
Di sore hari Cuaca nampak cerah, nampak seorang pria sedang berjongkok di depan nisan sang istri.
Bimo yang biasa nya setiap hari selalu menyempatkan datang ke pemakaman sang Istri, kini dia datang setelah hampir seminggu tidak berkunjung.
"Sore sayang." Ucapnya menaruh buket bunga mawar putih di atas pusat sang istri.
Mengenal napas, bibirnya tersenyum tipis. "Sekarang putri kita sudah dewasa." Tangannya menyentuh batu nisan sang istri. "Baru kemarin aku menimangnya untuk tidur dan kini dia sudah dewasa." Entah mengapa mengingat Sena sudah menjadi wanita dewasa dan mandiri membuat dadanya merasa sesak, apalagi mengingat putrinya jika akan menikah esok membuatnya kian merasa sedih.
"Maaf baru bisa mengunjungimu sekarang, hampir satu Minggu aku menemui Ren untuk perjalanan bisnis, putra kita juga sudah dewasa dan mandiri, bahkan dia bisa memenangkan tender besar dan menjalin kerja sama dengan kolega besar luar negeri." Bimo bercerita panjang lebar mengenai kedua anak mereka, yang membuatnya bangga.
"Andai kamu masih ada, pasti mereka sangat senang dan bersyukur memiliki Mama seperti kamu." Tak terasa satu tetes air mata jatuh di pipinya.
Tangannya melepas kaca mata hitam yang Ia pakai, mengusap air mata di pipinya. "Aku merindukan mu sayang, sangat..." Dada nya terasa sesak, entah mengapa rindu selama dua puluh dua tahun masih terasa sesak di dadanya.
Bimo yang di depan kedua anaknya selalu merasa baik-baik saja, dirinya tidak pernah menunjukan sisi lemahnya di depan putra dan putrinya, tapi jika di depan pusara sang istri dirinya selalu menumpahkan segala rasa yang Ia rasakan.
Kesedihan yang Ia rasakan, kehidupan yang Ia alami, hanya di pusara sang istri Bimo menumpahkan semua yang dirasakannya.
.
.
.
Tiinnnn
Brak
Motor yang di kendarai Sena menabrak belakang motor besar yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Ah, sial." Alena mengumpat ketika melihat bodi motor bebek nya pecah bagian depan.
"Mas, motornya tertabrak." Ucap wanita yang sedang membonceng di belakang.
"Kucing sialan.!!" Pria yang mengendarai motor besar itu membuka helm yang Ia kenakan.
"Heh, turun kalian." Sena berdiri di belakang kedua orang yang masih anteng di atas motor, apalagi melihat wanita yang di bonceng masih memeluk erat perut cowok didepanya, padahal sejak tadi motor nya sudah berhenti.
__ADS_1
"Dih, biasa aja kali mbak, gak usah ngegas." Ucap wanita itu, dan akhirnya turun dari motor.
Sena hanya menatap datar dengan wajah cueknya.
"Bisa tidak naik motor yang bener, emang jalan milik nenek moyang kalian." Sena menatap datar kedua orang itu.
Tepatnya hanya wanita yang baru saja turun dari motor, sedangkan si pria masih membelakanginya.
"Kalo gak bener, gak mungkin dong mas Rian punya SIM." Ucap gadis itu nyolot.
"Ck, ribet bawa cewek..." Pria yang turun dari motor besar, dan menaruh helm nya di atas tangki motor.
"Mbak jug_ What?" Rian mendelik tajam melihat siapa wanita yang sejak tadi mengoceh.
Sena menatap Rian dengan dingin. "Ck, pria gila." Umpatnya yang masih di dengar oleh Rian dan Rahma.
"Apa kamu bilang..!!" Rian maju dua langkah hingga keduanya saling bertatap wajah dengan sama-sama menatap sengit.
"You crazy man..." Ucap Sena tanpa mengalihkan matanya dari wajah pria didepanya. Meskipun sedikit terpesona dengan ketampanan pria itu, tapi Sena kembali sadar jika pria tampan di depannya adalah pria gila yang sudah menciumnya tanpa permisi.
"This crazy man, who stole your first kiss lady.."
