
Brakk
Richard menggebrak meja didepan dua orang anak buahnya.
"Jadi kalian tidak berhasil..!!" Ucapnya dengan berapi-api, apalagi mendengar jika anak buahnya yang lain tertangkap.
"T-tidak tuan."
"Kalian semua tidak pecus." Richard menatap tajam keduanya dan mengeluarkan senjata dari balik lacinya.
Dor
Dor
Dua tembakan Richard layangkan kepada dua orang tadi, tepat di dada samping kiri, dan mereka langsung tergeletak tak berdaya di lantai.
"Kau tidak akan bisa selamat dariku." Richard menatap senjatanya dengan penuh kemarahan.
Kerena perbuatan Aaron semua miliknya hancur, bahkan istri yang menemaninya pergi meninggalkan nya dengan pria yang lebih kaya, karena hal itu Richard begitu marah dan dendam kepada Aaron, dia berusaha untuk membalas rasa sakit hatinya yang telah dia ciptakan sendiri namun menyalahkan orang lain.
Kalau saja dia tidak berbuat licik pasti ini tidak akan terjadi, dan perusahaannya pun tidak akan mengalami kebangkrutan sampai dititik Nol, ternayata Richard salah mencari lawan.
__ADS_1
Lawan yang dia tantang tidak sepadan, dengan kekuasaannya, dan kini Richard harus merasakan bagaimana hidup tanpa bergelimang harta dan keluarga yang pernah dia punya. Mereka semua meninggalkannya.
.
.
"Ar, kamu sudah sadar." Sena yang melihat Aaron membuka mata langsung tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca.
"Hm, kamu baik-baik saja." Dengan suara serak Aaron balik bertanya.
"Em." Sena mengangguk.
Aaron tersenyum, dengan mata terpejam.
"Kamu membuatku takut." Sena merebahkan kepalanya di dada suaminya, dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi jika suaminya mengalami luka parah dari ini.
"Aku baik-baik saja berkat doa kalian." Aaron mengusap kepala Sena menggunakan tangan kanannya. "Justru aku takut jika kamu yang kenapa-kenapa."
Ya, Aaron memang begitu takut jika istrinya yang terluka, apalagi mendorong Sena agar keluar dari dalam mobilnya supaya Sena bisa selamat, membuatnya juga takut terjadi sesuatu apalagi dijalan yang begitu sepi dan gelap.
"Apa twins tidak di ajak kesini?" Tanya Aaron yang mengingat putranya, rasanya dia sudah rindu tidak melihat twins baru beberapa jam saja.
__ADS_1
"Tidak, masih terlalu kecil twins kemari."
"Em, kemarilah tidur disampingku." Aaron sedikit menggeser tubuhnya agar ada tempat untuk sang istri tidur di sampingnya. Karena melihat Sena yang sejak tadi duduk membuatnya tidak tega.
Sena naik keatas ranjang yang sama dengan sang suami. merebahkan kepalanya di bahu Aaron yang tidak terluka.
"Apa kamu punya musuh." Tanya Sena dengan tiba-tiba.
"Em, mungkin hanya orang iri dengan kesuksesan ku." Aaron mengusap kepala Sena lembut. Dirinya tidak mungkin menceritakan bagaimana mereka bisa menjadi seperti ini, biarlah dirinya yang akan menyelesaikan masalah ini, dan lebih hati-hati untuk menjaga kelaurganya.
Sena mengusap dada suaminya lembut, memainkan jari telunjuknya di dada bidang Aaron membuatnya merasa jika Sena sedang menggodanya.
"Sayang apa aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Aaron dengan wajah berharap.
Sena mengerutkan keningnya, "Ini sudah malam Ar, Jagan macam-macam." Peringat Sena yang mengira jika suaminya menginginkan suatu yang aneh.
"Tidak hanya satu macam saja dan pasti akan membuatmu keenakan." Jawabnya sambil menyentuh tangan Sena untuk dia kecup dan.
"Disini, kamu sudah membuatnya bangun." Ucap Aaron ketika tangan Sena sudah berada di bawah perutnya, seketika membuat Sena membelalakan kedua matanya, merasakan si joni sudah setengah bangun. "Kamu yang harus bertanggung jawab sayang."
"Emph.."
__ADS_1