
Seperti yang dikatakan nyonya dan pemilik hati sang raja, Ren melakukan apa yang dikatakan oleh sang istri, bahkan Ren juga sudah menyiapkan beberapa botol parfum dengan merk dan bau yang sama, meskipun membuat asisten nya menjadi kelabakan tapi permintaan istri adalah yang paling penting dan harus dituruti, kalau tidak akan hancur dunia perkasuranya nanti malam.
Setelah sampai di kantor Ren segera mengumumkan apa yang harus dia lakukan, dan Juno sebagai asisten yang bertugas untuk membaginkan botol parfum yang sudah dia siapkan untuk divisi lantai tujuh dan sepuluh.
Juno sendiri merasa aneh apalagi beberapa pria harus memakai parfum yang baunya sangat feminim membuat mereka yang biasa berbau maskulin kini berganti feminim. Meskipun begitu mereka tidak berani berkomentar di depan bos mereka, apalagi divisi tujuh mereka semua tahu jika ini pasti ada hubungannya dengan Alexa.
"Lex, kamu tidak salah meminta suamimu untuk menyuruh kita pakai parfum seperti kamu." Tanya Mita mewakili jeritan hati para rekan kerja mereka yang pria, jika Mita dan Gesya tidak keberatan, tapi bagiamana dengan mereka yang pria, pasti akan malu jika berpapasan dengan orang di luar sana.
Dikira Wajah jentelman hati hello Kitty?
"Kalian keberatan?" Alexa justru balik bertanya.
Mita menatap Alexa dengan kening berkerut. "Kami tidak keberatan, tapi lihatlah wajah mereka yang terpaksa." Ucap Mita sambil menahan senyum melihat keempat pria dengan wajah terpaksanya.
Alexa mengehela napas, dirinya juga tidak tahu kenapa melajukan hal ini. "Aku melakukan ini, karena jika mencium bau parfum selain seperti punyaku, rasanya aku ingin muntah, aku juga tidak tahu padahal biasanya aku tidak seperti ini tapi sejak kemarin aku menahannya." Tutur Alexa membuat Mita dan Gesya saling pandang.
Mita adalah wanita dewasa yang sudah berkeluarga, dan dirinya jiga memiliki dua anak. Sedangkan Gesya masih gadis tapi dia mengerti dengan keanehan dan gejala yang di derita oleh wanita hamil.
__ADS_1
"Jangan-jangan.." Mita dan Gesya saling berseru, membuat Alexa bingung.
"Jangan-jangan apa?"
.
.
Mita dan Gesya menggandeng tangan Alexa untuk menuju ruangan suaminya, dimana keduanya menyadari kejanggalan yang Alexa ceritakan tadi. Meskipun bukan dokter keduanya tahu jika terjadi sesuatu kepada istri bosnya itu.
Mita mendorong pintu bos-nya tanpa mengucap salam, membuat Ren menatap tajam ketiga orang yang berdiri saling mengapit istrinya ditengah.
"Maaf pak." Mita dan Gesya menunduk malu dan takut melihat tatapan orang-orang di dalam sana. Pasalnya bukan hanya Ren saja yang duduk di sofa melainkan ada Bimo dan juga Daniel asisten Bimo.
"Papa.." Alexa mendekati Bimo dan mencium punggung tangannya.
"Ada apa kalian berbondong-bondong kemari?" Tanya Ren menatap kedua rekan kerja istrinya.
__ADS_1
"Em..anu pak." Mita menyenggol lengan Gesya agar mau menjawab pertanyaan bosnya, dan Gesya hanya menunduk.
"Ada apa Lexa?" Tanya Bimo pada menantunya.
"Alexa tidak tau Pah, mereka yang menyeret Lexa kesini." Alexa duduk disamping sumainya, tanpa berniat membantu kedua temanya yang sudah membuatnya kesal karena menariknya tanpa alasan.
Ren menghela napas, dirinya baru saja menceritakan keanehan sang istri pada papanya, dan Bimo yang di ceritakan pun tidak tahu, karena dulu Alena tidak pernah berkelakuan seperti istri putranya.
Tentu saja tidak, Alena hamil pun Bimo Tidka tahuðŸ˜
"Sebaiknya bapak panggilkan dokter untuk memeriksa istri bapak." Ucap Mita dengan penuh keberanian.
"Maksud kamu apa? istri saya sakit?" Tanya Ren dengan melirik kedua wanita itu.
"Bu-bukan begitu, tapi sepertinya istri bapak sedang isi." Jelas Mita semakin membuat mereka tidak mengerti.
"Tentu saja isi, orang aku abis makan pizza kan tadi ya sayang." Ucapan Alexa sontak membuat Mita dan Gesya menepuk keningnya.
__ADS_1