Sena membulatkan matanya, wajahnya merah karena marah. "Pria sialan..!!" Tangannya ingin memukul wajah pria sialan itu, namun dengan cepat pria itu menahan pergelangan tangannya. "Lepas.." Napas Sena memburu, dadanya naik turun karena amarah.
Mata Rian menatap lekat dua bola mata coklat gadis di depannya dengan intens.
Bugh
Rian menarik tangan Sena hingga tubuh Sena membentur dada bidang nya.
Cup
Tidak ada angin tidak ada hujan, Bibir Rian mendarat mulus di bibir ranum Sena yang sejak tadi sudah memancingnya untuk menyentuh kembali.
Sapuan lembut dan sedikit lumattan, Rian mengunci tubuh Sena dalam dekapannya.
Rahma yang melihat adegan live di depannya membulatkan kedua matanya, tangannya membekap mulutnya sendiri tak percaya. "M_mas Rian.." Dada nya bergemuruh menahan gejolak marah yang membakar hatinya, Rahma tidak terima jika pria incaran yang disukainya mencium wanita lain di depannya.
__ADS_1
Plak
Rahma tanpa permisi menampar pipi Sena dalam keadaan bibir kedua orang itu masih bertaut, karena Rian semakin mengeratkan tangannya di pinggang Sena.
"Wanita kurang ajar, berani sekali kamu menggoda pacarku hah.." Rahma menarik rambut Sena yang tergerai hingga membuat Sena memekik kesakitan.
"Wanita ***_***...dasar wanita murahan..dasar wanita tidak tahu diri." Dengan brutal Rahma menyerang Sena.
"Rahma lepas..!!" Rian menarik paksa tubuh Rahma yang semakin menjadi menyerang Sena.
Plak
Sena yang tidak mau terlihat mengenaskan sendiri, memberi tamparan keras pada Rahma yang di pegang oleh Rian.
"Kau..."Sena menunjuk Rahma yang memegangi pipinya karena terkena tamparan keras oleh Sena hingga membuat pipinya terasa kebas. "Tidak berhak menilai dan menghinaku.." Tatapan Sena berubah tajam, namun tersirat akan kemarahan yang begitu besar. "Ambil saja pria brengsek seperti dia." Sena menunjuk Rian yang masih memegangi Rahma.
Dada Sena begitu bergemuruh kemarahan nya membuatnya tak bisa kontrol emosinya. "Ingat, Jangan sampai aku melihat wajahmu lagi, jika tidak ingin merasakan akibatnya." Kilatan kemarahan di mata Sena begitu jelas.
"Em..tunggu..!!" Rian berusaha menghentikan Sena yang sudah menghidupkan mesin motornya.
"Kita bicara." Rian menatap mata Sena yang sudah menggenang, jika saja gadis itu berkedip pasti air matanya luruh. "Ayolah kita bicara." Rian mencegah Sena dan berdiri di depan motor gadis itu.
Sena tidak menghiraukan ataupun menjawab
"Aku akan ganti rugi kerusakan motor mu, ayo bicara." Rian masih mencoba mencegah Sena.
Sena menatap tajam Rian dengan mata berkaca-kaca. "Bicaralah dengan wanita sok suci itu, dan jangan pernah perlihatkan wajahmu di depan wanita ***_***, sepertiku."
Sena menarik gas motornya hingga membuat Rian terpaksa menghindar, jika tidak dirinya pasti sudah ketabrak.
"Sial..!!" Rian mengusap wajahnya kasar, hatinya terasa ngilu, melihat wajah sedih Sena.
"Mas.." Rahma mendekati Rian dengan wajah memelas mungkin. "Sakitt.." Ucapnya di buat menyedihkan agar mendapat perhatian dari pria yang dicintainya itu.
Rian hanya melirik dan berjalan meninggalkan Rahma tanpa berkata.
Sepanjang jalan menuju apartemen, air mata Sena luruh, tangannya mengusap nya agar tidak menghalangi penglihatannya.
__ADS_1
"Mama..." Dadanya terasa sesak, dirinya tidak pernah seperti ini, entah mengapa di sebut wanita ***_*** dan murahan membuat hatinya menjadi sedih.