Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Setelah memperbaiki penampilannya yang sempat acak-acakan, kini Sena sudah kembali ke tempat di mana papanya dan Ren duduk.


"Sayang wajah kamu kenapa?" Tanya Bimo yang melihat wajah putrinya kesal.


"Tidak apa Pah, hanya terjadi insiden kecil." Sena tersenyum sekilas.


"Ya sudah ayo makan.."


"Hm.."


Sena pun segera memakan menu yang sudah di pesan, dan ketika matanya tak sengaja melihat ke arah pojokan tiba-tiba dirinya tersedak.


Uhuk...uhuk..


"Kak, pelan-pelan dong.." Ren memberikan minum, dan Bimo mengelus punggung Sena.


"Kamu lihat apa sayang." Bimo pun mengedarkan pandangannya ketika menyadari putrinya melihat sesuatu.


"Em..tidak ada." Sena menegak minuman yang di berikan Ren hingga tandas.


'Pria kurang ajar..!!'


Sena menatap tajam pria yang sudah kurang ajar mencium nya dengan paksa di dalam toilet, dan barusan apa yang dia liat membuatnya kian geram.


Pria itu dengan sengaja memberikan nya ciuman jarak jauh.


Sungguh gila bukan?


.


.


.


Hampir malam mereka baru sampai, mobil mereka memasuki halaman rumah yang lumayan besar


"Ayo..kita sudah sampai." Bimo keluar lebih dulu, di ikuti Sena yang melihat keadaan sekitar.


Ren keluar dari mobil dengan merenggangkan otot-otot nya perjalanan kali membuat tubuhnya pegal semua.


Ketika sampai di ambang pintu, tiba-tiba pintu besar itu terbuka menampakan pria yang seumuran dengannya.


"Welcome bro.." Yuda menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan suka cita dengan merentangkan tangannya.


"Lu kayak ABG Yud, ingat kita sudah berumur." Bimo menyambut pelukan Yuda.


"Umur hanya angka man, tapi jiwa kita masih muda." Yuda terkekeh menepuk punggung Bimo. "Gue rindu lu Bim." Ucapnya dengan suara sedikit serak.


Sekian lama mereka tidak pernah bertemu, meskipun sering berkomunikasi lewat ponsel namun kerinduan persahabatan pun masih terasa.


"Gue juga."

__ADS_1


Ehem


"Ren juga kangen loh sama Om." Ucap Ren yang menampilkan gigi rapih nya dengan cengiran.


"Haha..bocil lu udah segede ini." Yuda pun beralih pada Ren untuk memeluknya.


"Umur mendewasakan ku Om, bukan membesarkan ku." Ren tersenyum lebar.


"Apa kabar nak." Ren berpindah pada Sena yang hanya tersenyum, berbeda dengan Ren yang sangat antusias.


"Baik Om." Sena mencium tangan Yuda.


Yuda pun mengelus kepala Sena. "Ayo masuk Tante mu pasti senang melihat kalian.


Yuda merangkul pundak Bimo untuk berjalan lebih dulu masuk kerumah, dan kedua anak kembar itu mengikuti dari belakang.


"Sayang, mereka sudah datang." Yuda berseru ketika sampai di ruang tengah, di mana ruangan itu dekat dengan dapur.


Wanita cantik yang usianya masih tiga puluhan itu keluar dengan senyum lebar di wajahnya.


"Ya Tuhan keponakan Tante." Gina dengan wajah berbinar mendekati Sena dan memeluk gadis itu erat, bayangan Alena kembali hadir ketika melihat Sena yang seperti Alena masih hidup.


"Apa kabar nak." Ucap Gina yang masih memeluk Sena erat.


"Baik Tante, Tante apa kabar." Sena tersenyum, tangannya mengelus punggung Gina ketika menyadari suara Gina terdengar parau.


"Baik sayang, sangat baik." Gina tersenyum dengan air mata mengalir.


Gina melonggarkan pelukannya dan mencium kening Sena dengan senyum kerinduan di wajahnya. "Kamu sudah besar sayang, Tante pangling sama kamu." Ucapnya dengan nada senang di iringi air mata.


"Sena makin cantik ya Tante." Ucap Sena sengaja untuk membuat Gina tertawa.


"Em.." Gina mengangguk dan kembali memeluk Sena.


"Perasaan dari tadi aku selalu di lupain deh, apa aku tidak tidak terlihat." Celetuk Ren di samping keduanya.


"Ya ampun jagoan, udah besar." Gina pun melepas pelukannya dan pindah memeluk Ren.


"Aku di kasih makan Tante, makanya tumbuh besar."


Mereka semua tertawa, memang Ren yang lebih memiliki sifat Alena yang ramah. Berbanding dengan Sena yang hanya bicara apa adanya.


"Apa kabar Bim." Gina menyapa Bimo setelah lepas kangen dengan kedua anak kembarnya.


"Baik, seperti yang kamu lihat." Bimo tersenyum tipis.


"Tante Ren sudah lapar." Ucap Ren yang mengelus perutnya.


"Ya ampun Tante lupa sayang, karena asik mengobrol." Gina pun merangkul Ren mengajak mereka untuk makan malam bersama.


