
Bimo menggendong Alena seperti koala, keluar dari ruang kerja menuju kamar nya tanpa melepas pangutan bibir keduanya.
Alena yang sudah terbawa suasana tidak sadar sudah berada di dalam kamar dan terlentang di atas tempat tidur.
Leguhan Alena semakin terdengar ketika Bimo menyentuh sesuatu yang sensitif di bagian atasnya meskipun masih terbalut pakaian Alena sudah merasakan gelora yang begitu menggebu.
"I love you." Bimo mengecup bibir Alena setelah dirinya berhasil melepas baju Alena dan membuangnya kesegela arah.
"Emph.." Alena mengikuti permainan Bimo di bibirnya, keduanya membelit lidah dan bertukar Saliva, hingga Alena tanpa sadar tangan Bimo sudah berhasil membuka pengait b*r*a nya.
"Ahh.." Suara desaahann Alena membuat Bimo semakin gencar membuat tanda merah disekitar leher dan dada, tangannya meremas dan memilin buah dada Alena yang sudah menegang.
Keduanya larut dalam gelora napsu yang begitu memabukkan, Bimo yang sudah tak tahan segera melepas semua yang dirinya kenakan, dan menarik celana bawah Alena yang masih menempel.
Tangan Bimo melebarkan kedua kaki Alena, hingga nampak pemandangan yang begitu menggoda untuk kedua kalinya.
"Emhh..sayang.." Alena merintih ketika merasakan hangat nafas Bimo meniup lembah surgawi miliknya.
Cup
Satu kecupan disusul dengan sentuhan lembut di bibir bawah Alena, membuat dirinya semakin merasa panas.
"Ough..sshh.." Kaki Alena bergetar tangannya menekan kuat kepala Bimo ketika pelepasan itu begitu cepat datang, dengan Bimo yang begitu menggebu menyesap kuat miliknya dibawah sana tanpa ampun.
Napas Alena memburu dadanya naik turun dengan mata terpejam, merasakan kenikmatan gelombang pelepasan yang kedua kali pernah dia rasakan.
"Kamu siap sayang." Wajah Bimo begitu tampan ketika menatap dirinya dengan penuh kabut gairah.
Alena menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Melihat Alena menggangguk membuat Bimo tersenyum, dan kembali meluumatt bibir Alena ganas.
Alena mencekram bahu Bimo ketika dibawah sana milik nya merasakan sentuhan benda tumpul yang ingin memaksa masuk dengan keras.
"Egh.." Alena memejamkan mata dengan alis menukik tajam ketika benda keras melesak masuk ke dalam intinya.
"Argh..sa-kit." Tanpa membuka mata tangan Alena mencekram erat bahu Bimo hingga sedikit membuat Bimo menahan rasa perih yang Alena berikan.
Bimo mengulum bibir Alena dengan rakus, demi mengurangi rasa sakit yang mungkin akan membuat Alena menjerit.
Bles
"Arrgghh.." Benar saja Alena memekik dalam cumbuan Bimo yang menahan nya dengan luma*tan dan kulumman bibirnya.
__ADS_1
Bimo mendiamkan miliknya, agar Alena bisa menetralisir rasa sakitnya sedikit menghilang.
"Maaf." Bimo mengusap sudut mata Alena yang basah karena menahan rasa perih dan sakit menjadi satu.
Alena membuka matanya menatap wajah tampan suaminya yang memelas dan berkabut gairah menjadi satu. Manik mata hitam pekat itu mampu membuat jantung Alena berdebar-debar.
Cup
Alena mengulum bibir Bimo lebih dulu, tangan nya menyentuh dada bidang suaminya.
Bimo menyambut bibir Alena dengan senang hati, perlahan dirinya menggerakkan tubuhnya di bawah sana.
"Emm...shh."Alena mulai mengeluarkan suaranya ketika rasa perih namun juga nikmat menjadi satu dan semakin membuatnya merasakan lebih dari itu.
Bibir Bimo menyusuri tubuh istrinya dengan kecupan sesapan dan gigitan di mana saja, meninggalkan bekas kepemilikan yang begitu banyak. Bermain dengan gemas di dada Alena Bimo melintir dan menggigit pelan pucuk kecil Alena.
"Auws..jangan digigit yank." Alena merasa sakit namun juga mendeesahh ketika bibir Bimo mengigit pucuk dadanya dan dibawah sana menyodok milik nya dengan kuat.
