
Sore hari Sena baru sampai di apartemen tempatnya tinggal di Sukabumi. Setelah satu minggu tinggal di Jakarta Sena memutuskan untuk pulang ke Sukabumi Karena pekerjaannya sudah banyak yang menunggunya.
Sena diantar oleh supir keluarga, karena Bimo dan Ren sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota jadi Sena lebih memilih untuk pergi sendiri diantar oleh supir.
Setelah sampai di dalam apartemen Sena menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk nya. "Hah..badan gue capek banget.." Sena memejamkan mata.
Tak lama bel apartemennya berbunyi beberapa kali, namun karena Sena terlalu lelah matanya terpejam dan tidak mendengar suara bel berbunyi.
Seorang pria yang tahu jika Sena sudah kembali ke Sukabumi pun mengikutinya, Aaron selama beberapa hari ini menjadi penguntit Sena. Bahkan pria itu selalu muncul di manapun Sena berada.
"Pasti ini cewek ketiduran." gumam Aaron kesal.
Mengeluarkan ponselnya Aaron mencoba untuk menghubungi nomor Sena, tapi setelah beberapa kali panggilannya terhubung tetap saja tidak diangkat.
"Masa Iya gue harus nunggu di sini." Aaron menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Satu jam kemudian Sena terbangun dari tidurnya, jam sudah menunjukkan 8 malam. Sena masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dirinya bangun karena perutnya sudah merasa lapar.
Setelah selesai dengan kegiatannya Sena keluar dari apartemen, Sena yang kaget karena tak sengaja tubuh Aaron terjungkal ke belakang.
"Aduhh.." Aaron mengaduh ketika punggung nya menyentuh lantai.
"Kamu..!!" Sena yang terkejut mundur beberapa langkah. "Ngapain disini."
Aaron bangun, bibirnya mengerucut tangannya mengusap bokongnya.
"Nungguin kamu lah apalagi.."
Sena mengernyitkan keningnya, matanya menatap pria didepannya dengan bingung.
"Kamu ngikutin saya ya?" Sena memicingkan mata.
Aaron menatap Sena dengan senyum anehnya. "aku harus ikutin bidadariku kemanapun pergi." ucapnya dengan kerlingan mata.
Sena hanya memutar kedua matanya malas.
"Minggir.." Ucap Sena dengan ketus.
"Mau kemana Sen-sen." Tanya Aaron yang melihat Sena menutup pintu apartemennya.
"Bukan urusan kamu."
"Ck. masih aja nyebelin jadi cewek." Aaron mengikuti langkah Sena.
__ADS_1
"Ngapain ngikutin sih sana pergi.!"
"Enggak baik cewek cantik malam-malam Jalan sendirian abang temenin yuk.." Ucap Aaron dengan senyum mengembang.
Sena masih saja cuek, dalam hatinya tersenyum.
Keluar dari apartemen Sena berjalan menuju tenda dimana tempat biasa dirinya membeli makan malam.
"Eh si Eneng bareng si den Rian.." Ucap mang Juki.
Aaron senyum-senyum tidak jelas.
"Iya, pak saya pesan seperti biasa sat_"
"Dua mang bungkus." Ucap Arron memotong ucapan Sena.
"Dih, apa-an sih kamu." Sena mendelik.
"Aku juga mau makan kaki," Aaron mendorong punggung Sena untuk menunggu sambil duduk.
"Duduk dulu kayaknya pesanannya lama." Aaron melihat tenda sepertinya malam ini cukup ramai.
"Sok tahu."
Cekrek
Cekrek
"Iss..apaan sih.." Sena ingin merebut ponsel Aaron, karena sudah mengambil fotonya.
"Hapus ngak." Tangan Sena ingin meraih nya, dengan cepat Aaron menaikan tangannya.
"No.." Aaron tersenyum lebar, dan sedikit mengotak-atik ponselnya.
"Beautiful like a flower.."Aaron menunjukan layar ponselnya, dengan wallpaper foto Sena barusan yang dia ambil.
Sena membuang muka dengan wajah merona, dada nya berdebar.
