
Hari-hari yang mereka lalui terasa begitu bahagia dan menyenangkan, kelurga yang begitu hangat dan harmonis pun Alena rasakan satu bulan terakhir.
Kini usia kandungannya tinggal menunggu hari dimana kedua buah hati mereka akan hadir. Semua keluarga nampak begitu antusias apalagi sang Mama mertua yang begitu perhatian dan peduli padanya, bahkan semua perhatian dan kasih sayang Leina begitu banyak tercurah padanya.
Entah kebaikan apa yang Ia lakukan hingga mendapatkan keluarga yang sangat begitu menyayanginya, dirinya sangat beruntung sekali.
Alena duduk di depan meja riasnya dengan sebuah buku dan pena di tangannya.
Tangan itu menggerakkan pena bertinta hitam di atas kertas putih yang masih bersih.
Tuhan..terima kasih engkau telah memberikan hamba mu ini keluarga yang begitu baik dari segalanya...
Dan terima kasih engkau telah mempertemukan kami...
Terima kasih sudah memberikan waktu bahagia ini begitu cepat, karena pada akhirnya kami mendapatkan restu dari Mama Leina...
Mama yang awalnya belum bisa menerima ku yang masih banyak kekurangan,
Dan sekarang aku bahagia karena Mama merestui kami...
Tak lupa untuk suami ku tercinta, terima kasih engkau telah hadir di kehidupan ku, kehadiran yang tidak pernah aku sangka, kamu pria berhati malaikat untuk ku...
Cintamu yang tulus, kebaikan yang kamu lakukan mampu membuat hati ini tersentuh dan berakhir memberikan cinta ini...
Aku sangat bahagia bisa mengenal mu Mas, dan merasakan betapa besar cinta yang kamu berikan padaku.
Seandainya Tuhan mengijinkan, aku ingin hidup lebih lama dengan mu, menemanimu hingga sisa akhir hidup ini.. membesarkan buah hati kita bersama, melihat mereka tumbuh dewasa dan menemukan kebahagiaan mereka masing-masing...
Semoga saja Tuhan mengabulkan permintaanku.
^^^"Salam sayang, aku sangat mencintaimu..."^^^
^^^"Bimo Bagaskara"^^^
...****************...
"Sayang sudah siap?" Bimo muncul dari balik pintu.
"Iya mas.." Alena menutup buku di tangannya, dan memasukannya ke dalam laci kembali.
"Kamu sedang apa hm." Bimo memeluk tubuh istrinya yang masih dalam posisi duduk.
"Tidak apa-apa, mau berangkat sekarang?" Tanya Alena menolehkan wajahnya agar melihat wajah suaminya yang menempel pada pipinya.
"Hm.." Bimo hanya berdehem, matanya terpejam merasakan sentuhan lembut tangan Alena di pipinya. "Rasanya ingin mengurung mu saja di kamar." Ucapnya setelah membuka mata, menatap wajah istrinya seakan tak pernah bosan, mata coklat itu hidung mancung, dan bibir tipisnya membuatnya tak mampu berpaling.
"Semalam sudah membuatku tak bisa tidur, dan sekarang kamu masih mau mengurungku..jahat kamu Mas." Alena memanyunkan bibirnya, memukul dada suaminya pelan.
Semalam keduanya memadu kasih hingga lupa waktu, jika Alena tidak menghentikan kegiatan suaminya, karena perutnya terasa kram, bahkan menjelang pagi pun Bimo kembali melancarkan aksinya benar-benar dirinya merasa sangat puas dan tidak mau berhenti.
"Tapi kamu memang membuatku tak bisa berhenti sayang." Bimo mencium bibir tipis itu, menyesap dan memangut nya untuk sesaat.
"Mas..engh..nanti kita telat." Napas Alena sedikit tersengal, karena Bimo mencumbunya dengan rakus.
"Kenapa rasanya jadi malas." Bimo mendesah kasar, mencoba menetralkan degub jantung dan napsu nya yang tiba-tiba saja terpancing.
"Apa kamu juga akan seperti ini jika dengan wanita lain." Entah mengapa bibir Alena meluncur pertanyaan itu.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu." Bimo menatap Alena kesal.
"Em..tidak apa, hanya sedang berfikir seperti itu." Ucapnya dengan senyum manis, senyum yang selalu suaminya dapatkan setiap hari, jam dan menit.
"Senyum mu selalu membuatku tergoda sayang." Bimo kembali memajukan wajahnya, meraup bibir yang baru saja Ia rasakan, rasanya tidak ingin melepaskan barang sedetik saja, dirinya hanya ingin menikamati nya terus dan terus tanpa rasa lelah.
Dear istriku...
Terima kasih engkau telah membuat hari-hari ku begitu indah dan berwarna..
Terima kasih sudah hadir menemani hidupku yang sunyi dan sepi, kamu adalah anugrah terindah yang aku miliki..
Menjadi suamimu adalah kebahagiaan untuk ku, karena kamu alasanku untuk bahagia..
Jika pun tuhan mengambil kita dari dunia ini, aku memilih pergi lebih dulu, agar aku tetap masih bisa melihatmu bahagia dari atas sana...
