Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Dua orang yang saling bertatapan itu sama-sama terkejut, apalagi Sena yang menatap pria itu tajam. Bayangan ciuman panas mereka berkelebat di kepala Sena, ciuman pertamanya di renggut paksa oleh pria kurang ajar yang tidak dia kenal.


"Kau..!!" Sena berdiri menatap tajam pria tinggi didepanya, dengan wajah marah.


Bugh


"Auws.." Karena tidak siap, pria itu menggerang ketika kepalan tangan Sena menyentuh rahangnya.


"Untuk pria kurang ajar, dan tak tau diri seperti mu." Sena tersenyum sinis, dirinya berjalan mengambil pesanan yang sudah siap, membayar lalu pergi setelah melirik pria itu sinis.


"Ah, sial.. Wanita bar-bar.. awas saja kalau ketemu lagi." Pria itu memegangi sudut bibir nya yang terasa nyeri, bahkan semua orang yang berada di sana melihat pria tampan itu dengan tatapan kasihan sekaligus memuja. Bagaiman tidak, jika pria tampan itu di pukul dengan begitu keras oleh seorang wanita. dan tidak melawan.


"Mas, Rian teh kenal sama neng cantik tadi?" Ucap yang punya warung.


Pemuda itu bernama Rian, perawakannya yang tinggi dan wajah tampannya sangat mendominansi, tapi sayang penampilannya urakan tidak rapi.


"Ck. wanita cantik?" Rian menautkan kedua alisnya.


"Tadi teh, si eneg yang mukul si kasep." Ucap bapak itu lagi.


Penjual itu sudah tidak kaget jika Rian sering mendapat pukulan, karena jika Rian datang ke warung itu, tak jarang wajah pria tampan itu babak belur.


"Ngak." Rian menggelang, dan segera memakan pesanan yang sudah ada di atas mejanya.


Rian makan dengan santai, dirinya tidak peduli dengan rasa sakitnya, tapi dirinya tidak akan tinggal diam, jika seorang wanita berani memukul nya. "Sial" Umpatnya ketika bayangan ciuman mereka malah berkelebat di pikiranya.


Drt ..Drt..Drt..


Ponsel di dalam sakunya berdering, Rian mengambil nya. "Ck.." Melihat nama yang tertera membuat Rian kesal.


"Hm.." Rian hanya berdehem


"...."


"Gara-gara kau, mereka jadi menemukanku." Ucap Rian kesal, bercampur marah.


"....."


"Tidak ada maaf bagimu."


Tut..


Rian mematikan sambungan teleponnya sepihak.

__ADS_1


"Mang, saya pergi dulu." Rian bergegas pergi mengendarai motor besar nya, setelah menaruh uang di meja bawah piring yang Ia makan tadi.


"Duh si kasep kebiasaan." pria paruh baya itu hanya menggeleng kepala melihat uang yang Rian tinggalkan.


.


.


"Dasar pria kurang ajar, berani sekali dia muncul di hadapanku."


Sena sepanjang jalan menuju apartemen nya menggerutu kesal. Mengingat wajah pria yang sudah kurang ajar itu.


"Mbak Sena dari mana?" Tanya security di basemen apartemen itu.


Sena berhenti dan menatap security itu dengan kening mengkerut. Tak lama dia mengangkat bungkusan plastik yang berada di tangannya.


'Kenapa dia tau namaku..' Batin Sena.


.


.


.


Tak lama dirinya keluar sari flat miliknya, dan menuju basemen apartemen untuk mengendarai motor nya menuju ke pabrik.


Sena yang akan keluar pun melihat security itu lagi yang tersenyum kepadanya.


"Ck. pasti kerjaan papa." Ucap Sena yang baru menyadari tingkah security itu yang terkesan hormat padanya.


Tak butuh waktu lama Sena sampai di pabrik milik keluarga nya, atau lebih tepatnya sudah menjadi miliknya, karena Bimo papanya sudah mengalihkan semua surat menjadi atas namanya.


