Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Siang merangkak sore, sepertinya Jakarta sore ini akan turun hujan. Siang hari yang begitu cerah tidak membuat sore hari akan tetap cerah, nampak langit mendung hitam pekat.


Begitu juga dengan Sena, kemarin dirinya merasa bahagia ketika bersama dengan Aaron, dan sekarang dirinya menjadi sedih ketika di hadapkan dengan kenyataan.


Usianya yang sudah 22tahun membuatnya harus menerima perjodohan yang sudah sang papa putuskan.


Jika bisa memilih Sena akan memilih pria yang dia cintai.


Tok...tok..tok..


Suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar, Sena berjalan membukakan pintu kamarnya.


"Boleh papa masuk." Ucap Bimo yang ternyata mendatangi kamar putrinya.


"Boleh Pah." Sena tersenyum.


"Kemarilah." Ucapnya dengan menepuk sisi sebelahnya yang kosong, kini mereka duduk di samping ranjang Sena.


"Apa papa membuatmu tertekan dengan permintaan papa." Bimo menatap wajah putrinya dengan penuh kasih sayang, wajah yang selalu mengobati rasa rindunya setiap kali merindukan Alena.


Sena hanya hanya menunduk diam, dirinya tidak tahu harus menjawab apa.


Bimo tersenyum melihat putrinya hanya diam saja.


"Apa kamu sudah memiliki pria lain yang kamu cintai?"


Mendengar ucapan papanya Sena langsung mendongak.


"Jika kamu yakin pilihan kamu adalah yang terbaik maka papa bisa terima, tapi jika sebaliknya papa tidak akan merubah keputusan papa tentang perjodohan itu." Ucap Bimo dengan menatap intens wajah putrinya.


Sena menelan ludah kasar. Dirinya ingin menjawab Iya, namun tenggorokannya terasa kering.


"Papa beri waktu sehari untuk kamu memperkenalkan pria itu. Jika tidak, maka keputusan papa tidak bisa di ganggu gugat." Bimo mengelus kepala Sena dengan lembut.


"Percayalah papa lakukan semua ini untuk kebaikan kamu. Jika papa sudah tidak bisa menjaga mu, maka dia yang akan menggantikan papa." Bimo memeluk tubuh Sena, merangkul Sena dengan pelukan kasih sayang.


"Sena tidak keberatan Pah, dan Sena akan menuruti keinginan papa." Sena memeluk erat Bimo. "Hanya papa yang Sena miliki, Sena ingin melihat papa bahagia. Kebahagiaan papa adalah kebahagiaan Sena juga."


Bimo mengecup pucuk kepala putrinya. Dia sudah menduga akan seperti ini, karena kedua anaknya tidak akan pernah melawan ataupun menolak permintaannya.


"Baiklah, papa bahagia jika kamu menerima perjodohan ini. Papa yakin kamu akan bahagia sayang."


Keduanya berpelukan dengan perasaan damai, Sena yang mencoba ikhlas untuk menjalaninya dan dia tidak akan pernah mengecewakan sang papa.


Bimo sendiri sadar, mungkin keputusannya sangat berat untuk putrinya, tapi dirinya tidak punya pilihan lain, karena pria yang dia pilih adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Pasti akan mudah bagi putrinya untuk membuka hati dan mencintai pria itu.


'Papa akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu Sena, Mama mu pasti akan mendukung keputusan papa jika dia masih ada.' Bimo menciumi kepala Sena dengan penuh kasih.


'Terima kasih papa sudah menyayangi dan membesarkan Sena. Sena janji tidak akan membuat papa kecewa. Kebahagiaan papa adalah segalanya bagi sena.'


Diluar hujan begitu lebat dan bercampur angin. Aaron yang nekat menyusul Sena kini dirinya sudah sampai di kota. Seluruh pakaian yang basah karena hujan tak menyurutkan niatnya untuk menemui Sena.