Sayang, terima kasih telah memberikan kehidupan yang begitu indah, engkau telah menghadirkan dua malaikat kecil untuk menemani hari-hari tua kita nanti...
Doa ku hanya satu, melihat kalian bahagia hingga dimana kalian menemukan kehidupan di masa mendatang.
^^^I love you..Alena Adisthi^^^
^^^"Lucky husband to have you"^^^
^^^(Suami yang beruntung mendapatkan mu)^^^
...****************...
"Ayo.." Bimo menyuruh Alena masuk lebih dulu ke dalam mobil.
"Mas tidak bawa mobil sendiri?" Tanya Alena sambil masuk ke dalam mobil.
Keduanya akan melakukan cek up terakhir dimana akan melihat perkiraan kapan Alena akan melahirkan, dan Bimo pun akan menyiapkan ruangan khusus untuk Alena melahirkan nanti.
"Kita berangkat pak." Ucap Bimo pada supir, supir itu pun hanya mengangguk dan menghidupkan mesin mobilnya.
"Sayang sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Tanya Alena pada suaminya.
"Em..sudah, apa kamu punya pilihan lain?" Tangan kananya menggenggam tangan Alena, sedangkan yang kiri memeluk bahu Alena yang menyender di pundaknya.
"Aku hanya memiliki nama untuk putri kita." Ucap Alena tersenyum.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang, keduanya menikmati kebersamaan di dalam mobil dengan berbincang.
"Oke.. siapa?"
"Briana Sena, yang berarti wanita kuat, dan terhormat."
"Nama yang bagus sayang."
"Terus siapa nama untuk putra kita?" Tangan Alena mengelus perut nya dengan lembut, di ikuti tangan Bimo yang berada di atas tangan nya.
"Birendra Bagaskara, kelak dia akan menjadi pemimpin yang bijaksana di atas segalanya." Ucap Bimo dengan mengecup kening Alena.
"Nama yang bagus." Alena memeluk tubuh Bimo.
Merasa jalan yang mereka lewati begitu asing, membuat Bimo mengamati sekitar, dan benar saja ternyata jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju rumah sakit, pantas saja sejak tadi mereka tidak sampai-sampai padahal jarak tempuh rumah sakit hanya dua puluh menit.
__ADS_1
"Pak bukannya kita mau kerumah sakit, kenapa lewat sini." Tanya Bimo dengan suara tegas.
"Memangnya kita dimana?" Tanya Alena yang ikut melihat keadaan jalan sekitar, ternyata jalanan sepi yang banyak pepohonan.
Bukanya menjawab supir itu malah semakin menambah kecepatan laju mobilnya.
"Sebenarnya siapa kamu!!" Bimo yang curiga pun langsung melayangkan pertanyaan.
Alena yang sudah takut pun memeluk tubuh suaminya erat, dirinya sangat takut dengan kecepatan tinggi.
"Berhenti brrengsek..!!" Bimo berteriak, meraih topi yang di kenakan supirnya itu.
Deg
"Diki.." Mata Bimo terbelalak kaget, dirinya melihat wajah Diki dari kaca spion dalam mobil.
"Hahaha... apa kabar kalian berdua." Diki tertawa dengan kencang, namun tidak mengurangi laju mobilnya yang kencang.
"Mas aku takut.." Alena sudah menangis di pelukan Bimo.
"Tenang sayang ada aku." Bimo mencoba menenangkan istrinya, meskipun ketahuan terbesar dalam hatinya begitu terasa, dirinya takut terjadi sesuatu dengan istri dan anak-anaknya.
"Apa mau brengsek, turunkan kami..!!"
"Cih, jangan harap aku melepaskan kalian." Diki menatap Bimo tajam, dengan tatapan penuh dendam. "Sepertinya kali ini bukan kalian berdua yang akan aku dapatkan tapi, kalian berempat hahaha.." Diki tertawa keras, tawa yang tersirat sebuah kemarahan dan kebencian.
"Mas.." Tubuh Alena bergetar keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Bimo yang menyadari perubahan tubuh istrinya pun menjadi panik.
"Em..sshh...perut aku sakit.. ahhkk." Alena memegangi perutnya yang terasa begitu sangat sakit.
Mobil yang di kendarai Diki begitu kencang, bahkan jalanan yang mereka lewati semakin sepi dan tidak tahu dimana.
"Bangsat..!! berhenti bodoh..!!" Bimo mengumpat marah. wajahnya begitu merah.
"Jangan harap kalian semua bisa selamat." Sedetik kemudian Diki membuka pintu mobil nya, dan dirinya melompat tepat di semak-semak hutan pinggiran, dan mobilnya Ia arahkan ke jurang.
"Diki..!!" Bimo berteriak, tak habis pikir ternyata Diki begitu kejam pada mereka.
"Mas..sakit.."
"Ya Tuhan.." Bimo memeluk tubuh Alena erat, ketika mobil mereka sudah tak bisa di kendalikan, meninggalkan Alena yang kesakitan tak bisa Ia lakukan.
"Sayang aku mencintaimu." Bimo menangis menciumi wajah Alena yang di basahi air mata. Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aaaakkhhh.."
Brak
Brak
Brak
Booommm
.
__ADS_1
.
Nulisnya sambil mewek..🤧