Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part91


__ADS_3

Alena melangkahkan kakinya keluar dari gedung kantor Bagaskara Grup. Dirinya sengaja pulang lebih awal dan tidak menunggu suaminya, Alena mengirim pesan jika dirinya pulang lebih dulu, karena Bimo masih ada pertemuan dengan klien nya.


"Len, aku duluan ya." Ucap Gina yang meninggalkan Alena menuju arah parkir.


"Oke.. hati-hati."


Alena pun berjalan menuju halte yang tidak jauh dari kantor, dirinya memesan Ojol dan menunggu di sana.


Duduk di kursi halte tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan nya.


Melihat itu Alena hanya diam dirinya merasa tidak mengenali mobil itu.


"Kamu masuklah." Alena mendongak ketika mendengar suara wanita dan ternyata adalah Ibunya Bimo.


"Saya." Tunjuk Alena pada dirinya sendiri, padahal tidak ada orang lain disekitarnya.


"Siapa lagi." Ucap Leina dengan malas.


Alena pun menurut meskipun sedikit ragu dan sungkan.


"Jalan." Titah Leina pada supir nya.


Alena duduk diam dengan menunduk, dirinya merasa berdebar dan takut hanya untuk menyapa ibu mertuanya.


Drt.. Drt.. Drt..


Ponsel Alena berdering, namun dari nomor tak di kenal.


"Maaf." Ijin Alena untuk mengangkat panggilan telpon nya.


"Halo..?"


(....)


"Ah..iya maaf pak, saya lupa untuk men cansel orderan." Ucap Alena yang ternyata dari Ojol yang dirinya pesan.


(....)


"Sekali lagi saya minta maaf pak."


Diseberang sana Ojek online itupun sedikit meninggikan suaranya karena kesal.


"Heh.. kau itu memang tidak sepadan dengan putraku."


Deg


Alena diam mematung, mendengar ucapan ibu mertuanya.


.


.


.


"Ck. kenapa dia itu tidak mau menungguku." Bimo yang melihat pesan chat Alena pun sedikit kesal, tapi dirinya juga banyak kerjaan dan baru selesai hampir jam enam.


Tangannya membereskan berkas yang berserakan di meja, Bimo segera keluar ruangan untuk pulang. Ahh pasti istrinya itu sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Pikirnya yang membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Ale..kau membuatku semakin jatuh cinta."

__ADS_1


.


.


Leina membawa Alena ke sebuah cafe yang tak jauh dari kantor, Leina memesan tempat privasi.


Alena hanya diam menatap semua makanan di depannya, dirinya tidak punya keberanian hanya sekedar untuk berbicara lebih dulu.


Leina hanya melihat Alena yang diam membuatnya tersenyum sinis.


"Makanlah, pasti kau sudah merasakan makanan mahal dan enak ketika bersama putraku." Ucap Leina dengan meminum jus yang dia pesan.


"Maaf nyonya, sebenarnya apa tujuan anda membawa saya kemari." Akhirnya Alena buka suara, karena menurutnya ibu mertuanya itu tidak mungkin kan jika membawanya hanya untuk menyuruhnya makan-makanan mahal seperti ini.


Leina terkekeh. "Kau begitu cepat menebak, santai saja, karena belum tentu esok aku akan duduk dengan mu seperti sekarang." Ucap Leina dengan santai namun penuh penekanan.


Alena menatap wajah ibu mertua yang sepertinya susah untuk menerimanya.


"Baiklah jika kau ingin aku cepat bicara, karena sepertinya kamu sudah ingin cepat pulang dan bertemu suami mu itu." Leina menatap Alena dengan datar. "Tinggalkan anak saya, maka akan saya pastikan kamu hidup dengan layak."


.


.


"Sayang.." Bimo memasuki kamarnya dengan memanggil sang istri. Alisa bilang jika Alena sedang berada di kamar.


Namun tidak ada penampakan Alena di kamar, melepas semua pakaian kerjanya Bimo mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi. Ahh rupanya istrinya sedang mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi tidak dikunci, Bimo masuk dengan tubuh yang sudah tanpa kain yang menempel.


Grep


"Kenapa tidak menungguku hm." Bimo mengecup bahu istrinya yang polos dengan air shower yang masih mengalir. Tangan Bimo meraih pengatur air shower untuk di perkecil aliran airnya.


"Sudah pulang." Tanpa menoleh Alena bertanya dengan memejamkan mata merasakan sensasi dingin bersamaan tangan Bimo yang meremas buah dadanya dari belakang.


"Hm.." Bimo hanya bergumam, bibirnya sibuk menyusuri leher hingga ke bahu dan lengan istrinya yang polos.


"Yank..ahh.." Alena medesaahh ketika bibir Bimo menghisap leher jenjangnya.


Tangan Bimo turun dengan pelan jarinya menyusuri dada hingga bawah di area sensitif Alena.


Tangan kiri Alena bertumpu pada dinding, dan tangan kanannya menyentuh tangan Bimo yang bermain di area intinya.


