Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part75


__ADS_3

Bimo yang kesal pun masuk keruangan Daniel sang asisten.


Bugh


Bimo mendudukkan dirinya di sofa pojok ruangan Daniel.


Daniel yang melihat bosnya pun segera menghampiri.


"kenapa muka loe asem bos." Ucap Daniel.


Danie memang asisten Bimo, namun dirinya bisa menempatkan panggilan nya jika tidak sedang membahas pekerjaan, seperti sekarang.


"Males gue, liat muka tu orang, bikin gue muak aja." Ucap Bimo dengan tangan merentang di sofa kepala Ia sandarkan.


Daniel mengerutkan keningnya, tidak tahu yang Bimo maksud.


"Ck. gue pengen pulang." Bimo berdiri bersiap untuk pulang. karena mood nya hancur melihat Siera tadi, apalagi wanita itu membahas tunangan yang menurutnya tidak penting.


"Ehh.. tunggu dulu, sebentar lagi kliennya Dateng, gak bisa diwakilkan." Ucap Daniel menahan bosnya yang akan pergi.


"Kalau bos pergi, terpaksa besok bos harus pergi ke kota S." Ucap Daniel mengingatkan Bimo.


"Ck. loe sama nyebelin nya Niel." Bimo pergi dan kembali masuk keruangan nya setelah memastikan jika Siera tidak ada lagi.


Hanya tiga jam Bimo berada di kantor, karena memang dirinya datang hanya untuk bertemu dengan klien penting, jika tidak dirinya lebih baik dirumah dengan Alena, gadis yang baru beberapa jam dirinya nikahi.


Mengingat Alena Bimo menyunggingkan senyum, tidak menyangka dirinya akan menikah secepat ini. Apalagi dadakan tanpa kehadiran kedua orang tuanya.


Mengingat orang tuanya Bimo berharap jika Mama dan papanya akan menerima Alena sebagai menantu pilihannya.


.


.


Alena berkutat didepan kompor dirinya sengaja memasak untuk suaminya, Alena tahu jika Bimo menyukai masakan nya.

__ADS_1


Alisa sedang belajar di temani Mirna di kamarnya kamar khusus untuk Alisa dengan desain kartun yang disukai Alisa.


Mirna hanya mengucap syukur, dirinya juga senang melihat Alisa dan Alena mendapatkan pria yang tepat, selain tampan Bimo juga bertanggung jawab dengan Alisa, itu yang membuat Mirna menyukai Bimo dari pada Diki.


Mirna juga tidak menyangka akan ikut diboyong oleh Bimo beserta suaminya, Mirna pikir Bimo hanya akan membawa Alisa, tapi ternyata dirinya juga ikut membuat Mirna senang karena selalu dekat dengan Alisa. Mirna begitu menyayangi Alisa seperti anaknya sendiri, maka dari itu melihat Alisa sedih ataupun terluka membuat Mirna tidak tega dan ikut merasa sedih.


Hampir menjelang magrib suara mesin mobil terdengar dan berhenti. Alena yang sudah menyiapkan makan malam, sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bimo masuk kedalam rumah nampak sepi, semakin masuk dirinya hanya mendengar suara tv yang menyala.


"Kamu sudah pulang." Tanya Mirna yang melihat Bimo Melawati ruangan tv.


"kakak.." Alisa berdiri dan berjalan pelan menghampiri Bimo.


"Hay.. Alis sudah mandi?" Tanya Bimo mencium pipi Alisa.


"Hu'um.." Alisa menggangguk sebagai jawaban.


"Kakak dimana?" Tanya Bimo dengan mensejajarkan tingginya dengan Alisa.


Bimo tersenyum dan mengacak rambut Alisa.


"Mbak, ajak pak Fandi makan juga, saya mau mandi dulu." Ucap Bimo pada Mirna.


"Baik Mas." Mirna tersenyum, ternyata Bimo juga memikirkan keluarganya.


"Kakak mandi dulu, nanti kita makan bersama...oke." Bimo mengecup pipi Alisa gemas.


"Oke."


Bimo pun berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya dan Alena berada.


Ceklek


Masuk kamar Bimo tidak melihat Alena namun terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi ketika Bimo melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek saja, lalu menaruh baju kotornya di keranjang dekat pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ceklek


"Arkkk." Alena berteriak dan menutup kedua matanya menggunakan tangan.


"Kenapa tidak memakai baju sih." Kesal Alena.


Bimo hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. "Memang nya kenapa, kamu kan sudah pernah melihat nya." Ucap Bimo santai, dengan menarik kedua tangan Alena.


"Iss..pakai celana dulu." Ucap Alena yang masih menutup mata.


"Sudah." Ucap Bimo.


Alena pun perlahan membuka matanya mendengar ucapan Bimo.


"Arkk..emph." Bibir Alena segera dibungkam oleh bibir Bimo ketika dirinya akan berteriak lagi.


Bimo Melu*mat bibir Alena rakus, bibir yang sudah sangat Ia inginkan semenjak di kantor.


Lidah keduanya saling membelit, Alena mengalungkan kedua tangan nya di leher Bimo.


"Emph.." Alena meleguh ketika bibir Bimo turun menyusuri lehernya dan memberikan tanda merah disana.


Tangan Bimo menyusuri punggung Alena yang masih terbalut baltrobe.


Tok..tok..


"Kakak..!!" Suara ketukan pintu dan terdengar Alisa memanggil, membaut Alena mendorong dada Bimo.


"Ada Alisa." Ucap Alena dengan napas terengah-engah.


Bimo menatap wajah Alena. "Nanti kita lanjut lagi." Ucapnya dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Pipi Alena terasa panas mendengar ucapan Bimo.


"Mati aku."

__ADS_1


__ADS_2