Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Akhir kisah Anisa


__ADS_3

Deg


Tubuh Anisa terpaku mendengar ucapan Bimo. "Bagiku istriku adalah wanita yang sempurna, meskipun kesempurnaan itu milik sang pencipta. Tapi Alena ku adalah segalanya bagiku." Bimo menatap Anisa sekilas, dia bisa melihat tatapan Anisa yang kecewa. "Jika kamu berpikir aku akan mencari pengganti istriku, maka itu tidak akan pernah terjadi." Bimo menghela napas sebelum melanjutkannya. "Kamu tidak perlu merasa berat ataupun merasa bersalah karena ada pria yang ingin mempersunting mu,. justru aku juga merasa bahagia jika kamu sudah menemukan pendamping hidupmu." Bimo tersenyum menatap Anisa. "Jangan pernah mengharapkan apapun dari orang sepertiku, karena aku tidak akan pernah berharap ada orang lain hadir dalam hidupku." Bimo tersenyum tulus, namun malah membuat Anisa semakin sesak.


"Jangan kamu pelihara rasa yang kamu miliki untuk diriku, karena sampai kapan pun perasaan itu tidak akan pernah terbalas, belajarlah menerima pria yang akan menjadi suamimu karena lebih baik merasa dicintai dari pada harus mencintai." Bimo berkata dengan nada lembut, dirinya tidak tega melihat raut wajah Anisa yang terluka dan kecewa. "Maaf Nisa, aku tidak bisa membalas perasaan mu."


Seketika air mata Anisa tumpah, pada akhirnya dirinya menerima penolakan sebelum mengungkapkan isi hatinya.


"Terimalah Yusuf, sepetinya dia pria baik yang bisa memberimu cinta yang sesungguhnya, yang tidak akan bisa aku berikan untukmu."


Anisa semakin terisak, sesakit inikah mencintai sebelah pihak, dan tidak ada harapan untuk bisa meraihnya. Sungguh Anisa begitu terluka.


"Jangan pernah menagis untuk orang seperti diriku." Bimo menatap Anisa lembut, tangannya berada di dalam saku celananya. "Percayalah Tuhan sudah menakdirkan dirimu dengan pria yang lebih baik, dan bisa membahagiakan dirimu."


"Mas." Anisa menetap Bimo dengan wajah sendu dan berlinang air mata.

__ADS_1


"Jangan bersedih, apa kamu mau membuat umi Aisya ikut sedih." Ucapan Bimo mendapat gelengan dari Anisa. "Maka kamu harus tersenyum, ikuti kata hatimu dan pikirkan kebahagian mu dan umi Aisya, ikhlaskan sesuatu yang membuatmu berat, maka Tuhan bakan meridhoi mu setiap apapun keputusan yang kamu ambil." Bimo menepuk pundak Anisa pelan. "Aku dukung kamu dengan Yusuf."


Ehem


Bimo berdehem ketika kembali masuk kerumah umi Aisya, mereka menunggu Anisa kembali.


"Bagaimana nak Anisa? apakah lamaran anak saya Yusuf nak Anisa terima." Tanya wanita paruh baya yang berkenalan sebagai ibu dari Yusuf bernama Fatimah.


Yusuf menatap Anisa, terlihat jika wanita itu habis menangis, karena mata Anisa terlihat bengkak.


Anisa menatap umi Aisya, bergantian menatap Bimo untuk beberapa detik, hingga mendapat sedikit senyum dari Bimo.


Anisa menarik napas dalam, sebelum menjawab sesuatu yang akan menentukan masa depannya. Dengan mengucap niat lilahitaallah Anisa memejamkan matanya. "Bismillahirrahmanirrahim, saya menerima lamaran mas Yusuf." Ucap Anisa dengan mantap. Dirinya pasrahkan semua kepada Tuhan yang maha tahu segalanya, semoga keputusan yang Anisa pilih adalah yang terbaik.


"Alhamdulillah.." mereka semua mengucap syukur, wajah bahagia nampak dari mereka semua, terutama pria yang bernama Yusuf, yang begitu mengharapkan Anisa mau menerimanya. Umi Aisya memeluk sang putri. "Tuhan selalu meridhoi mu nak, semoga kamu selalu diberi kebahagiaan." Anisa tersenyum dan mengangguk, matanya melirik ke arah Bimo yang juga menatapnya tersenyum memberi dukungan untuk keputusan yang Anisa pilih.

__ADS_1


Anisa ikut tersenyum, meskipun hatinya masih terluka, setidaknya dia sudah pernah mengenal pria seperti Bimo. Pria baik dan hanya setia pada satu wanita.


Anisa tidak membenci ataupun marah kepada Bimo, justru karena perkataan Bimo dirinya menjadi mengerti, jika suatu hal yang kita paksakan tidak akan berakhir dengan baik, apalagi di antara mereka tidak hanya Anisa yang mencintai dan Bimo sebagai pria yang Anisa cintai tidak bisa di gapai sampai kapan pun.


Karena Anisa menerima lamarannya, Yusuf langsung mengeluarkan sebuah cincin yang sudah di siapkan sejak lama,


"Mas Yusuf.." Anisa menutup mulutnya tidak percaya melihat ditangan Yusuf ada sebuah cincin yang begitu Anisa kenali.


"Kamu masih ingat cincin ini?" Yusuf bertanya dengan senyum. Anisa mengangguk. "Aku membelinya, setelah kamu mencoba cincin ini, dan alasan kamu tidak membelinya karena harganya yang mahal, dan waktu itu kamu butuh uang untuk membayar uang semestermu." Ucap Yusuf yang mengingatkan Anisa pada waktu itu. "Karena itu aku tahu cincin ini kamu sukai, dan aku sengaja membelinya untuk melamarmu." Yusuf tersenyum lebar.


Anisa sungguh tidak percaya jika Yusuf tahu tentang cincin itu.


Yusuf memakaikan cincin itu di jari manis Anisa, dan mereka semua bertepuk tangan setelah Yusuf berhasil memainkannya. Sungguh suatu kebetulan bagi mereka yang dipersatukan atas ijin Allah, dan semoga mereka mendapatkan rahmatnya untuk membina hubungan dalam ridhonya.


"Mas terima kasih." Alisa menatap Bimo dengan senyum, senyum yang menampilkan bahkan Anisa baik-baik saja.

__ADS_1


"Sama-sama, semoga kalian diberikan kebahagiaan dunia akhirat."


__ADS_2