
Disepanjang jalan menuju dimana Diki ditahan, wajah Alena selalu cemberut, tidak ada senyum dan suara dari istri seorang Bimo Bagaskara tersebut.
"Sayang, udah sih jangan cemberut gitu." Bimo sesekali melirik istrinya yang masih saja marah padanya.
"Aku kan udah minta maaf, plis dong yank udah jangan ngambek." Wajah Bimo dibuat semenyesal mungkin agar istrinya itu mau memaafkannya.
Bagaiman tidak kesal jika masuk hotel yang Bimo pesan dari jam sepuluh pagi, keluar hotel pada pukul empat sore, Alena yang digempur habis oleh suaminya kesal dan menunjukan protesnya tidak mengajak Bimo berbicara.
"Yank.." Bimo menggenggam tangan Alena, namun dengan cepat Alena menolaknya.
"Maaf geh yank, janji gak akan ngulangi." Wajah Bimo sudah terlihat frustasi yang sejak tadi didiamkan oleh Alena.
Dirinya yang sadar tidak bisa hanya sebentar jika sudah menyentuh tubuh istrinya. Baginya tubuh Alena adalah candu nikotin yang membuatnya mabuk kepayang.
Keduanya berada didalam mobil melanjutkan rencana awal untuk mengunjungi Diki.
Alena masih diam dengan memalingkan wajahnya menatap pemandangan luar dari jendela kaca mobil. Sejujurnya dibibirnya sudah gatal untuk tertawa, melihat wajah suaminya yang begitu frustasi dan menggelikan ketika memohon maaf. Salah siapa membuat dirinya kelelahan dan berakhir hingga sore, padahal dirinya ingin mengajak Alisa bermain di sore hari, namun malah terjebak dengan suami super mesumnya itu di kamar hotel.
Walau begitu Alena juga menyukai dan menikamati nya, dan berakhir dengan rasa kesal.
Mobil Bimo berhenti diparkiran, keluar dari mobil Bimo ingin membukakan pintu untuk Alena namun istrinya itu malah sudah keluar lebih dulu.
Bimo hanya menghela napas, baru kali ini dirinya merasakan susahnya membujuk Alena agar tidak lagi marah, tidak akan lagi dirinya membuat istri cantiknya itu kesal, kalau tidak ingin kehilangan jatah malam nya.
"Yank.." Bimo menarik tangan Alena, lalu memeluknya masih dekat mobil parkir.
__ADS_1
"Bim, lepas." Alena melihat beberapa orang yang berjalan melihat kearah mereka. "Malu diliatin banyak orang." Alena menggerakkan tubuhnya biar bisa lepas, namun Bimo malah mengeratkan nya.
"Janji jangan marah lagi." Suara Bimo begitu mengiba. "Belum satu jam kamu marah dan diemin aku, hati aku nyeri yank, jangan lagi..aku minta maaf jika aku keterlaluan." Bimo mengecup kening Alena. "Maaf." Matanya menatap wajah Alena lekat.
Alena menghela napas, dirinya juga tidak tega mendiamkan suami menyebalkan yang sayangnya tampan. "Hm.." Ucap Alena singkat.
"Hm..apa?" Bimo menatap Alena kesal karena jawaban Alena kurang memuaskan.
"Apa aja." Alena melenggang masuk tidak perduli wajah kesal sang suami.
Didalam Alena dan Bimo berjalan menuju dimana Diki berada, diantar oleh polisi yang bertugas.
Bisa Alena dan Bimo lihat jika Diki meringkuk di pojok ruangan kecil, dengan pandangan lurus dan kosong, Diki sengaja di berikan tempat terpisah dan hanya sendiri, karena takut jika di tempatkan dengan pelaku lain makan bisa membahayakan mereka.
"Jika kondisinya sedang baik beliau bisa diajak bicara, jika sebaliknya beliau akan mengamuk." Ucap polisi itu menjelaskan.
"Mas." Alena menatap wajah suaminya dari samping yang memperhatikan Diki.
Diki mendongak, ketika mendengar suara orang berbicara, dan matanya membulat ketika melihat wanita yang selalu dirinya sebut dan rindukan.
"Alena.." Diki langsung berdiri menghampiri Alena yang berdiri di balik besi jeruji.
"Lena." Tangan Diki ingin menggapai tangan Alena namun tak sampai, wajahnya terlihat bahagia. "Lena Mas merindukanmu, tolong maaf kan Mas." Mata Diki mengeluarkan air mata, dirinya menangis melihat Alena didepanya yang sudah Ia sakiti.
Alena menatap Diki iba, dalam hatinya sudah tidak memiliki perasaan kepada Diki, namun melihat keadaan Diki yang sekarang dirinya merasa kasian.
__ADS_1
"Lena, jangan tinggalin aku, tunggu aku. Aku janji akan nikahi kamu." Diki terus berucap melihat Alena hanya diam tak bersuara.
"Lena katakan sesuatu jika kamu bersedia menungguku." Kedua tangan Diki ingin meraih tubuh Alena, dan berhasil menarik baju yang Alena pakai, hingga Alena terkejut.
"Lepas.!" Bimo menyentak tangan Diki yang menarik baju Alena kuat, hingga Alena panik dan takut.
"Kamu..!!" wajah Diki yang awalnya sendu kini berubah marah, ketika melihat Bimo.
"Jangan dekati calon istri saya, pergi kamu..!! gara-gara kamu saya masuk penjara, dan gara-gara kamu Alena meninggalkan saya..!!" Diki berteriak memaki Bimo, kedua tangannya mencekram erat jeruji besi dan menggoncang nya dengan kuat. Marahnya semakin memuncak ketika Bimo memeluk tubuh Alena, didepan nya.
"Siallan..!! brengsek kamu..!!" Tatapan Diki semakin berkilat marah dan tajam.
"Maaf sebaiknya anda keluar dulu, untuk ketenangan beliau dan penghuni lainnya." Ucap petugas itu yang sudah melihat Diki mengamuk, dan menyuruh Bimo dan Alena keluar.
Bimo menyuruh Alena menunggu di mobil, dirinya berbicara kepada petugas yang menjaga Diki untuk menanyakan beberapa hal, tentang keadaan Diki.
Setelah lima belas menit Bimo sudah kembali ke mobil dan duduk di balik kemudi.
"Sudah Mas." Tanya Alena menatap suaminya penasaran.
Mereka sempat berbicara tentang langkah apa yang akan diambil untuk kebaikan Diki.
"ya, besok petugas akan membawa Diki untuk di rehabilitasi di tempat yang seharusnya." Bimo menghela napas, sejujurnya dirinya takut jika Diki hanya pura-pura dan akan membahayakan Alena.
"Semoga Dia bisa sembuh."
__ADS_1