
Jika bisa memilih Sena tidak ingin terlahir tanpa seorang ibu, Sena juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu seperti apa. Bukanya tidak mau memiliki ibu sambung tapi papanya sendirilah yang tidak ingin memiliki pengganti sang Mama, dan dari situ Sena tahu bagaimana papanya sangat mencintai dan menghormati Mamanya dengan begitu besar.
Andai saja dirinya bisa melihat bagaimana rupa dan wajah Mamanya di depan mata, Sena pasti begitu bersyukur dan beruntung memiliki kedua orang tua yang begitu sempurna.
Rasa yang begitu menyesakkan dadanya membuat nya tak kuasa menjatuhkan air mata, meskipun selama ini dirinya tidak pernah menangis apapun keadaan yang membuatnya kesal dan marah.
Memakirkan motor nya di basemen apartemen, dari jauh dirinya melihat motor yang tidak asing, dan benar saja motor itu berhenti di samping nya.
Karena terlalu lelah, dan kemarahan nya pun belum mereda. Sena segera berjalan meninggalkan pria yang masih memangilnya.
"Hey tunggu." Dengan cepat Rian turun dari atas motor, dirinya mengejar langkah kaki Sena yang cepat.
"Tunggu dulu.." Rian berhasil mencekal tangan Sena.
"Lepas..!!" Sena menepis tangan Rian kasar.
"Maaf kan aku." Ucap Rian tiba-tiba.
Sena tersenyum miring. "Sudah.." Ucapnya menatap Rian dingin.
Tanpa sadar kepala Rian mengangguk.
"Oke." Sena pun segera pergi dari hadapan Rian.
"Eh.. Ah sial.." Rian mengumpat ketika Sena sudah berjalan jauh dan memasuki lift.
"Bodoh, kenapa bisa gak sadar sih." Gerutunya lagi, karena melihat senyum Sena sekilas membuat otaknya ngelag.
.
.
"Pagi mbak Sena.." Sapa security yang biasa berjaga di lobby.
"Pagi.." Sena tersenyum sekilas dan berjalan menuju di mana motornya berada.
Pagi ini Sena berangkat lebih pagi, karena ada yang harus dia kerjakan, yaitu membawa motornya ke bengkel. jam masih menunjukan pukul tujuh, sengaja agar sampai pabrik tepat waktu.
"Loh..kok.." Sena nampak terkejut, melihat keadaan motor nya yang sudah di perbaiki seperti sedia kala. Seingatnya tadi malam dirinya tidak memanggil orang bengkel.
Tangannya mengambil kertas kecil yang berada di dashboard motornya.
__ADS_1
"Maaf sudah membuatnya rusak, dan aku sudah memperbaikinya." Tulisan tangan itu sangat rapi, bahkan kalah rapi dengan tilisanya.
Tanpa mikir lama, Sena tau ulah siapa.
"Bagus deh kalau tanggung jawab." Ucapnya tersenyum melihat keadaan motor nya yang sudah seperti sedia kala.
.
.
Rian duduk di atas motor nya, sengaja menunggu seseorang yang sejak semalam membuatnya tak bisa tidur, apalagi wajah sendu Sena membayarnya tak bisa memejamkan mata.
Meskipun Rian tahu Sena adalah atasannya baru tadi malam ketika grub chat mereka penuh dengan pujian atau pun rasa iri dari wanita yang baru dua Minggu ini sudah mengalihkan topik pertama dari kalangan wanita cantik, dan ketika ada yang mengirim foto Sena yang di ambil secara sembunyi, barulah dia tahu jika wanita yang selama ini dia cemooh dalam hati ternyata wanita yang sama dengan.
Kedekatan Sena dengan Kemal pun selalu menjadi topik terhangat setiap grub itu ramai, karena kedua orang biru terlihat dekat setiap hari.
"Ck. lama banget.." Rian mengedarkan pemandangannya, jam delapan kurang tiga puluh menit orang yang Rian tunggu muncul.
Meskipun dirinya bolos, tak apa dirinya tidak masalah.
"Sen," Rian menghampiri Sena, ketika gadis itu baru saja turun dan melepas helm nya.
