
Hati Bimo semakin panas, melihat Alena yang senyum kepada pria didepanya tak lain adalah tunangannya sendiri.
Mengikuti mereka ternyata hanya membuat dirinya merasa cemburu. Ehh cemburu.
Sialan.
Bimo dengan cepat menyelesaikan makanya, dirinya tidak ingin berlama-lama ditempat yang membuatnya semakin panas.
Salah siapa jadi penguntit?
"Loh kamu mau kemana Bim?" Tanya Leina yang melihat putranya itu berdiri dan hendak pergi setelah makanan nya selesai.
"Bimo lupa, ada pertemuan penting dengan klien Mah, Daniel sudah menunggu." Kilahnya agar cepat segera pergi dari sana.
"Tapikan kita belum selesai, lagian masih jam istirahat." Ucap Leina yang merasa aneh dengan putranya.
"Maaf Mah, Bimo ngak bisa lama-lama." Bimo mendekati Leina dan mencium pipi Mama nya, dan segera pergi.
"Tuh anak kenapa sih, heran deh...gimana mau punya pacar kalau sibuk kerja kaya gitu." Leina menggerutu, melihat kelakuan putranya yang gila kerja.
__ADS_1
Padahal hanya akal-akalan Bimo agar bisa segera pergi dari sana.
"Mungkin Bimo nya emang lagi sibuk Tante." Siera mencoba menenangkan Leina yang terus menggerutu kesal. Sebenarnya dirinya juga kesal, dari kantor sampai ditempat makan dirinya seperti tak dianggap oleh Bimo.
.
.
.
"Len, Kamu tadi makan diluar ya?" Tanya Gina yang baru selesai bertugas membersihkan bagian kerjaannya.
"Iya Gin, aku makan siang di luar." Ucapnya sambil memberi Gina minum.
"Makasih, pantesan aku cariin kamu gak ada." Ucapnya sambil duduk di depan Alena.
"Muka kamu kenapa? kayak sedih gitu?" Tanya Gina yang melihat wajah Alena murung.
Alena menghela napas dalam dengan wajah menunduk menatap jari tangannya yang bertautan.
__ADS_1
"Cerita sama aku Len, kalau kamu anggap aku sahabat, aku udah anggep kamu sahabat karena aku cerita apapun masalah aku sama kamu." Gina menyentuh pundak Alena.
Gina yang memang selalu bercerita tentang keadaan nya ataupun kesulitannya kepada Alena, dirinya berteman dengan Alena dengan tulus.
"Aku bingung Gin." Alena menatap wajah Gina sendu. "Mas Diki selalu ngedesak aku buat nerima lamaran dia dalam waktu dekat, padahal aku sudah memberinya waktu tiga bulan." Ucap Alena dengan wajah yang begitu bingung. "Aku emang mau nikah sama dia Gin, tapi aku juga butuh waktu buat mikirin itu, mungkin 3bulan untuk mas Diki terlalu lama menunggu."
"Kalian kan sudah lama pacaran, terus juga udah tunangan, wajar kalau dia pengen cepet nikahin kamu, mungkin karena umur dia udah dewasa, lagian sebenarnya apa sih yang buat kamu bingung?" Ucap Gina dengan menatap Alena lekat. Jika dipikir seharusnya Alena senang karena pria yang dicintainya mau menikahinya, bukanya malah bingung.
"Entahlah Gin, aku merasa masih ragu dan belum yakin jika harus cepat menikah, aku juga tidak tahu kenapa hati aku ragu." Alena menunduk.
"Coba kamu pikirkan lagi, mungkin Tuhan mengirimkan kamu jodoh secepat ini, kamu juga butuh sosok pendamping dan pelindung, agar kamu dan adik kamu ada yang menjaga." Gina berkata dengan menggenggam tangan Alena, keduanya menatap satu sama lain. "Mantapkan hati kamu Alena, jika kamu ragu kamu bisa meminta petunjuk dari Tuhan, jika memang dia yang terbaik pasti akan Tuhan dekatkan." Gina tersenyum memberi Alena semangat.
"Kamu cantik mungkin tunangan kamu takut jika cowok lain yang dapetin kamu." Ucap Gina dengan wajah menggoda Alena.
"Iss.. kamu apa'an sih Gin, mana ada cowok yang suka sama OB kaya aku ini." Alena tersenyum mendapat candaan dari Gina.
"Siapa tahu kan Office girl berjodoh dengan seorang CEO."
Keduanya tertawa hanya karena candaan receh guna, setidaknya bisa membuat Alena tidak sedih lagi. Dan semua yang mereka bicarakan tak luput dari seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1