Bimo semakin cepat menggerakkan pinggulnya, hingga membuat Alena menggerang dan men*desah keras.
"Nghh..milikmu enak sayang..ahh.."Bimo semakin bergerak tak terkendali ketika miliknya di cengkram begitu erat di bawah sana.
"Ahh..ahh..shh aku.."Alena mencekram sprei dengan kepala mendongak namun kakinya melingkar erat di pinggang Bimo.
"Arghh..hah shh." Alena meliukkan tubuhnya yang bergetar dengan bibir menggerang kuat.
Bimo tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang mendapat pelepasan.
"Berbalik sayang.." Bimo membantu Alena yang masih lemah untuk berbalik memunggungi nya.
"Nghhh...sshh.." Suara Alena tertahan di dalam bantal karena menahan dessahann yang keluar dari bibirnya.
Bimo menusuk milik Alena dari belakang, sungguh ini adalah rasa yang begitu memabukkan untuk dirinya pertama kali menyentuh seorang wanita, dan wanita yang dirinya gagahi adalah istri sahnya.
Gerakannya semakin cepat ketika miliknya mengetat di dalam sana.
"Auhh Bim.." Alena kembali mengeluarkan suara erotis nya ketika Bimo menghentak nya semakin kuat dan dalam, hingga perutnya terasa penuh.
"Ahh..sebentar sayang..Nghh." Tangan Bimo mencekram bahu Alena, dan tangan kanannya meremas bokong Alena.
"Uhh..aku..emmh.." Alena semakin merancau Kartika dirinya ingin kembali meledak.
"Bersama sayang.." Gerakan Bimo semakin tak terkendali ketika dirinya merasakan miliknya ingin meledak di dalam sana
__ADS_1
"Emh..ahhh" tubuh Alena bergetar kembali mendapat pelepasan.
"Ahh..Alenaaa.." Bimo menggerang menyebut nama istrinya ketika pelepasan begitu dahsyat menyembur ke dalam rahim istrinya.
Alena merasakan rahimnya terasa hangat dan kedutan milik Bimo masih terasa.
Tubuh Alena lemas dengan napas memburu, Bimo ambruk di atas tubuh Alena.
Keduanya sama-sama saling merasakan debaran yang begitu menggelora, untuk pertama kali bagi keduanya merasakan indahnya surga dunia.
Kaki Bimo menarik selimut hingga menyentuh tangannya lalu menyelimuti tubuh keduanya yang polos.
Cup
"Terima kasih sayang.. Istirahat lah, sebelum di bawah sana bangun lagi." Ucap Bimo dengan senyum terus mengembang, dirinya sangat beruntung memliki Alena.
Alena tidak menjawab hanya tersenyum dengan napas yang masih berkejaran.
Menghadap suaminya Alena memejamkan mata memeluk tubuh pria yang sudah memiliknya seutuhnya.
"Aku juga mencintaimu Bim-Bim." Ucap Alena lemah sambil mengecup dada bidang suaminya.
"Jangan menggodaku sayang, aku tahu di bawah sana milikmu masih sakit." Ucap Bimo yang mulai terpancing kembali saat Alena mencium dadanya.
Wajah Alena mendongak dengan senyum. "Jangan sekarang." Ucap nya.
Bimo menatap lekat manik mata coklat Alena dengan penuh cinta. "Jika kamu memancing aku tidak janji."
Alena tidak menanggapi melainkan mengeratkan pelukannya mencari kenyamanan dalam dekapan suaminya.
"Tidurlah." Bimo mengecup kepala Alena, ini adalah pertama bagi Alena dirinya tidak mau membuat istrinya kesakitan, untuk sekarang tapi tidak tau nanti. Wahhh
Mendengar dengkuran halus Alena, Bimo mengeratkan pelukannya dan ikut terpejam menyusul istrinya yang kelelahan setelah permainan panas mereka yang hampir satu jam lamanya.
Kini keduanya merasakan indahnya malam pertama dengan hati suka cinta, semoga cinta mereka selalu memberi kebahagiaan.
Pernikahan adalah awal dari kehidupan babak yang baru dimulai, keduanya berharap mereka selalu dipersatukan dalam rumah tangga yang bahagia.
.
.
Huh..hah..huh..hah.. capek pusUp nya🤣
__ADS_1