
Bugh
Tubuh Alena terpelanting kebelakang ketika ketika seseorang menabraknya dengan sengaja.
Alena mendongak melihat siapa yang sudah sengaja menabraknya.
"Upss...sorry gue gak lihat ada orang lewat." Siera menatap sinis Alena.
Siera kembali datang dan kebetulan berpapasan dengan Alena yang baru saja keluar dari toilet, dan kesempatan itu digunakan Siera untuk mengerjai Alena.
Alena hanya menghela napas, berdiri untuk bangun namun dengan sengaja kaki Siera menginjak telapak tangan Alena.
"Auwss.." Alena memekik ketika punggung tangannya sengaja di injak kaki Siera yang menggunakan high heels.
Siera tersenyum menyeringai menoleh kebelakang sebelum melanjutkan langkahnya untuk menemui calon tunangannya.
"Loh..Alena kamu kenapa?" Sindy yang baru saja keluar dari lift melihat Alena yang masih duduk di lantai yang memegangi tangannya.
"Mbak Sindy." Alena hanya diam lalu berdiri di bantu Sindy.
"Tangan kamu kenapa bisa lecet begini Len." Tanya Sindy menyentuh punggung tangan Alena yang lecet.
"Auws..gak papa mbak, tadi gak sengaja kena barang di pantry." Ucapnya berbohong.
Sindy menatap Alena memincingkan mata, luka di tangan Alena baru dan Alena baru saja bangun dari lantai.
"Ya sudah kamu obati gih biar gak gak infeksi." Sindy yang tidak ingin membahas terlalu jauh menyuruh Alena mengobati lukanya.
"Iya mbak." Alena pun permisi dan berjalan menuju pantry.
Sindy kembali ke meja kerjanya, namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu ruangan bosnya sedikit terbuka, seingatnya tidak ada orang di dalam.
Sindy mendekati pintu dan melihat siapa yang baru saja masuk, dan ternyata dirinya melihat Siera yang sedang duduk di kursi bosnya dan memegang bingkai foto milik bosnya.
"Wah..sepertinya model terkenal dan putri dari keluarga konglomerat tidak membuat anda untuk belajar sopan santun dan tata Krama ya.." Sindy bersedakep dada dengan menatap Siera sinis.
Dirinya yang mendapat mandat dari bosnya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memaki wanita yang tak tahu malu itu.
Siera yang mendengar ucapan Sindy merendahkan nya membuatnya geram dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Jaga bicara mu ya, loe itu hanya karyawan rendahan." Siera menatap sindy tajam dengan wajah marah.
__ADS_1
"Ck. Gue rendahan lebih baik dari anda yang dari keluarga terhormat tapi tidak memiliki sopan santun." Cibir Sindy menatap Siera tersenyum mengejek.
"Loe..awas aja loe orang pertama yang akan gue pecat setelah menjadi nyonya Bagaskara." Ucap Siera penuh percaya diri.
"Dih, ucapan anda terlalu tinggi nona." Sindy keluar setelah puas membuat Siera kesal dan marah.
"Arghh..siallan..!!" Siera menghentakkan kakinya dengan wajah kesal dan marah.
.
.
"Tangan kamu kenapa Len?" Gina yang baru datang melihat Alena mengoles tangannya dengan salep.
"Gak papa Gin, hanya luka kecil." Alena tersenyum dan menutup kembali salep yang Ia gunakan lalu menaruh ketempat nya kembali.
"Iya luka kecil, tapi kena apa pasti ada sebabnya kan?" Gina masih menatap Alena untuk meminta jawaban.
Alena berdecak, sahabatnya itu terlalu kepo. "Gak sengaja tadi ketimpa benda berat jadi lecet begini." Ucap Alena menyakinkan Gina.
"Yakin, tidak ada yang kamu sembunyi-in kan?" Tanya Gina lagi, yang belum puas dengan jawaban Alena.
Gina hanya mengangguk tanda percaya.
.
.
"Terima kasih atas kerja samanya tuan." Ucap Bimo dengan menjabat tangan kliennya itu.
"Sama-sama Tuan, saya sangat senang dengan ide anda yang cemerlang, dan anda yang ternyata masih sangat muda." Ucap pria yang kisaran berumur empat puluh lima tahun itu.
Bimo hanya tersenyum. "Terima kasih atas pujiannya."
Mereka melakukan pertemuan bisnis di sebuah restoran yang menggunakan ruangan privasi.
"Ngomong-ngomong apakah anda sudah memiliki kekasih?" Tanya pria paruh baya itu dengan tertawa.
Asisten mereka pun hanya diam dan menyimak pembicaraan kedua bosnya itu.
"Saya tidak punya kekasih tuan." Ucap Bimo santai.
__ADS_1
"Wah, kebetulan sekali kalau begitu..saya memiliki putri yang usianya mungkin lebih muda dari anda sedikit." Ucap pria itu semakin mengembangkan senyumnya. "Siapa tahu anda mau berkenalan dengan putri saya." Lanjutnya lagi sambil mengambil minuman nya untuk di minum.
"Saya memang tidak memiliki kekasih tuan, tapi saya sudah memiliki istri."
Uhuk...
uhuk..
uhuk...
Pria itu tersedak dengan minuman nya sendiri ketika ingin masuk kedalam tenggorokannya.
Bahkan bukan klien Bimo saja yang tersedak, Daniel pun ikut tersedak mendengar ucapan bosnya.
'Kapan si bos menikah?' Tanyanya dalam hati.
"Naff tuan, pelan-pelan." Bimo membantu mengusap punggung pria paruh baya yang terkejut oleh ucapanya, dan mengakibatkan tersedak minumnya sendiri.
"Ah..tidak apa-apa saya hanya terkejut mendengar ucapan anda." Pria itu tersenyum kecut.
"Benar anda sudah menikah?" Tanya nya lagi untuk menyakinkan, karena tidak ada pemberitaan jika CEO perusahaan Bagaskara Grub, sudah menikah.
"Ya, baru dua Minggu usia pernikahan saya." Ucapnya dengan penuh keseriusan.
"Ah..ternyata saya terlambat." Pria itu kemudian terkekeh. "Selamat kalau begitu, semoga menjadi keluarga yang bahagia." Ucap pria itu dengan tulus.
"Terima kasih tuan." Mereka pun mengobrol sebentar lalu sama-sama keluar setelah selesai membahas kerja sama keduanya.
.
.
Authornya lagi lemes Bestie, jadi butuh asupan semangat dan banyak dukungan kalian😩
Jangan lupa YESS..
Beri Rating..
_Like..
_Komen..🤗🤗🤗
__ADS_1