"Duh, kalau liat atasan model cewek begitu, mata ku jadi gak ngantuk lagi..cerah terus gitu bawaannya.". Ucap pria muda yang melihat Sena baru datang.


Mereka semua sudah memulai aktifitas mereka sejak pukul tujuh pagi, dan Sena datang kurang dari jam delapan, padahal jika atasan yang lama, jam delapan lewat baru datang.


"Iya A, nyieun alus pikeun nempo.." Ucap rekan sebelahnya.


Mayoritas dari mereka kebanyakan pria, wanita hanya sebagian. Dan di bagian pengemasan banyak pria dan wanita yang masih lajang. Otomatis para pria yang masih lajang pun matanya begitu cerah melihat wanita cantik seperti Sena.


"Ngerumpi terus, kerja..di semprot kepala botak baru nyaho." Ucap pria yang baru saja datang, setelah pergi dari dalam kamar mandi.


"Ck. Kumu teh, yang di inget pak botak yang bikin senep. kamu belum tau kan ada bidadari cantik penghuni ruangan si botak." Ucap pria kurus dengan wajah tirus nya itu bernama Asep.

__ADS_1


"Ck, mana ada bidadari yang mau singgah sama botak, gue aja ogah."


"Kamu gak tau Ian, makanya jangan suka bolos." Pria satunya lagi menepuk pundak Rian. Mulut mereka berbicara dengan tangan yang berkerja.


"Apa hubungannya, gak penting." Ucap Rian malas.


"Penting atau, atasan kita teh udah ganti, tuh." Asep menunjuk seseorang yang baru saja melewati mereka dari jarak lima meter.


Rian pun mengikuti arah tunjuk Asep, dan hanya melihat punggung Wanita yang berjalan dengan rambut di ikat ke atas.


"Wanita?" Tanya Rian menatap kedua rekannya.


"Ya, dan duh Ian, kalau kamu liat pasti terpesona... Rahma bidadari pabrik ini saja kalah." Ucap Dadang teman mereka satunya.


Rian hanya tersenyum tipis dan menggeleng, dirinya kembali menoleh ke belakang dan melihat wanita yang sebagai atasan batunya itu hendak masuk ke dalam, tapi wakil direktur mereka datang dan mendekati wanita itu dengan senyum dan tertawa dan mereka masuk secara bersama.


"Ternyata affair dengan wakil direktur." Gumam Rian tersenyum sinis.


"Kak, mama menitipkan ini." Kemal duduk di depan meja Sena.


"Kenapa repot-repot aku bisa makan di kantin pabrik Mal." Ucap Sena menerima paperbag pemberian Gina.


"Takutnya kakak gak nyaman kalau makan di kantin pabrik."


"Ck. kalian berlebihan, Aku bisa hidup dengan baik disini, percayalah." Sena tertawa kecil.


Kemal yang melihat tawa Sena menjadi senyum meskipun hanya sebentar.


"Tidak apa, kakak kan sudah seperti keluarga kami, jadi ya no problem."


Sena hanya manggut-manggut. Dirinya membuka laptop nya untuk mulai bekerja, sebelum turun untuk mengamati para pekerja lapangan.


"Yasudah aku permisi, nanti di omel papa kalau lama-lama disini." Kemal pun berdiri.


"Oke.. terima kasih." Sena menatap kemal dengan senyum tipis.


"Hm..jangan lupa di makan kak."


Kemal pun pergi dari ruangan Sena, dan kembali ke ruangannya di sebagai wakil direktur, yaitu papanya sendiri yang pasti akan di gantikan dengan Sena.


Sena kembali dengan pekerjaannya, dirinya tidak ingat jika kemarin melihat surat peringatan untuk salah satu pegawainya yang sudah tidak masuk selama tiga hari.


Dan surat itu tergorok di tempat sampah, karena pagi-pagi OB membersihkan ruangan nya dan melihat ada kertas tergorok di lantai lalu membuangnya.

__ADS_1


__ADS_2