dan juga speechless karena perbuatan suaminya.
"Sini." Bimo duduk dan menarik pinggang Alena agar duduk di pangkuannya dan Bimo memeluk dari belakang dagunya Ia letakkan di bahu Alena.
Mereka berpose banyak gaya, bahkan keduanya tertawa dengan lepas dan saling berhadapan membuat para pengunjung yang sejak tadi memperhatikan mereka menjadi iri dan memujinya.
"Lihat Mas." Alena melihat hasil jepretan tadi dan benar hasilnya sangat bagus.
"Pasti aku akan merindukan momen seperti ini suatu saat." Ucap Alena dalam hati.
Bimo membawa Alena kembali duduk di kursi yang tadi.
"Mau kemana Mas?" Tanya Alena yang melihat Bimo ingin pergi.
"Ambil pesanan sayang." Ucap Bimo berlaku menuju dimana tempat memesan ekstrim.
"Tapikan semua di antar, kenapa dia yang ambil sendiri." Batin Alena yang melihat ke meja lain dan para pelayan pun mengantar semua pesanan mereka.
Tak lama Bimo kembali dengan membawa satu nampan ada tiga mangkuk eskrim, dan dua pelayan dibelakangnya membawa masing-masing satu nampan.
__ADS_1
"Mas kenapa banyak sekali?" Tanya Alena yang kembali heran.
"Terima kasih mbak." Ucap Bimo pada pelayan yang membatunya membawa pesanan eskrim.
"Sama-sama Mas." Pelayan itu menunduk hormat dan pergi.
"Kenapa mereka menunduk sama kamu? kamu kan bukan bos mereka." Lagi-lagi Alena melancarkan pertanyaannya.
Bimo hanya mengulum senyum, nampaknya istrinya itu kepo nya sangat tinggi. "Sudah di makan dulu, habiskan." Ucap Bimo santai.
Alena mendelik kan matanya pada suaminya. "Yang benar saja, aku hanya butuh satu mangkuk saja, tapi kamu beri semua rasa." Ucap Alena tak percaya, tangannya mengambil sendok untuk mulai mencicipinya.
"Bagaimana, enak?" Tanya Bimo yang menahan tawa melihat Alena yang begitu semangat memakan eskrim nya.
"Hem.. sangat enak." Alena yang seperti baru merasakan eskrim seenak ini menjadi lupa dengan ucapanya bahwa hanya butuh satu mangkuk saja, nyatanya kini Alena hampir menghabiskan tiga mangkuk.
"Duh, perut aku udah penuh, tapi mulutku masih ingin mencicipi." Ucap Alena menatap beberapa mangkuk eskrim yang beraneka rasa belum Ia cicipi.
"Jika sudah kenyang berhenti sayang, nanti akan aku suruh pelayan untuk antar kerumah kita." Ucap Bimo sambil membersihkan sudut bibir Alena yang belepotan sisa eskrim.
"Disini gan melayani delivery sayang." Ucap Alena yang membaca tulisan besar dekat kasir.
"Hm...untuk tuan putri apapun pasti bisa." Ucap Bimo dengan senyum.
"Iya...iya..sultan mah bebas." Alena mencebikkan bibirnya.
"Hem..demi istri apapun akan aku berikan." Bimo mengecup kening Alena sekilas.
"Omo..Omo.."
"Aiissss meleleh hati adek bang.."
"Duhh abangg mleyot hati Mimin."
__ADS_1
Alena menutup wajahnya malu, mendengar pengunjung lainnya yang ternyata sejak tadi memperhatikan dirinya dan Bimo.
"Malu Yankk.."