__ADS_1


Aaron berdiri di depan rumah yang terdiri dua lantai.


Dari bawah dia melihat lampu kamar Sena masih menyala padahal sudah pukul sebelas malam.


Aaron memang tahu di mana tempat tinggal Sena, tapi dirinya tidak tahu siapa orang tua Sena.


Hujan masih begitu lebat Aaron mencoba menghubungi nomor Sena.


Hingga panggilan ke lima baru di angkat oleh Sena.


"Halo.." Ucap Sena dari seberang sana.


"Sen.." Aaron menelan ludah, udara dingin tak membuatnya menyerah. "Keluarlah aku tunggu di bawah." Ucap Aaron dengan mengusap wajahnya yang basah terkena hujan.


"Maksud kamu apa?" Sena berjalan mendekati jendela, dirinya melihat dari kaca jendela di bawah sana, tepatnya di depan gerbang rumahnya berdiri seorang pria yang dia kenal.


"Aku tunggu kamu."


Aaron mematikan sambungan telponnya ketika melihat Sena yang berdiri di jendela kamar.


Sena tidak tahu jika pria itu akan nekat, padahal dirinya tidak pernah memberi tahu alamat rumahnya.


"Ck. kenapa keras kepala sih." Sena mondar mandir di dalam kamar, menggigit kuku jarinya karena merasa bingung.


Beberapa kali dirinya melihat ke jendela dimana Aaron masih setia berdiri di luar sana dan sedang hujan lebat.


Karena tidak tega, akhirnya Sena memutuskan untuk menemuinya.


"Nak, mau kemana?" Tanya Bimo yang melihat Sena buru-buru.


"Em.. hanya kedepan sebentar Pah, tadi Sena pesan sesuatu dan baru sampai." Alibinya agar Bimo tidak curiga. "Kasian hujan-hujan begini." Sena kembali melangkahkan kaki menuju pintu utama, dan mengambil payung yang berada tak jauh dari pintu.


Bimo yang melihat putrinya hanya menghela napas, bukanya dia tidak tahu jika Sena berbohong. Karena sebelum nya penjaga pos sudah memberi tahunya jika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan gerbang.


Bimo hanya melihat pria itu dari balik jendela, dan dia sudah tahu siapa orangnya.


Sena berlari kecil menuju gerbang rumah. "Pak bukakan pintu gerbangnya." Ucap Sena pada pak Diman. Dimana pengganti Fandi yang sudah tua dan pensiun.


"Neng hujan-hujanan mau kemana?" Pak Diman membukakan kunci gerbangnya.


"Hanya kedepan pak, tidak usah di kunci dulu." Ucap nya melesat pergi.


Benar saja Aaron sedang berdiri dengan pakaian basah kuyup. "Kamu gila hah..!!" Sena memaki Aaron ketika sudah sampai di depan pria itu.


Aaron hanya diam, tatapan matanya intens menatap wajah Sena yang begitu khawatir dan marah.


"Pulang Ar, untuk apa kamu datang kesini." Sena menatap Aaron dengan perasaan berkecamuk, apalagi melihat bibir pria itu, jika biasanya berwarna kini bibir nya pucat.


"Ar..kamu mending_"


Grep

__ADS_1


Aaron langsung memeluk tubuh Sena, dimana tubuhnya yang basah menempel erat. "Jangan katakan lagi jika kamu bukan siapa-siapa." Suara Aaron terdengar bergetar. "Sudah aku katakan, jika kamu adalah milikku, dan aku tidak akan melepaskan mu." Aaron memeluk erat tubuh Sena, dirinya tidak peduli jika baju yang dipakai Sena ikut basah.


Sena diam mematung, jantungan berdetak tak normal, matanya terasa panas. 'Oh..Tuhan kenapa tiba-tiba dadanya terasa sakit.'


"Memang begitu kenyataannya, bagiku kamu bukan siapa-siapa." Ucap Sena yang membuka suara. dirinya tidak mau memberi harapan yang tidak akan bisa di raih.