"Shhh...emh." Alena Merasa tubuhnya panas, rasa dingin yang tadi sempat hinggap kini menjadi panas oleh gairah.


Bibir Bimo tersenyum mendengar desaahan sang istri yang semakin membuat dirinya bergairah.


Dada keduanya berdebar kencang ketika tubuhnya sudah mulai panas ingin melakukan hal lebih.


"Bim..aku." Kaki Alena mengapit tangan Bimo yang bergerak keluar masuk di bawah, di susul dengan tubuh yang bergetar.


"Arrghh...shh." Alena mendapat pelepasan pertama dengan permainan jari Bimo.


"Enak..hm." Bimo berbisik dengan bibir mengecup telinga Alena lembut.


"Emph." Alena masih lemas, namun tangan Bimo menarik pinggangnya ke belakang, tubuh Alena membungkuk dengan tangan keduanya bertumpu pada dinding kaca.

__ADS_1


"Yank..Ough." Alena medesaahh panjang ketika tanpa aba-aba Singkong Thailand Bimo melesak masuk kedalam miliknya hingga penuh.


"Enghh..ahh Ale." Bimo menggerakkan pinggulnya dengan cepat, sejak tadi dirinya sudah menahan gejolak untuk segera dituntaskan.


Tubuh Alena semakin menegang ketika milik Bimo menusuknya hingga dalam dan dengan gerakan cepat dan kuat.


"Yang aku..ahhk." Alena terus merancau dan mengerang nikmat, kamar mandi yang dingin kini menjadi panas ketika keduanya memadu gairah di dalam sana.


"Shh.. sayang..ahh..enghh." Bimo menekan bahu Alena agar tidak bergerak dan tangan kanan nya meremat bokong Alena yang putih mulus.


"Ahh.. Arghh." Alena kembali menggerang panjang ketika pelepasan kedua kembali Ia dapatkan.


Bimo membalik tubuh istrinya dan mengangkat pinggang Alena untuk dirinya gendong.


"Angkat sedikit sayang." Ucap Bimo agar Alena mengangkat pinggulnya sedikit.


Bless


"Ahhh.. Sayang..Ough." Bimo melahap bibir Alena bersama miliknya yang masuk kedalam lembah surgawi di bawah sana.


Tangan Alena mengalung di leher Bimo, keduanya saling membelit lidah dan bertukar Saliva.


Kedua tangan Bimo menggerakkan bokong Alena naik turun, karena posisi Bimo menggendong Alena seperti koala dan di bawah sana saling menyatu.


Berjalan keluar kamar mandi, Alena terus saja mendessahh ketika milik suaminya menyodok di bawah sana sambil berjalan.


"Yank..ahh.." Alena menggigit bibir bawahnya ketika tangan Bimo meremas buah dada dan jarinya memilin nippelnya.


Alena bergerak naik turun di atas tubuh suaminya, tangannya bertumpu pada bahu Bimo.


"Ahhh..sayang..lebih cepat." Tangan Bimo beralih di pinggang Alena, membantu istrinya agar bergerak lebih cepat karena miliknya sudah semakin ingin meledak.


"Ahh..ahh..sshh..Bimm.." Alena merancau ketika miliknya mulai berkedut dan gatal membuatnya semakin bergerak cepat dan brutal.


"Arrgh." Alena menjerit ketika Bimo menyodok miliknya dari bawah dengan kuat tubuhnya melengkung dengan kepala mendongak.


"Yank..aku..ahhh..mau... Arghh.!!" Belum selesai bicara Bimo kembali menyodok miliknya kuat.


Alena menatap wajah Bimo yang begitu tampan apalagi dengan wajah dan mata yang berkabut gairah.


Keduanya saling menatap tanpa berhenti bergerak dan desaahann mereka pun saling bersahutan.


Alena menatap penuh cinta suaminya yang sedang mencumbu miliknya itu.


"I Love You..Arghh..shhh" Tubuh Alena bergetar bersama Bimo yang menggerang panjang meledak kan semburan hangat di dalam rahimnya.


Kedua tangan Bimo menyentuh kepala Alena, napas keduanya memburu dengan dada naik turun.


"I love you more." Bimo mengecup bibir Alena yang masih mengatur napas nya.


Tangan Alena menyentuh kedua tangan Bimo yang berada di samping sisi kepalanya.


Tersenyum dengan tulus Alena memajukan kepalanya untuk meraih bibir suaminya.


"Ayo mandi lagi, aku sudah lapar." Ucapnya manja.


Bimo terkekeh mendengarnya, untuk pertama kali istrinya itu manja padanya, biasanya Alena tidak pernah mengajaknya mandi bersama dan sekarang Alena memintanya mandi bersama.


"Semoga disini segera hadir buah cinta kita." Bimo mengelus purut Alena. Kini mereka berada di dalam balthub.

__ADS_1


Alena ikut mengelus di atas tangan Bimo dan tersenyum kecut.


__ADS_2