Sena memutar kedua matanya malas, dirinya sudah tidak mau berurusan dengan pria di depannya itu.
"Plis maafin gue, waktu di restoran gue dikejar-kejar orang dan karena itu gue lakuin tindakan kurang ajar." Entah apa maksud Rian berkata itu, padahal Sena berusaha untuk melupakan dan tidak mau mengingat kejadian itu kembali.
"Dan soal tadi malam, gue minta maaf atas nama Rahma."
Sena langsung berhenti ketika mendengar ucapan Rian.
"Rahma memang begitu, dia tidak bermaks_"
"Bermaksud menghina dan merendahkan ku." Potong Sena dengan suara dinginnya. "Jika tidak ada lagi, sebaiknya jangan lagi tunjukan dirimu di hadapanku." Setelah itu Sena pergi tanpa mendengar ucapan Rian lagi.
Rian menatap punggung Sena yang semakin menjauh.
Drt...Drt...Drt..
Ponsel Rian bergetar di saku celananya.
"Ck. tua Bangka lagi." Ucap nya malas, ketika melihat siapa yang menelpon.
__ADS_1
"Hal..
"Pulang atau kakek paksa..!!!" Ucap suara di seberang sana yang terdengar tegas.
"Gak akan, Ar gak akan pulang.." jawabnya dengan yakin.
"Dasar cucu kurang ajar, lihat saja kakek pastikan kamu akan datang sendiri.."
Tut..Tut..Tut..
Sambungan terputus begitu saja ketika Dia baru saja akan membuat mulutnya.
"Hisss, Kakek tidak berperasaan." Umpat nya kesal.
"Kamu dari mana Ian, jam segini baru masuk..? minta di PHK kamu." Ucap Dadang dengan tangannya yang sibuk menyortir kemasan botol minuman itu masuk ke dalam kardus.
"Iya, padahal bos sudah masuk dari tadi, tapi di Rian batu nonggol." Asep menimpali.
Mata Rian menatap pintu ruangan Sena yang tertutup rapat, namun ada kaca besar buang bisa mereka lihat dari luar, jika Sena sedang berkutat dengan laptopnya.
"Heh..." Dadang memukul bahu Rian. "Ngelamun wae, waras kau." Ucapnya yang melihat temanya itu melamun menatap pintu ruang bos mereka. "Tidak usah di lirik, Bu bos sudah ada pawangnya." Ucap Dadang lagi.
Rian hanya bergumam, dirinya kembali bekerja dan membaur dengan rekannya.
Sudah hampir dua bulan Rian bekerja di pabrik ini, dirinya yang kabur dan melarikan diri ke Sukabumi padahal lari ke kota ini tidak ada dalam pikiranya, tapi entah kenapa malah membuat dirinya terdampar di kota ini.
Perawakannya yang tinggi dan gagah, wajah tampannya yang yang seperti bule pun menjadi pusat perhatian bagi karyawan wanita yang bekerja di pabrik, mereka semua terpesona dengan mahluk pria seperti Rian.
Dan yang paling beruntung dekat dengan adalah Rahma karyawan wanita yang dijuluki speak bidadari di pabrik itu, dan kini tergeser dengan bidadari yang begitu memukau semenjak pertama kali kehadirannya dua Minggu lalu.
Pencuci mata, dan penyegar pemandangan di pabrik itu hanya Rian dan Kemal, dua pria yang paling tampan di usianya, membuat para wanita mengidolakan dua orang itu.
"Pak Kemal.." Panggil seseorang yang baru saja melihat Kemal melintas di belakangnya.
"Ya.." Kemal pun menoleh ke belakang.
"Ini ada sesuatu untuk bapak." Ucap mawar dengan senyum semanis mungkin, agar Kemal tertarik.
"Apa ini?" Ucap Kemal, menatap bungkusan di tangan karyawannya yang dia tahu namanya Mawar.
"Hanya makanan pak, saya buat sendiri khusus untuk bapak." Ucap Mawar, yang masih pasang senyum manis.
__ADS_1
"Terima kasih ya." Kemal meraih bungkusan itu, dan berniat meninggalkan Mawar.
Mawar mengangguk seperti orang bodoh karena terpesona dengan ketampanan Kemal.