Aaron melepaskan pelukannya, menyentuh kedua bahu Sena. "Kenapa? apa aku kurang baik, apa kamu ingin aku merubah semua sifat ku, katakan Sen, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerima ku." Aaron menggoncang tubuh Sena pelan.


"Aku_"


"Apa karena aku bukan orang kaya dan kamu tidak mau menerimaku." Potong Arron sebelum Sena bicara.


"Bukan it_"


"Apa aku harus menjadi kaya dulu agar kamu mau bersamaku, apa aku_"


"Stop Ar..!!" Sena berteriak, membuat Aaron langsung kicep, menutup bibirnya rapat-rapat.


Aaron mengusap wajahnya, matanya yang terasa perih tak membuatnya memalingkan tatatapanya dari wajah Sena.


"Tidak perlu kamu merubah apa yang ada dalam dirimu, karena itu tidak akan merubah keputusan ku." Sena menatap wajah Aaron intens, sebisa mungkin Sena menyembunyikannya kesedihan dalam dirinya.


"Kita hanya dua orang asing yang tidak sengaja bertemu, dan kamu tidak seharusnya datang kesini hanya untuk mempertanyakan suatu hal yang jelas-jelas kita tidak pernah ada hubungan." Sena memalingkan wajahnya. Entah mengapa dadanya terasa sesak ketika mengatakan itu.


"Kenapa? kenapa tidak bisa." Aaron menyentuh wajah Sena agar mau menatapnya. "Katakan, katakan jika kamu mencintaiku Sen, katakan." Aaron menempelkan keningnya di kening Sena, sehingga air yang membasahi rambut nya menetes di wajah Sena. "Aku mencintaimu, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, dan kamu adalah wanita yang berhasil membuatku gila." Tangan dingin nya menyentuh kedua pipi Sena.


"Ar..Maaf, jika aku sudah membuat hatimu terluka." Tangan kiri Sena menyentuh pipi Aaron. Dan untuk pertama kali Aaron merasakan sentuhan tangan Sena di wajahnya, membuatnya memejamkan mata.


"Dan maaf, tidak bisa membalas perasaanmu, anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak saling kenal, itu jauh lebih baik." Sena memajukan wajahnya dan berjinjit untuk memberi kecupan di kening Aaron.


"Semoga kamu tidak menyesal sudah memberikan hatimu untuk ku." Tangan Sena menyentuh dada Aaron.


Aaron tak bisa membendung kekecewaan yang dia rasakan, hatinya terasa ngilu, dan sakit.


"Semoga kamu bertemu wanita yang bisa membalas rasa cintamu." Sena membalikan tubuhnya, sejak tadi dirinya menahan hawa panas di kedua matanya.


Sena memejamkan mata, seketika air matanya lolos begitu saja, langkah kakinya perlahan menjauhi pria yang mengepalkan kedua tangannya berdiri di belakang dengan hati sangat terluka.


"Sen.." Aaron menarik tangan Sena dan membawanya ke dalam pelukannya, payung yang di bawa Sena seketika jatuh.


Kedua tangan Sena memeluk erat tubuh Aaron, dirinya tidak bisa menutupi rasa yang begitu membuat dadanya sesak.


"I love you..!!" Aaron menciumi pucuk kepala Sena. "Meskipun kamu menolak ku, aku akan selalu mencintaimu, selalu." Aaron mencium kening dan kepala Sena berulang kali, kenapa dadanya terasa di himpit oleh batu besar dan terasa sesak.


"Hiks..hiks.." Sena menangis terisak, dalam pelukan Aaron.


Keduanya saling terluka, menangis di bawah air hujan seakan menyaksikan kesedihan keduanya yang memilukan.


Di balik jendela Bimo tersenyum tipis melihat kejadian itu.


'Semoga ini yang terbaik untuk kalian.'

__ADS_1


__ADS_2