
"Pagi pak...
"Pagi tuan..
"Pagi boss..
"Selamat pagi tuan..
Sepanjang lobby berjalan dengan langkah tegap dan raut wajah yang sangat dingin Bimo memasuki lift khusus untuk presedir.
Meskipun mereka yang menyapa tidak mendapat tanggapan, tapi bagi mereka Bimo Bagaskara adalah seorang bos muda yang selalu mereka banggakan, apalagi kebijaksanaan yang di terapkan di perusahaan Bagaskara Grub lima bulan belakangan ini, membuat mereka para karyawan menjadi lebih menyukai bosnya itu walaupun sifatnya dingin kepada semua orang.
Bimo memberi kebijakan bagi pekerja yang sedang hamil, jam kerja mereka tidak boleh lebih dari jam kerja yang sudah di tentukan, karena sebelumnya pekerja yang sedang hamil masih di pekerjakan untuk lembur hingga melebihi jam kerja yang seharusnya, dan tidak hanya itu saja, Bimo juga memberi kompensasi dimana para karyawan yang melahirkan akan mendapat tambahan tunjangan selain dari yang sudah di tentukan sebelumnya. Dan karena kebijakan itu semua para pekerja yang hamil bersyukur dan berterima kasih kepada bos mereka yang terkesan dingin itu.
Bimo berjalan menuju ruangannya di mana Daniel sudah menunggu nya di sana.
"Selamat pagi bos.." Daniel sedikit membungkuk dirinya tidak menyangka jika bosnya sudah kembali bekerja setelah pulang dari rumah sakit dua hari lalu, padahal Bimo harus banyak istirahat dahulu.
"Hm.. apa jadwal ku hari ini." Tanyanya setelah duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan laptopnya.
"Hanya pertemuan dengan klien kita dari Sukabumi karena beliau ingin menjual pabrik ritel miliknya." Ucap Daniel.
__ADS_1
Pertemuan itu sebenarnya sudah di jadwalkan satu Minggu lalu, berhubung Bimo mengalami kecelakaan jadi tertunda hingga sampai sekarang.
"Dan ada beberapa berkas yang harus Anda periksa dan tanda tangani, lumayan cukup banyak karena anda tidak masuk bekerja." Ucap Daniel lagi.
"Jadwalkan semua dengan semestinya." Ucapnya dengan memulai mengambil tumpukan dokumen yang memang sangat banyak berada di atas mejanya.
"Baik bos."
"Satu lagi, saya tidak ingin di ganggu oleh tamu." Ucap Bimo tanpa melihat Daniel.
"Baik." Daniel mengangguk dan pergi keluar dari ruangan bosnya.
.
.
.
"Kenapa lagi Lis." Tanya Alena melihat orang itu sekilas, dan ketika tatapan mereka bertemu pria itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Aku perhatiin sejak tadi mereka liatin mbak terus." Ucap Lisa dengan berbisik di samping Alena.
__ADS_1
"Jangan suuzon kamu Lis, ngak baik." Alena memperingati.
"Bukan suuzon mbak, tapi coba mbak perhatiin deh aku beneran tau." Lisa masih kekeh dengan asumsinya.
Dua pria itupun berdiri ketika keberadaan mereka diperhatikan.
"Suuuttt..sudah diam, mereka sedang menuju kemari." Ucap Alena pada Lisa.
Lisa hanya tersenyum dan pergi dari samping Alena.
"Semuanya Dua ratus ribu tuan." Ucap Alena pada pria yang sedang membayar di kasir.
Pria itu memberi dua lembar uang pas kepada Alena.
"Maaf apa saya boleh tau nama anda nona?" Tanya nya dengan sopan, meskipun wajah pria itu terlihat sangar.
"Em..nama saya Adhis tuan." Ucap Alena yang memakai nama belakangnya.
"Oh..baiklah terima kasih mbak Adhis." Pria itu pun pergi setelah tau namanya.
"Aneh, hanya begitu doang."
__ADS_1
Alena memang menggunakan nama belakangnya jika berkenalan dengan orang asing terutama pada pria.
Entah mengapa juga dirinya berpikiran menggunakan nama belakangnya, padahal semua karyawan di toko Weni mengetahui jika namanya Alena.