Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Seperti yang di katakan Kemal, Weekand akan mengantarkan Sena untuk pulang ke Jakarta. Dan kini mereka dalam pejalan menuju Jakarta, hari sudah merangkak petang ketika mobil yang di kendarai kemal sudah hampir sampai di kediaman Bimo.


"Mal, mampir ke supermarket di depan sebentar ya." Titah Sena pada Kemal sebagai supir.


"Oke.." Kemal pun membelokkan mobilnya ke supermarket yang Sena tunjuk.


"Tunggu sebentar." Sena keluar dari mobil dan masuk ke dalam untuk mencari sesuatu yang dia butuhkan.


"Untung ingat jika di rumah tidak ada ini." Sena mengambil bungkusan pembalut, ketika ingat jika besok masa periodenya dan kebetulan dirumah miliknya sudah habis. Jika menyuruh Ren pasti pria itu akan mengomel panjang lebar lebih dulu meskipun tetap berangkat untuk membeli.


Sena tersenyum sendiri mengingat momen seperti itu yang pernah dia alami.


"Beli minuman kali ya.." Gumamnya sambil berjalan menuju lemari pendingin.


"Ini aja kali." Tangannya meraih minuman kaleng yang berada didepannya.


"Ternyata minuman kesukaan mu masih sama." Ucap seorang pria yang berdiri tepat di belakang Sena.


Sena pun berbalik dan melihat wajah pria sangat menyebalkan baginya.


Memutar kedua matanya malas, Sena ingin segera pergi.


"Bii, tunggu dulu." Aldrick menarik lengan Sena yang ingin pergi.


"Apa lagi.." Sena menyentak tangannya agar terlepas.


"Ck. kamu tidak berubah, masih ketus dan menyebalkan." Aldrick menatap Sena datar.


"Ngak penting." Ketusnya dan segera berbalik menuju kasir untuk membayar.


Aldrick yang ingin ke rumah Bimo, tak sengaja ketika ingin melintasi supermarket dirinya melihat Sena yang turun dari mobil, dan masuk ke dalam supermarket.


Alhasil dirinya lebih dulu menemui Sena, dan mungkin akan bisa mengajak pulang bareng Sena.


"Semuanya..xxx Mbak." Ucap wanita bagian kasir.


Sena memberikan kartu blackcard miliknya.


"Maaf mbak, mesin kami sedang mengalami gangguan, jadi tidak bisa menggunakan kartu." Ucap kasir itu sopan.


"Duh, mana gak ada uang kes lagi." Sena merogoh semua kantong baju dan tasnya tapi memang dirinya jarang membawa uang kes.


"Biar saya saja yang bayar." Aldrick mengeluarkan selembar uang kertas merah.


"Terima kasih, nanti akan aku ganti." Sena pun pergi setelah mengucap terima kasih pada Aldrick.

__ADS_1


"Tidak perlu, cukup kamu pulang bersamaku sudah impas untuk_"


"Tidak apa, lagian ini uang nya sudah ada." Sena memotong ucapan Aldrick, dan tangannya mengulurkan uang selembar merah seperti yang Aldrick bayarkan ke kasir tadi.


Sena keluar dan meminta uang pada Kemal, karena dirinya tidak mau hutang Budi dengan pria bermulut pedas itu.


"Ck. Bukan itu yang aku maksud bodoh." Aldrick yang kesal karena Sena seperti menghinanya dengan mengembalikan uang nya tadi.


Sena menatap tajam Aldrick ketika dirinya di bilang bodoh.


"Ambil uang anda, mungkin anda yang lebih pintar dan saya yang bodoh karena sempat menilai anda adalah pria yang baik." Sena mendorong dada Aldrick dengan uang selembar di tangannya, dan kembali masuk ke dalam mobil Kemal dengan wajah menahan emosi.


"Ah..sial..!!" Aldrick mencoba memanggil Sena, dengan mobil Kemal yang perlahan berjalan menjauh.


"Mulut sialan." Umpatnya, kembali masuk ke mobil, untuk mengejar mobil yang di tumpangi Sena.


Tak lama mobil Kemal pun memasuki perkarangan rumah dua lantai yang sudah beberapa bulan ini Sena tinggalkan. Dan dia sangat merindukan tempat tinggalnya ini.


