
Alena mengerjapkan matanya ketika suara alarm berbunyi nyaring.
"Emh." Alena bergerak untuk mengumpulkan nyawanya.
"Sudah bangun hm.." Bimo mengecup bibir Alena sekilas.
"Morning kiss." Senyuman manis menyapa pagi Alena setiap hari.
"Hm..selamat pagi." Alena tersenyum menatap wajah suaminya.
"Mau mandi bareng?" Tanya Alena yang sudah berdiri dengan mengedipkan satu matanya.
"Jangan mancing sayang, kamu lihat dia kalau pagi hari sangat sensitif." Arah mata Bimo melirik bagian bawah perutnya yang memang sudah mengembung di dalam bokser.
Alena tertawa melihat hal itu. "Baiklah aku tidak akan mengganggu." Dirinya hendak berjalan ke arah kamar mandi dengan selimut yang melilit ditubuhnya.
"Akh..Bim." Alena terkejut ketika tubuhnya melayang di gendong oleh Bimo.
"Kamu semakin nakal sayang." Bimo membawa Alena masuk kedalam kamar mandi berniat mandi bersama.
"Hahaha...geli Yank." Alena tertawa keras ketika tangan Bimo mengelitiki pinggangnya saat dirinya sudah di dudukkan di atas marmer wastafel.
Napas Alena memburu ketika dirinya lelah tertawa akibat ulah suaminya.
__ADS_1
Cup
Bimo mengecup dan sedikit memberi lumataan pada bibir Alena yang membuatnya candu, keningnya Ia tempelkan dengan kening Alena. "Jangan pernah pergi dan tinggalkan aku sendiri." Mata keduanya saling menatap dengan penuh perasaan. "Apapun keadaanku aku mohon jangan pernah hilang dari pandangan ku." Tangannya menyentuh kedua pipi istrinya, dengan kening masih saling menempel.
"Janji." Mata Bimo menatap lekat bola mata coklat terang yang membuatnya selalu berdebar.
Jantung Alena kian berpacu dengan cepat.
"Sayang, janji jangan pernah pergi dariku." Suara Bimo terdengar begitu serak, entah mengapa hatinya merasakan ketakutan dan tidak tahu karena apa.
"Hm, janji." Bibir Alena melengkung membentuk senyum. Senyum yang selalu membuat Bimo terpesona.
"Aku mencintaimu, lebih dari kamu mencintaiku." Jari Bimo mengusap sudut bibir Alena.
Tangan kanan Alena mengelus pipi suaminya.
Alena menahan sesak didada ketika melihat senyum manis dan tulus suaminya, tatapan mata Bimo begitu banyak cinta untuk dirinya.
Hati Alena merasa nyeri, entah sampai kapan ibu dari suaminya akan mau menerima kehadirannya.
Jangankan untuk bicara, menatap wajah Alena saja beliau tidak Sudi.
'Tuhan jaga suamiku dimana pun dirinya berada.'
__ADS_1
.
"Eh Len, kamu melamun." Gina yang melihat air di gelas Alena hampir penuh pun menepuk bahu Alena.
"Ah.." Alena yang kaget langsung menarik gelasnya dari dispenser.
"Kamu ada masalah?" Gina menatap wajah Alena yang nampak muram.
"Hanya kecapean Gin."
"Duh pasti pak bos main gempur kamu terus ye kan." Gina menatap Alena dengan wajah geli.
"Iss..otak kamu pagi-pagi udah ngeres Gin." Alena gelang kepala dengan mengulum senyum.
"Aku yakin, jika pak bos gak bakalan bisa jauh dari kamu, dikantor saja dia selalu manggil kamu terus." Ucap Gina yang tahu keposesifan bosnya ganteng nya itu.
Ya, Alena juga mengakui hal itu, jika suaminya ternyata posesif dan tidak bisa jauh darinya, setiap jam pasti Bimo selalu menyuruhnya untuk masuk kedalam ruanganya hanya untuk melihat wajahnya saja.
Alena tersenyum mengingat hal itu, dirinya sudah mengirim pesan jika jam makan siang dirinya memasakkan makanan untuk suaminya itu.
Sebisa mungkin dirinya akan membuat kenangan manis setiap hari.
"Mau masak apa, tumben banyak?" Tanya Gina yang melihat Alena banyak mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.
__ADS_1
"Masakin buat Ayank yang sibuk bekerja." Alena tersenyum dengan wajah meledek Gina.
"Ck. kamu bikin aku iri Len." Gina hanya bisa gigit jari, melihat keromantisan sahabat nya yang sialnya istri bos yang banyak di gulai kaum hawa.