
Makan malam terasa hangat bagi Leina dan keluarga Tuan Richard, mereka saling berbicara satu sama lain.
"Bagaimana sayang, kalau kita adakan pertunangan kalian secepatnya." Leina menatap ke arah putranya dengan senyum mengembang, dirinya senang dan tidak sabar memiliki menantu yang cocok dengan putranya.
Hening tidak ada jawaban, Alena yang ingin menyendok kan nasi pun Ia urungkan.
"Ya, saya setuju dengan anda jeng, saya juga pengen cepat punya menantu dan punya cucu." Nyonya Yola ikut bicara, dirinya juga sama seperti Leina ingin memiliki menantu yang cocok dengan putrinya.
Sedangkan kedua pria paruh baya hanya saling tatap.
"Kamu mau kan sayang, Kalian bertunangan dulu, atau malah ingin langsung menikah?" Leina masih saja berbicara tanpa memperdulikan gadis yang putranya bawa, meskipun pikiranya tertuju pada hubungan keduanya, namun Leina tetap menyangkal bahwa putranya tidak memiliki kekasih.
Siera hanya diam dengan menatap Bimo dan juga Alena. Dirinya bisa menebak jika keduanya memiliki hubungan.
Tangan Bimo terkepal erat dari awal dirinya sudah tidak nyaman mendengar Mama nya yang membahas perjodohan.
Tatapan Bimo datar dan dingin, Alena bisa merasakan jika suaminya sedang menahan amarah, terlihat dari Bimo yang memegang tangannya dengan sedikit remasan kuat.
"Kalau menurutku sih, Bimo setuju aja jeng." Ucap Leina yang semakin membuat Bimo geram.
"Mah..!" Rendy menegur Leina namun wanita itu tak mengindahkannya.
"Jika begitu, kita tentukan saja tanggal pertunangan nya?" Yola pun tersenyum lebar, sedangkan tuan Richard hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana sayang, kamu mau kan?" Tanya Nyonya Yola pada anaknya Siera.
"Terserah Mama, Siera hanya mengikuti baiknya saja." Ucap Siera tersenyum lalu menatap Bimo yang menatapnya tajam.
__ADS_1
Srett
Suara kursi yang didorong kuat membuat bunyi nyaring, dan mengalihkan pandangan nya kepada si pelaku.
"Tidak akan ada yang akan bertunangan disini." Bimo menatap datar dan dingin satu persatu orang yang ada di meja makan itu. Alena yang tangannya digenggam ditariknya agar berdiri.
Semua yang melihat aksi Bimo pun kaget apalagi melihat tangan Bimo menggenggam erat tangan gadis yang dibawanya.
"Bimo, apa-apaan kamu." Leina tak menyangka jika putranya akan bertindak tidak sopan di hadapan Tuan Richard.
"Mama yang seharusnya kenapa?" Bimo menatap wajah Mama nya dengan datar. "Asal Mama tahu sampai kapanpun Bimo tidak akan mau bertunangan dengan dia." Jarinya menunjuk arah Siera tanpa melihat orangnya. "Dan Mama tidak berhak menentukan siapa yang akan menjadi istri Bimo, karena Bimo sudah mempunyai wanita yang Bimo cintai, yaitu Alena istri Bimo." Ucapnya dengan nada penuh penekanan.
Leina membulatkan matanya mendengar ucapan Bimo. "Kamu jangan bercanda Bim..!" teriak Leina dengan nada penuh amarah.
"Tidak ada yang bercanda Mah, Bimo memang sudah menikah dan Bimo datang kesini untuk meminta restu kalian." Ucapnya dengan nada rendah penuh permohonan.
keluarga Tuan Richard hanya diam dengan pikiran tak menentu melihat kejadian di hadapan mereka.
"Mah, mereka memang sudah menikah dan Mama harus terima itu, jika Bimo sudah menikah dengan gadis yang dia cintai." Rendy mencoba memberi pengertian pada isterinya, namun Leina tak mendengarkan karena dirinya sedang dilanda amarah dan tidak bisa berpikir dengan benar.
"Kamu..!!" Leina mendekat dan menunjuk Alena dengan tatapan tajam. "Kamu yang sudah meracuni anak saya agar menikahi gadis OB sepertimu iya.!!"
Alena menunduk dengan wajah sedih, dirinya tidak berani menatap ibu mertuanya yang ternyata tidak bisa menerimanya.
"Mah..!!" Bimo berucap dengan nada tinggi, ketika Mamanya menuduh Alena.
"Kamu sudah berani membentak Mama sekarang?!" Leina menatap tajam Bimo dengan air mata mengalir.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu Mah_"
"Stop..!!" Leina memotong ucapan Bimo. "Jika kamu masih mau mama anggap anak." Tunjuk Leina pada Bimo. "Ceraikan dia.!!" Tatapannya pindah kepada Alena yang langsung mendongakkan kepalanya.
Deg
Jantung Alena berdetak cepat, dengan hati yang ngilu, tak disangka ibu suaminya tidak bisa menerima dirinya.
"Mah..!!" Bimo yang sejak tadi menahan amarah pun, menatap Mamanya tak percaya.
"Bimo hanya minta Mama merestui hubungan kami, bukan untuk memisahkan kami." Ucap Bimo dengan nada lirih. "Bimo mencintai Alena, Bimo hanya ingin papa dan Mama merestui pernikahan kami, meskipun Bimo salah tidak memberi tahu kalian tentang pernikahan kami, tapi percayalah dia adalah wanita yang terbaik buat Bimo, wanita yang Bimo inginkan." Bimo meraih bahu Alena untuk dirinya peluk. yang sedang menangis dalam diam.
"Mama tidak akan menerima dia sebagai menantu Mama." Leina langsung pergi setelah mengatakan hal itu.
"Mah_"
"Nak, sudah." Rendy menahan putranya ketika ingin mengejar Mamanya. "Papa merestui kalian." Rendy tersenyum menatap anak dan juga menantunya.
"Jaga dia dengan baik, biar papa yang akan bicara kepada Mama mu, nanti pasti mama mu akan mengerti." Ucapnya membesarkan hati keduanya.
"Terima kasih Pah." Bimo memeluk papanya.
"Sama-sama nak." Rendy melepas pelukan putranya dan berganti memeluk menantunya. "Tetaplah disamping suamimu, apa pun yang terjadi." Ucap Rendy mengelus kepala Alena pelan.
Melihat pemandangan di depannya membuat Tuan Richard kesal dan marah, merasa dirinya tidak dihargai dan putrinya di perlakukan dengan tidak baik oleh anak temanya itu.
Siera tidak percaya jika pria yang dijodohkan dengannya sudah menikahi wanita lain, bahkan tanpa kedua orang tua nya tahu. Tersenyum sini menatap keduanya Siera lebih memilih pergi.
__ADS_1