Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part124


__ADS_3

"Engh.." Alena meleguh ketika tenggorokannya terasa kering.


Bimo yang mendengar suara lenguhan kecil Alena membuka mata.


"Sayang, kamu bangun." Wajah Bimo nampak lega, setelah semalaman panik dan khawatir apalagi menemukan Alena tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.


*Flashback*


Bimo pulang dari luar kota ketika jam sudah menunjukan hampir dua belas malam. Keadaan rumah memang sudah sepi, karena dia juga tahu jika mbak Mirna dan juga suami sedang tidak ada di rumah, karena mereka sempat meminta ijin padanya juga.


Ketika memasuki rumah matanya menyusuri ruang tamu banyak gelas dan sisa makanan yang belum di bersihkan.


Pikirnya jika Alena di rumah tidak mungkin rumah menjadi berantakan seperti itu.


Ingin melihat apa yang terjadi, langkah kaki Bimo menuju dapur, meja makan nampak sama banyak sisa makanan dan piring kotor masih pada tempatnya.


"Ck. pasti Mama ngadain arisan." Gumamnya setelah sadar jika mamanya juga ditinggal disana.


Tidak ingin lama-lama Bimo segera menuju ke kamarnya untuk melihat istrinya, yang seharian ini sama sekali tidak membalas chat nya ataupun mengangkat telponnya.


Ruang kamarnya nampak gelap hanya lampu tidur yang menyala, tapi bisa dirinya lihat jika Alena tidak ada di atas ranjang.


Meraih saklar lampu, Bimo menghidupkan lampu utama, dan memang Alena tak ada di sana.


"Sayang...kamu dimana?" Karena sudah malam tidak mungkin Alena pergi dan di bawah pun dirinya tidak melihat istrinya.


Berjalan ke arah balkon, pintunya terbuka tapi Alena tak ada di sana.

__ADS_1


Wajah lelah bercampur panik, kini menghiasi wajahnya, ketika melihat Alena tak sadarkan diri didalam kamar mandi.


"Alena..!" Bimo langsung membopong tubuh Alena dengan wajah khawatir dan panik wajah Alena yang nampak pucat sekali, tidak peduli jika dirinya belum berganti pakaian Bimo segera membawa Alena ke rumah sakit.


*flashback of*


"Mas.." Suara Alena terdengar masih lemah, wajah pucat itu masih menghiasi kulitnya.


"Kamu mau minum?" Tanya Bimo.


Alena mengangguk samar.


Bimo segera mengambil gelas di atas nakas, dan membantu Alena untuk minum.


"Emm...aku dimana?" Tanya nya dengan mata samar-samar masih sangat berat untuk terbuka lebar.


Alena terdiam Sebentar ingatnya kembali dimana dirinya ingin buang air kecil tapi ketika sampai di kamar mandi tiba-tiba kepalanya terasa berputar-putar dan berat, dan pandanganya seketika menjadi gelap.


"Kenapa kamu tidak makan hm, dokter bilang asam lambung mu kambuh, karena tidak makan seharian." Bimo menatap sendu wajah istrinya, dirinya tidak menyangka jika istrinya ternyata tidak makan seharian.


"Aku gak sempet Mas, karena harus bantuin Mama masak, kasian Mama jika masak sendiri." Ucapnya dengan seutas senyum.


Bimo terkekeh dalam hati, bisa-bisa nya Alena berbohong padanya.


"Memang sebanyak apa kamu masak, sampai lupa tidak makan." Bimo berdiri dari kursinya, lalu pindah duduk di samping istrinya berbaring.


"Aku hanya bantu Mama, karena Mama yang menyelesaikan semua." Alena memeluk pinggang suaminya yang berada di samping nya.

__ADS_1


Dirinya sangat merindukan pelukan hangat Bimo, meskipun hanya sehari tidak bertemu tapi ada rasa yang kurang jika tidak memeluk tubuh suaminya.


Menghirup napas dalam Alena baru sadar jika Bimo masih mengenakan pakaian kemarin pagi.


"Kenapa hm?" Tanya Bimo yang melihat wajah Alena menatapnya.


"Kamu belum sempat ganti baju kerja." Ucapnya menatap wajah Bimo.


Bimo hanya menggelengkan kepala. "Ngak sempet sayang, liyat kamu pingsan sudah buat jantung aku mau lepas." Bimo mengecup kepala Alena, tangan menyisir rambut Alena dengan jarinya.


"Maaf." Balasnya menunduk, mengeratkan pelukannya.


Tak lama seorang perawat masuk membawakan sarapan pagi untuk Alena.


"Sarapannya nona, di habiskan dan jangan lupa minum obatnya ya." Suster itu tersenyum ramah, dan keluar setelah pamit.


Bimo meraih mangkuk yang berisikan bubur di dalamnya.


"Makan ya, aku suapi."


Alena sedikit menegakkan duduknya, tubuhnya masih lemas Bimo pun membantu.


"Lain kali jangan sampai tidak makan, meskipun pekerjaan kamu banyak.." Suapan pertama masuk ke mulut Alena. "Kamu tahu, aku lebih khawatir dan takut jika kamu kenapa-kenapa." Ucapnya lagi dengan menatap lekat wajah Alena.


"Kenapa?" Alena bertanya setelah menelan bubur yang berada di mulutnya.


"Aku lebih takut kehilangan kamu dari siapapun." Tangannya menyuapi Alena lagi. "Kamu tahu, di usiaku yang sekarang ini aku baru merasakan jatuh cinta dan pacaran setelah menikah." Jarinya mengusap sudut bibir Alena. "Aku takut kehilangan kamu, karena hanya kamu yang aku miliki, belum tentu kedua orang tuaku mengerti diriku seperti kamu." Matanya menatap lekat wajah istrinya, dadanya terasa nyeri ketika melihat wanitanya tersakiti karena Mamanya, diam bukan berarti dirinya tidak tahu, ingin melawan tapi itu mamanya yang sudah melahirkan nya ke dunia ini. Sebisa mungkin dirinya akan menjaga Alena segenap jiwa raganya, karena hanya istrinya lah yang mengerti dirinya, bukan orang lain yang egois untuk menuruti kemauan mereka.

__ADS_1


__ADS_2