Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Membuka kenangan masa lalu


__ADS_3

"Apa papa boleh masuk?" Bimo berdiri diambang pintu kamar Sena, melihat kedua cucunya yang sedang bermain dengan Sena dan Aaron.


"Papa," Sena tersenyum. "Masuk saja Pah, kebetulan twins belum tidur." Sena menggendong Amaar dan mendekati Bimo.


Bimo langsung tersenyum. "Cucu Opa belum mau bobo." Bimo meraih tubuh gembul Amaar dan me gendongannya. Pria paruh baya yang masih bugar itu menggendong Amaar sambil menimangnya, Bimo merasa Dejavu kembali. Ingatannya kembali ke masa lalu ketika dia harus merawat kedua bayinya masa dulu.


Matanya tiba-tiba mengembun dimana dirinya mengingat perjuangannya merawat dua bayi tanpa seorang istri yang berada di sampingnya.


"Pah." Sena yang melihat wajah sedih Bimo menyentuh bahu sang papa.


"Papa hanya ingat masa kecil kalian dulu, papa merasa kembali ke masa lalu. Dimana papa merawat kalian saat masih bayi dan papa menimang kalian seperti ini." Bimo tersenyum, senyum yang begitu memiliki arti begitu dalam.


"Pah." Sena memeluk papanya dari samping, menyandarkan kepalanya pada bahu yang selalu setia ada untuk dirinya sampai saat ini. "Terima kasih sudah membesarkan kami hingga kami menjadi seperti yang sekarang, maaf jika Sena belum bisa membahagiakan papa." Sena tersenyum tipis. Dirinya sangat beruntung memiliki pria dan cinta pertamanya ketika dirinya pertama kali bisa melihat dunia, dan Sena begitu bangga lahir dari rahim wanita yang begitu dicintai sang papa apalagi memiliki pria tegar dan tangguh seperti papanya.

__ADS_1


Sena dan Birendra begitu beruntung memiliki orang tua yang begitu menyayangi mereka, orang tua single yang selalu berjuang untuk kebahagian mereka.


"Terima kasih sudah menemani papa, di saat masa sulit papa." Bimo mengecup kepala Sena dengan masih mengendong Amaar.


Sedangkan Aaron, menimang Ameer yang sudah terlelap dan menaruhnya ke dalam box bayi.


Papa dan anak itu tersenyum, "Papa ingin bicara dengan Aaron, sepertinya Amaar sudah mengantuk."


Sena tertawa, "Ya, dia tadi sudah ingin memejamkan mata, tapi mendengar suara opa, Amaar kembali membuka matanya." Ucap Sena tertawa, lalu meraih tubuh putranya untuk dia gendong.


"Ada apa?" Aaron mendekati istri dan juga anaknya, mengecup pipi gembul Amaar.


"Ikut keruangan kerja papa, ada yang ingin papa bicarakan." Bimo melangkahkan pergi lebih dulu, keluar dari kamar putrinya.

__ADS_1


Cup


Aaron menciumi pipi Sena. "Nyicil sayang, tunggu jangan tidur dulu." Ucap Aaron kembali memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Sena cepat, dan melesat pergi.


"Ck, dasar." Sena hanya geleng kepala, Aaron tidak pernah berubah dengan sifat usilnya sejak dulu.


"Ada yang ingin papa sampaikan?" Aaron yang baru saja masuk ke ruang kerja Bimo langsung duduk di kursi depan meja Bimo, dan pria paruh baya itu hanya mengangguk.


"Bagaimana kamu mengenal Richard Mauren." Bimo bicara dengan menatap Aaron.


Aaron sempat mengernyitkan keningnya, mendengar nama seseorang yang sudah membuatnya celaka bersama sang istri


"Dia rekan kerja yang ingin bergabung di LWS, tapi sebelum itu Richard kalah tender proyek yang karena aku yang memenangkan tender itu, dan mungkin dia tidak menerima kekalahannya_" Aaron menceritakan bagaimana dirinya di jebak dengan minuman dan obat, apalagi pria tua itu juga menyiapkan jal*ng untuk dirinya, ketika bertemu untuk membahas pekerjaan dan Aaron berhasil menghindar berakhir melampiaskan pada Sena, dan membuat Richard menerima balasan apa yang sudah pria itu perbuat dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2