Aaron memang menyebalkan tapi, dirinya juga merasa nyaman di dekat pria itu. Padahal Sena tidak biasa dekat dengan pria asing yang bukan kelurga nya.
Dengan Aldrick pun Sena tidak dekat.
Aaron senyum-senyum sendiri memandangi wajah Sena di dalam layar ponselnya.
__ADS_1
"Dasar cowok gila.." Sena berucap lirih.
Dirinya tidak menyangka jika Aaron pria menyebalkan itu bisa membuatnya tersipu malu.
Setelah 30 menit berada di luar untuk membeli makanan, kini Sena dan Aaron sudah berada di dalam apartemen Sena.
Awalnya Sena menyuruh Aaron untuk pergi, tapi karena pria menyebalkan itu memiliki seribu cara agar tetap tinggal, membuat Sena kesal sendiri.
Setelah menikmati makan malam berdua, Aaron tak berhenti menatap lekat wajah cantik Sena yang sedang duduk di depannya. Wajah yang begitu cantik membuat dadanya selalu berdebar-debar Aaron membayangkan jika dirinya memiliki istri seperti Sena pasti dirinya sangat bahagia.
"Kenapa liatin aku seperti itu." Ucap Sena yang melirik wajah Aaron tak berhenti memandangnya.
"Hm.. boleh aku berkata sesuatu." Ucap Arron masih memandang wajah Sena.
"Sejak tadi kami bicara terus, aku menolaknya pun kamu tetep bicara."
Aaron hanya tersenyum, Sena benar dirinya banyak bicara jika dekat dengannya.
"Jika aku mencintaimu dan memintamu untuk menikah dengan ku, apa yang akan kamu lakukan." Wajah Aaron begitu serius, menatap lekat bola mata coklat Sena.
Shena tertegun, tangannya yang ingin memasukkan suapan makanan ke dalam mulutnya pun terhenti.
"Ngaco kamu." Jawabnya yang kembali menyuapkan makanan yang sempat tertahan lagi.
Dalam hatinya merutuki kebodohannya, jantung Sena berdebar kencang, sebisa mungkin dirinya tetap menampilkan wajah biasa saja, walaupun rasanya begitu sulit.
Mana mungkin pria asing yang datang tiba-tiba dalam kehidupannya, dan Sena pun tidak mengenal latar belakang Aaron, yang Sena tau Aaron adalah karyawan pabriknya dulu.
"Aku tidak bohong, untuk apa aku bohong jika aku benar-benar mencintaimu." Aaron menyandarkan tubuhnya di kursi. "Akupun rela melakukan apapun asalkan kamu menjadi milikku."
Sena terdiam menatap wajah Aaron yang begitu serius, pancaran kedua matanya yang jujur akan ucapannya dan benar-benar tulus tidak ada kebohongan di kedua mata pria yang berada di depan nya itu. Pria yang baru saja menyatakan perasaannya.
Aaron berdiri dari duduknya, berjalan dan mendekati Sena yang masih duduk diam di kursinya.
Berlutut di hadapan Sena, tangannya meraih kedua tangan Sena yang berada di atas meja.
"Aku Aaron Ryan." Mata Aaron menatap lekat wajah Sena. "Ingin menjadikanmu istriku, mungkin ini terlalu cepat, bahkan kita hanya dua orang asing yang belum mengenal satu sama lain. Tapi aku yakin dengan perasaanku jika aku pun benar-benar mencintaimu dan ingin memiliki mu, menjadikan istri dan menjadi ibu dari anak-anak ku kelak." Ucap Aaron dengan tegas dan serius.
Sena terpaku, tubuhnya menegang, ini kali pertama dirinya di lamar oleh seorang pria.
"Tidak peduli kamu berasal dari keluarga siapa dan dari mana. Yang jelas aku pun bukan siapa-siapa Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku kepada wanita yang begitu Aku cinta yaitu kamu Biana Sena."
Sena tidak bisa berkata-kata, meskipun perasaanya mulai merasakan hal aneh jika dekat dengan Aaron, tapi dirinya tidak tau perasaan apa yang sedang Ia rasakan.
__ADS_1
"Biana Sena, maukah kamu menjadi istriku?"