
Blup
Ren menutup pintu mobil dengan membawa satu mangkuk mie seperti yang Alexa mau.
"Asiikk.." Alexa girang sampai bertepuk tangan melihat apa yang sudah suaminya dapatkan.
Seketika kekesalan Ren menguar begitu saja ketika melihat istrinya begitu senang melihat apa yang dia bawa.
"Boleh aku memakannya?" Tanya Alexa menatap mangkuk yang Ren pegang sejak tadi.
Ren tersadar lalu tersenyum. "Silahkan, tuan putri." Ucap Ren menyodorkan mangkuk yang sejak tadi Ia pegang.
Alexa menerimanya dengan senang hati, wanita hamil itu segera memakan mie yang masih hangat dan terasa begitu nikmat, padahal mie rebus biasa hanya saja ada campuran bumbu khusus hingga membuat rasa mie itu begitu enak.
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang." Ren mengusap kuah yang menempel di sudut bibir Alexa menggunakan tisu yang diambil di belakang kursi.
"Em, ini terlalu enak mas." Ucap Alexa tersenyum. "Aa.." Alexa menyodorkan supit kepada suaminya berniat untuk menyuapi. "Coba dulu rasanya enak." Ucap Alexa lagi untuk menyakinkan suaminya.
Ren pun terpaksa membuka mulutnya, karena baru kali ini dirinya memakan mie instan yang sudah di masak sedemikian rupa. "Enak kan." Alexa tersenyum lebar menampilkan jejeran giginya yang rapih.
"Em, Enak." Ren berkata jujur memang enak. "Tunggu sini aku mau pesan lagi." Ucapanya segera keluar dari dalam mobil. Alexa yang melihatnya pun tertawa.
"Terima kasih sudah memberi pesanan saya lebih dulu, karena itu kalian yang masih mengantri aku belikan semua gratis." Ren mengeluarkan uang lembaran berwarna merah berjumlah banyak, si penjual sampai tak percaya dengan apa yang dia lihat, dan mereka yang mengantri pun begitu senang dan bersorak berterima kasih.
"Sama-sama, do'akan istri saya dan bayi saya selamat sampai lahiran nanti." Ren pun tersenyum dan pamit pergi sebelum dirinya dikeroyok wanita yang berada disana.
Sungguh Ren merasa bahagia hanya melihat orang yang mendoakannya dengan tulus, apalagi hanya semangkuk mie yang harganya tidak seberapa dirinya mendapat doa begitu tulus.
__ADS_1
Tidak perlu menginginkan balasan yang setimpal untuk kebaikan yang kita lakukan, hanya mendengar doa dari mereka sudah membuat kita merasa bahagia, berbagi tidak harus melalui materi, dan yang terpenting kita ikhlas untuk melakukannya.
Waktu sudah lewat jam dua belas malam mobil yang mereka tumpangi masih berada di jalan yang begitu lenggang karena memang sudah malam. Ren menatap Istrinya yang sudah terlelap. Mungkin karena lelah dan kenyang Alexa bisa tertidur.
"Semoga aku selalu bisa membahagiakan mu sayang, dan juga anak-anak kita nanti." tangannya mengusap kepala Alexa pelan, lalu turun ke perut rata Alexa. Ren sudah tidak sabar untuk menanti kedua buah hatinya, dan pasti dia akan menjadi pria paling bahagia kerena mendapatkan dua anugrah Tuhan yang dititipkan.
Mungkin seperti ini yang dulu papanya rasakan ketika mengetahui mamanya mengandung dirinya dan juga sang kakak, dan sekarang Ren bisa merasakan apa yang dulu papanya juga rasakan.
Meskipun papanya pernah bercerita jika pernah berpisah selama berbulan-bulan dengan sang mama yang sedang mengandung, tapi Ren percaya jika papanya begitu terpukul dan tersiksa melalui hari-harinya karena rasa bersalah.
Dan Ren tidak mau itu terjadi kepada dirinya, tidak tahu akan seperti apa jika Alexa pergi meninggalkannya, mungkin dia bisa gila.
"Kalian adalah hidupku, teruslah berada di sampingku." Ucapnya sambil mengusap pipi sang Istri.
__ADS_1