
Di kedai restoran Alena sedang membantu penjualan di kasir.
"Semuanya 178 ribu pak." Ucapnya pada pengunjung yang sedang membayar makananya.
Pria itu hanya diam dan menatap wajah Alena lekat dirinya sekilas memikirkan orang yang selama ini mereka cari, tapi wanita didepanya itu berbeda dengan wanita yang di foto.
Jika wanita di foto berambut panjang, makan wanita di depannya menggunakan hijab, tapi jika di teliti wajah mereka mirip dan bahkan hampir sama, tapi ketika melihat wanita itu berjalan ternyata sedang mengandung. 'Ahh Ternyata hanya mirip." Pria itu segera pergi setelah menerima kembalian. Karena informasi yang mereka terima wanita yang mereka cari tidak sedang mengandung.
"Mbak, mbak liat gak sih pria tadi ngeliatin mbak terus. "Ucap salah satu karyawan Wanita.
"Ah, mungkin hanya perasaan mu saja Lis." Alena menyanggah nya karena dirinya tidak melihat dan merasa di perhatikan.
"Beneran tau mbak, tapi yasudah lah toh orang nya juga sudah pergi dan tidak macam-macam."
"Ya udah kembali bekerja gih, jangan bicara sembarangan." Ucap Alena menyuruh Lisa pergi.
Ya, kini penampilan Alena sudah berubah, kini Alena mengenakan hijab setelah pergi dari kota Jakarta, entah mengapa dirinya menjadi lebih tenang dan damai ketika bisa berdamai dengan keadaan dan dirinya memutuskan untuk memakai hijab. Wanita hamil itu kini bertambah cantik dan anggun dengan kerudung yang menutupi aurat kepalanya.
Dirinya yang sekarang lebih mendekatkan diri kepada yang maha pencipta karena hanya berdoa dan meminta perlindungannya dirinya masih di beri kesehatan dan kehidupan seperti ini apa lagi di anugrah-i dua malaikat kecil dalam dirinya.
__ADS_1
"Len sudah waktunya kamu periksa.." Ucap Weni yang sudah berada di depannya.
Alena melihat jam yang melingkar di tangannya. "Oh..iya Bu, kalau begitu Alena siap-siap dulu."
"Yasudah kamu hati-hati ya di jalan." Weni pun menggantikan Alena di kasir.
Karena Weni tidak mempercayakan pekerjaan kasir oleh orang lain, selain dirinya dan Alena.
Siang ini adalah jadwalnya cek-up rutin, tapi kali ini Alena begitu berdebar mengingat hari ini dirinya akan tahu jenis kelamin kedua buah hatinya.
"Mama tidak sabar ingin melihat kalian lagi." Alena tersenyum dan mengelus perutnya yang buncit.
Alena memasuki ruang dokter yang sedang menunggunya karena dirinya sudah membuat janji siang ini.
"Siang dokter Sinta." Alena menyapa dokter wanita yang sedang menunggunya.
"Siang mbak Alena, apa kabar?" Tanya dokter itu ramah.
"Baik dok." Alena tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah kita mulai saja pemeriksaan untuk Beby twins hati ini." Dokter Sinta membantu Alena berbaring di ranjang.
Dokter itu pun perlahan mengoleskan gel di area perut Alena dan mengarahkan alat Transducer itu perlahan kepermukaan perut Alena yang sudah di olesi gel.
Dokter itu tersenyum ketika melihat dua mahluk mungil terlihat. "Mereka tumbuh dengan baik dan sehat."
Alena tersenyum haru melihatnya, matanya berkaca-kaca. "Anak-anak Mama." Ucapnya lirih meskipun setiap kali periksa dirinya selalu merasa sesak mengingat tidak ada suami di sampingnya, padahal Bimo sangat menginginkan anak mereka.
"Lihat ternyata mereka sepasang." Ucap dokter Sinta yang melihat jenis kelamin kedua bayi Alena.
Alena bertambah baru dengan senyum lebarnya. "Ya..tuhan..Mas anak kita." Tangannya tak kuasa menutup mulutnya.
"Selamat mabuk Alena, Bayi anda laki-laki dan perempuan." Dokter itupun menyudahi pemeriksaanya, karena bayi Alena memang sehat dan semua sehat.
"Selalu di jaga ya mbak, saya beri vitamin dan suplemen." Dokter Sinta menuliskan resep untuk Alena.
Dokter itupun tahu jika Alena seorang diri di desa itu, karena di awal kehamilannya Alena selalu datang sendiri dan dokter itupun bertanya di mana keberadaan suaminya.
Dan dokter Sinta pun mengerti kehidupan yang Alena jalani.
__ADS_1