Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part59


__ADS_3

Alena berlari di lorong rumah sakit dengan bercucuran air mata.


Mendengar Alisa kecelakaan Alena seperti hilang separuh jiwanya, Alisa adalah satu-satunya yang Alena miliki, jangan sampai Alisa pergi meninggalkan nya sendiri seperti kedua orang tuanya.


"Mbak."


Mirna langsung memeluk Alena ketika gadis itu sampai didepanya, keduanya menangis terisak dengan saling berpelukkan.


"Alis...Len."


"Kenapa bisa terjadi mbak."


Keduanya duduk dikursi tunggu, Mirna menceritakan yang terjadi, kejadiannya begitu cepat sehingga dirinya tidak sempat melihat plat mobil yang menabrak Alisa. Karena fokus Mirna pada Alisa.


"Maafin mbak Len." Mirna terisak meminta maaf pada Alena, jika saja dirinya tidak terlambat menjemput dan tidak memanggil Alisa pasti gadis kecil itu tidak mengalami kejadian tragis itu.


Alena hanya diam dan masih terisak, dirinya tidak tahu harus menyikapi seperti apa, Alisa masih terlalu kecil mendapat musibah seperti ini.


Tak lama dokter keluar dari ruang UGD. Alena dan Mirna segera berdiri.


"Bagaimana keadaan adik saya dok." Ucap Alena dengan suara serak, karena sejak tadi menangis.

__ADS_1


"Keadaannya sudah melewati masa kritis, namun cidera di kaki adik anda harus segera di tangani." Ucap dokter pria itu.


"Cidera kaki? maksud dokter?" Tanya Alena, dirinya sudah ketakutan duluan mendengar ucapan dokter. Mirna merangkul tubuh Alena dari samping.


"Kakinya adik anda mengalami patah tulang, dan harus segera di lakukan operasi agar bisa kembali normal."


Ucapan dokter seperti palu besar menghantam kepala Alena.


"Baiklah saya permisi, segera lakukan administrasi agar adik anda bisa segera dioperasi." Ucap dokter itu lalu pergi.


"Alis.." Tubuh Alena luruh kebawah, dirinya tidak menyangka jika Alisa kecilnya akan mengalami hal seperti ini.


"Sabar Lena, kita cari jalan keluar sama-sama." Mirna sejak tadi ikut menangis dirinya menyanyangi Alisa seperti anaknya sendiri, dan sekarang Alisa mengalami patah tulang kaki karena dirinya.


"Alisa mbak..hiks..hiks.." Alena menangis dipeluk kan Mirna, dirinya harus kemana mencari uang untuk operasi Alisa.


"Bagaiman Mas, kamu dapat pinjaman?" Tanya Mirna pada suaminya yang baru masuk ruangan Alisa dirawat setelah mencari pinjaman uang kepada sahabat dan tetangga.


"Hanya ada satu juta mah." Ucap Fandi lesu. Dirinya sudah mencari pinjaman kesemua kendalanya namun hanya itu yang dia dapat.


Meskipun Mirna ada uang pemberian dari Bimo namun jumlahnya masih kurang banyak.

__ADS_1


Alena masuk ruangan Alisa setelah tadi pamit keluar.


"Lena bagaiman? Diki bisa membantu?" Tanya Mirna yang begitu melihat Alena datang.


Alena hanya menggeleng. "Nomor Mas Diki tidak aktif mbak, kedua orang tua Mas Diki juga sedang keluar kota." Ucap Alena dengan wajah sendu. Dirinya mendekati Alisa yang masih terbaring di ranjang.


Mirna dan suami saling tatap.


"Alis maafin KK, kakak akan berusaha mencari uang untuk biaya operasi kamu, agar kamu bisa berjalan kembali." Alena mengelus pipi Alisa.


Dirinya tidak tahu harus kemana lagi mencari pinjaman uang, saudara pun Alena tidak punya, sahabat hanya Gina yang Alena miliki, tidak mungkin dirinya meminta bantuan pada Gina.


Petang Bimo baru saja sampai hotel tempatnya menginap, karena seharian dirinya meninjau proyek yang sedang dirinya pantau.


Sibuk di proyek membuat dirinya tidak mengecek ponselnya, ketika sampai hotel baru dirinya menghidupkan ponsel.


Banyak pesan masuk, namun hanya satu yang menarik perhatiannya, pesan dari Mirna.


Mendapat pesan dari Mirna bahwa Alisa mengalami kecelakaan dan harus segera di operasi membuat Bimo langsung menelpon Mirna.


Bimo memikirkan Alena apakah gadis itu mendapatkan uang untuk biaya operasi Alisa.

__ADS_1


__ADS_2