"Ayo Mal." Sena menarik tangan Kemal ketika ingin masuk ke dalam rumah, dan kejadian itu membuat pria yang baru saja turun dari mobil menatap mereka tajam.


Entah mengapa melihat kedekatan mereka Aldrick merasa tidak suka, padahal sebelumnya dirinya merasa cuek dan tidak peduli, tapi sejak kejadian yang menimpa keduanya waktu dulu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.


"Papah..!!" Sena berteriak ketika masuk kedalam rumah dirinya melihat Bimo sedang duduk di ruang tamu.


"Sena kangen Pah." Ucapnya dalam dekapan sang papa.


"Hm..papa juga Nak, apa kabarmu?" Bimo menciumi pucuk kepala Sena.


"Baik pah, seperti yang papa lihat." Sena melonggarkan pelukannya dan tersenyum melihat wajah tampan papanya meskipun sudah kepala Empat.


Cup


Tanpa malu, untuk pertama kali Sena mencium pipi Bimo lebih dulu.


"Hadiah untuk papa yang hebat." Ucapnya dengan wajah bahagia Sena tunjukan.


Senyum Bimo semakin lebar mendapat perlakuan manis dari putri dinginnya itu.


"Terima kasih, papa suka hadiahnya." Keduanya kembali berpelukan.


"Semoga papa selalu bahagia, kami akan selalu ada untuk papa." Ucap Sena dengan lirih.


Dirinya yang mendapat pesan dari Ren, tentang kesedihan sang papa selama ini membuat dada Sena ikut merasakan sesak. Meskipun Sena tidak melihat langsung sang papa bersedih, tapi sebagai anak yang memiliki ikatan darah Sena bisa merasakannya.


"Tentu saja papa bahagia memiliki kalian."

__ADS_1


Keduanya berpelukan dengan tawa, tawa haru yang tersirat rasa kesedihan.


'Mama..kami akan menjaga Papa, kami akan selalu menyanyangi papa, sebagaimana papa menyayangi kami.' Sena berucap dalam hati.


.


.


Setelah berbincang sebentar, dan kebetulan Aldrick juga datang kerumah mereka, seketika rumah Bimo yang biasanya sepi kini menjadi ramai.


Dan mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama.


"Al,.tumben kamu datang kemari?" Tanya Bimo pada Aldrick, karena pria itu memang jarang sekali datang bermain kerumahnya.


"Hanya kebetulan lewat Om." Ucap Al melirik Sena yang terlihat cuek, bahkan Sena memilih duduk di dekat Kemal, dan Al duduk di samping Ren, mereka saling berhadapan.


"Aku kira, kak Al sengaja datang karena kak Sena juga akan datang." Ucap Ren dengan senyum di bibirnya.


Sena hanya diam, dirinya pura-pura tak mendengar.


"Hanya kebetulan Ren, aku juga tidak tahu kalau Sena juga akan pulang."


"Pah, apa papa tahu kakek Lewis?" Tanya Sena sengaja untuk mengalihkan topik.


"Ya, beliau klien papa sejak lama? Kenapa?"


"Em..Kakek Lewis menawarkan kerja sama dengan pabrik, dan kakek Lewis juga sedang mendirikan pabrik makanan ringan tak jauh dari pabrik kota, beliau ingin produk kita disandingkan dengan produk makanan beliau, dan hal itu sepertinya cukup menarik dan menguntungkan." Ucap Sena panjang lebar, mengutarakan pendapat dan penilaian nya pada kerja sama kali ini.


"Ide bagus sayang, kalau seperti itu pasti mereka akan penasaran, dan ingin mencoba produk baru itu, dan karena produk minuman kita sudah lebih dulu terkenal di pasaran".


"Ya, dan sepertinya aku sendiri yang akan menangani kerja sama ini." Sena tersenyum lebar.


"Ya, pasti papa akan mendukung mu."


Semua uang Sena lakukan tak luput dari mata tajam yang sejak tadi menatap ke arahnya. Semua kejadian barusan terekam jelas di otaknya.


'Seperti inikah rasanya jika jatuh cinta.'


.


.


Aldrick Nathan Adhitama


__ADS_1


__ADS_2