
"Semuanya tolong beri perhatian nya." Leina menepuk tangannya tiga kali.
"Malam ini adalah malam spesial saya untuk anak saya Bimo Bagaskara, karena hari ini putra saya sedang berulang tahun." Ucap Leina dengan senyum mengambang bahagia.
Bimo hanya berwajah datar, dirinya tidak suka menjadi para tamu undangan.
Siera yang melihat Bimo pun langsung berdiri sedekat Leina.
"Saya memberikan kejutan pesta karena memang putra saya tidak pernah mau di buatkan pesta atau dirayakan. Tapi hari ini tidak ada penolakan." Leina menatap putranya yang hanya menatapnya datar. "Dan semua ini juga atas bantuan wanita cantik dan baik yang ada di sebelah saya ini, namanya Siera Mahren." Leina merangkul lengan suara dengan senyum bahagia. "Karena dia adalah wanita yang spesial malam ini."
Deg
Hati Alena mencolos mendengar ucapan diakhir ibu mertuanya, meskipun hatinya siap untuk menerima segala apa yang akan terjadi, tapi mendengar dan melihat kenyataan itu langsung masih membuat hatinya sakit dan rapuh.
Rendy yang berdiri disamping Alena mencoba memberi Alena semangat dengan mengelus lengan menantunya yang di rangkul nya.
Siera semakin mengembangkan senyum karena mendapat tepuk tangan dan beberapa orang yang berbisik memujinya masih Ia dengar.
Bimo menatap datar dengan pandangan lurus menatap Siera.
"Dan malam ini khusus Siera persembahkan pesta untuk Anak saya Bimo Bagaskara." Leina menarik Siera untuk berdiri disamping Bimo.
Semua tamu yang hadir bertepuk tangan banyak dari mereka yang memuji kecocokan keduanya tampan dan cantik, apalagi Siera adalah seorang model yang lumayan terkenal.
"Baiklah kita mulai acaranya Sekarang." Ucap Leina yang menyuruh Bimo mendekat dan berdiri didepan meja yang sudah ada sebuah kue ulang tahun.
Bimo masih diam dan belum memberikan respon apa-apa, meskipun Mamanya sudah mengumumkan sesuatu yang menyakiti hati istrinya.
Alena hanya menunduk dengan hati nyeri, dirinya sama sekali tak dihargai dan tak dianggap ada sama sekali.
Menatap wajah suaminya didepan sana, Alena tersenyum kecut, Bimo tidak ingat pada dirinya.
__ADS_1
Rendy sudah ikut bergabung dengan istrinya karena Leina memanggilnya.
Alena bisa melihat dengan jelas jika Ibu mertua dengan wanita bernama Siera itu tersenyum bahagia.
"Sayang, berikan potongan pertama untuk Siera." Leina berkata dengan senyum mengembang, bahkan Alena bisa mendengar ucapan mertuanya yang menambah perih dihatinya.
Berdiri seorang diri dan hanya melihat pemandangan keluarga yang sepertinya sangat harmonis dan bahagia jika mereka bersatu, Alena hanya bisa menahan gejolak didadanya.
Berjalan menuju toilet wanita, Alena menumpahkan semua sakit dihatinya dengan menangis di dalam toilet.
Dirinya tidak tahu harus bagaiman, sepertinya sangat sulit untuk meluluhkan hati Mamanya Bimo.
Apalagi Siera jika dilihat memang lebih cocok dengan suaminya, selain cantik dan pintar Siera juga dari keluarga yang terpandang.
Alena mencuci wajahnya setelah merasa hatinya lebih baik.
"Maaf Mas, jika aku bukan wanita baik seperti pilihan Mama kamu, tapi aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk mu." Alena menatap pantulan wajahnya di cermin dengan senyum tulus.
Apalagi tatapan tajam dari kedua wanita yang seakan mau memakannya hidup-hidup.
"Kenalkan wanita yang sangat saya cintai lebih dari hidup saya, dialah istri saya Alena." Bimo mengulurkan tangannya dengan senyum mengambang bahagia. Berbeda dengan Alena yang syok mendengar perkataan Bimo.
"Untuk Mama terima kasih sudah sibuk menyiapkan acara untuk Bimo, dan yah..meskipun Mama tahu seperti apa anak Mama ini, it's oke aku hargai itu." Bimo merangkul pinggang Alena posesif.
"Kamu keterlaluan Bimo.!!" Hardik Leina dengan wajah marah, pesta yang dirinya dan Siera buat malah untuk menunjukan dan mengumumkan jika Bimo sudah memiliki istri seperti Alena, yang memang kelasnya jauh dari Siera.
"Mah..sudah jangan buat malu sendiri." Rendy mencoba menasehati namun sama sekali tak mempan.
"Papa, bela terus wanita tak di harapkan itu terus hah." Leina menatap Rendy tajam, dirinya tidak perduli jika semua orang melihat nya, amarahnya sudah memuncak ketika Bimo mengumumkan jika dirinya memiliki wanita yang sangat dia cintai yang sudah menjadi istrinya, hal itu membuat Alena meradang karena dirinya sudah menggadang Siera untuk pendamping Bimo, dan apa kata kedua orang tua Siera jika putri satu-satunya dipermalukan di depan orang banyak dan mereka semua tahu dari mana asal usul keluarga Siera.
"Kamu..!!" Alena menunjuk wajah Alena dengan jari telunjuknya dan tatapan tajam dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Nyonya saya_"
Plak
"Mah..!!"
"Mamah..!!"
Rendy dan Bimo bersamaan membentak Leina. Ketika tamparan keras mendarat di pipi Alena.
Leina menatap sinis putra dan suaminya yang baru saja membentaknya. "Kalian berani membentak ku."
"Mah_"
"Diam..!!" Leina berteriak ketika Rendy ingin bicara. "Baiklah jika kalian lebih memilih wanita sialan itu." Leina pergi dengan amarah yang membumbung tinggi, dirinya tidak menyangka suami dan anaknya tega membentaknya di tempat umum.
"Sayang.." Bimo menangkup kedua wajah Alena. "Maaf." Satu kecupan dirinya berikan dibagian pipi yang terkena tamparan.
Alena hanya tersenyum dan menggeleng, sekuat hati dirinya tidak akan menunjukkan rasa sakitnya di depan suaminya.
Rendy mengejar istrinya yang keluar dengan keadaan marah, meskipun begitu Rendy tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya.
Siera menatap sinis dan tersenyum menyeringai, melihat mereka bertengkar.
'Last play.'
.
.
Sabar...author lagi demen sama orang sabar😂
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, sebelum kehilangan jejak author...ehhðŸ¤