Yuda memutuskan tinggal di suka bumi setelah menikah, karena Gina hanya sebatang kara dirinya mengajak Gina tinggal disini, begitu juga pekerjaannya di kota ini.

__ADS_1


Kedua orang tuanya pun sudah meninggal lima tahun lalu di LN jadi kedua nya sama-sama yatim piatu.


"Di mana kemal." Tanya Bimo tak melihat putra Yuda.


"Tadi keluar katanya mau membeli sesuatu, Kamil juga ikut." Jawab Yuda yang duduk di kursi kepala keluarga, sedangkan Bimo dan anak-anak duduk di samping kanannya.


"Besok pagi kita lihat apartemen tempat tinggal kamu Sen, jika kamu tidak mau tinggal disini." Ucap Yuda pada Sena, mereka membujuk Sena untuk tinggal di rumah Yuda, tapi Sena menolak beralasan ingin hidup mandiri, dan tidak mau menyusahkan orang lain.


"Iya Om, aku harap Om membantuku untuk mengenal pabrik itu." Ucap Sena dengan wajah datar nya.


"Tentu sayang, Om akan mendampingi kamu sampai kamu bisa dan Om yakin melepaskan kamu nanti." Yuda tersenyum.


"Terima kasih Om."


"Selamat malam." Suara dua pria berbeda umur itu pun mengalihkan pandangan mereka.


"Kemal, Kamil.." Ren yang lebih dulu menyapa teman kecilnya itu, meskipun beda satu tahun lebih tua kembar tapi mereka akrab.


"Hay Ren." Kemal mendekati Ren dan salam ala pria sejati. "Makin ganteng lu, mentang-mentang mau jadi CEO." Gurau Kemal.


"Ah, bisa ae lu." Ren pun tertawa.


"Hay Kak.." Kemal menyapa Sena dengan panggilan kak.


"Hay.." Sena hanya menjawab seperlunya.


"Kamil Salim nak, kenapa bengong." Ucap Gina yang melihat putra keduanya itu hanya bengong.


"Eh..hehe..maaf ma Kamil terpesona dengan kak Sena." Kamil pun cengengesan tidak jelas. Pria remaja yang masih berumur enam belas tahun itu.


"Ya Tuhan dia selalu begitu kalau melihat wanita cantik." Gina menepuk keningnya sendiri.


Mereka semua makan malam dengan hangat, diselingi dengan obrolan ringan seputar menanyakan kegiatan dan kesibukan mereka di Jakarta tanpa menyinggung mendiang Alena, karena pastinya mereka semua masih merasa kehilangan sosok wanita baik yang belum lama mereka kenal dan sudah pergi untuk selama-lamanya.


"Oh gue lupa, apa kabar Alisa, gue denger dia tinggal di LN sama suaminya." Tanya Yuda ketika mereka semua berbincang di ruang keluarga setelah makan malam, momen seperti ini langka dan mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kebersamaan ini.


"Ya, setelah menikah lima tahun lalu dia langsung di boyong suaminya ke Jerman." Ucap Bimo menjelaskan.


"Bagus lah, gue sempet ragu kalau dia bisa berpaling dari hatinya buat lu." Yuda melirik Bimo dengan senyum meledek.


Gina duduk dengan Sena, mengajak Sena mengobrol banyak hal, mereka tidak menghiraukan kedua pria berumur yang masih bugar dan tampan di usianya.


Ren dan Kemal pun duduk di bawah dengan bermain PS, kedua pria itu seperti masih remaja, bermain PS dengan temanya. Sedangkan Kamil sudah masuk ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah.


Bimo hanya menggeleng dan tersenyum. "Dia udah gue anggap adik gue sendiri, sejak dia masih kecil, bodohnya dia malah menaruh perasaan sama gue." Bimo terkekeh, mengingat bagai mana Alisa menunjukan perhatiannya sejak gadis itu masuk SMA dan semakin lama Alisa semakin sering mendekatkan dirinya kepadanya, lambat laun Bimo yang menyadari sikap Alisa yang menunjukan perhatian kepada pria lawan jenis dan bukan sebagai kakaknya pun merasa terusik.


Hingga dengan terpaksa Bimo pun berbicara dan mempertegas hubungan mereka, meskipun tidak tega menyakiti hati gadis itu, tapi harus Bimo lakukan karena dirinya tidak mungkin memberi harapan yang jelas-jelas mustahil.


Perkataanya ternyata tidak mengubah sudut pandang Alisa padanya, gadis itu masih terus berusaha merebut hatinya dengan perhatiannya, hingga Bimo pun jengah dan memilih menghindar dan menjauhinya, agar membuat Alisa sadar jika yang dia lakukan tidak akan mengubah perasaanya.


Hingga pada akhirnya Alisa yang sudah berumur dua puluh enam tahun pun menyerah, untuk rasa cintanya pada Bimo, dan mendapatkan kekasih rekan kerja Bimo di kantor, karena Alisa bekerja di kantor Bimo di divisi pemasaran otomatis dirinya sering bertemu para klien-klien Bimo.

__ADS_1


"Ya, siapa suruh lu terlalu baik sama anak gadis orang, jadi ya gitu baperan." Ucap Yuda tertawa.


"Sialan lu."


__ADS_2