Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part120


__ADS_3

Malam pun tiba, kini di meja makan yang biasanya terasa hangat dan ramai menjadi sepi, dikarenakan hanya ada empat orang saja dalam keadaan hening hanya suara Alisa saja yang terkadang meminta menambah makanan.


Mirna dan Fandy yang sempat akan duduk di kursi tempat mereka duduk pun diurungkan karena di larang oleh Leina ketika mereka akan duduk untuk makan malam bersama seperti biasa.


Alena hanya diam tanpa bisa menjawab ucapan mertuanya, karena jika membela mereka Alena tidak ingin semakin membuat ibu mertuanya tidak suka kepadanya, biarlah nanti dirinya yang akan bicara dengan mbak Mirna dan Fandy.


Bimo yang merasa kesal karena Mamanya hanya diam dan tak mau berdebat si depan anak kecil seperti Alisa, apalagi Mamanya belum bisa menerima Alena membuatnya harus menahan kekesalan dan bersabar menghadapi Mamanya.


"Mama tidak kasihan papa di rumah sendiri." Setelah lama hening akhir nya dirinya berbicara.


"Mama sudah mendapat ijin dari papamu untuk tinggal di sini." Leina dengan santainya bicara sambil makan.


Bimo hanya menghela napas pelan, dirinya tidak yakin jika sang papa begitu saja mengijinkan mamanya untuk tinggal di rumahnya, apalagi papanya itu tidak akan bisa lama di tinggal oleh Mamanya.


"Kakak Alisa mau minum jus." Ucap Alisa kepada Alena.


"Nanti kakak buatkan ya." Alena tersenyum pada Alisa.


"Minumlah yang ada di depan mu, jangan di biasakan untuk meminta yang tidak ada, karena nanti ketika kamu tidak lagi bisa menikmati nya, kalian pasti akan terbiasa." Leina tiba-tiba berbicara.


"Mah, kenapa Mama bicara seperti itu pada Alisa." Bimo tidak menyangka mamanya akan berkata demikian kepada anak kecil.


"Memangnya kenapa, mama berkata benar kan, Bayangkan jika istrimu tidak bisa memberikan apa yang adiknya minta suatu saat nanti." Ucap Leina santai tidak memikirkan perasaan Alena.


"Tapi kan_"


Bimo berhenti bicara ketika tangan Alena memegang lengannya.

__ADS_1


Alena menggelengkan kepalanya. "Tidak apa Mas, yang Mama ucapkan benar."


"Tuh, istri kamu aja ngerti maksud mama, kamu nya aja yang berlebihan memanjakan mereka." Lagi-lagi Leina membuat Bimo bertambah kesal.


Prang


Suara sendok yang di hempaskan kasar oleh Bimo berbunyi nyaring. Bimo menegak air di gelasnya dan berdiri meninggalkan meja makan.


"Mas, mau kemana?" Alena menyentuh tangan suaminya.


"Ada pekerjaan yang harus aku cek, habiskan makanan mu." Bimo mengecup kepala Alena sebentar, dan pergi dengan hati dongkol mendengar ucapan mamanya.


"Maafin Mas Bimo mah." Alena memberanikan diri bicara kepada Leina.


"Kamu seharusnya bicara pada suamimu agar tidak menyalahkan saya." Leina menatap marah kepada Alena, dan pergi dari meja makan.


"Kak Bimo dan Oma ada yang harus dikerjakan sayang."


"Tapi kenapa mereka seperti sedang marah."


"Tidak Alis, mereka tidak marah, sekarang habiskan makan Alis terus istirahat." Alena menyuapi Alisa agar cepat selesai makan nya.


.


.


"Papa sedang ke Kalimantan Bim, ada sodara yang meninggal." Ucap Rendy dari seberang sana.

__ADS_1


Setelah dari meja makan Bimo pergi keruang kerjanya untuk menghubungi papanya.


"Kenapa papa tidak mengajak Mama sekalian, bukanya papa tidak bisa jauh dari Mama." Ucap Bimo lagi yang masih kesal mengingat kejadian tadi.


"Mama kamu tidak mau papa ajak, dan lagian Mamamu juga kurang enak badan."


Bimo hanya menghela napas, dengan memijit pelipisnya.


"Yasudah, papa hati-hati disana."


Bimo pun mengakhiri panggilan telepon nya, dan membuka laptopnya melihat pekerjaan yang sudah sepekan Ia tinggalkan.


"Mbak maafin mama jika membuat mbak Mirna dan mas Fandy tidak bisa ikut makan bersama lagi." Alena duduk di kursi yang letaknya dekat dengan dapur atau kursi dan meja khusus untuk makan para Art yang bekerja, dan malam ini adalah malam pertama bagi Mirna dan Fandi menempati tempat itu untuk makan.


"Tidak apa Len, mabuk ngerti..tidak semua orang tua itu sama memiliki sifat seperti anaknya, mbak tidak apa, justru mbak khawatir sama kamu, sepertinya beliau tidak menyukai kamu." Mirna menatap sendu wajah Alena yang malah tersenyum menatapnya.


"Mbak tidak udah khawatirkan aku, aku tidak apa-apa meskipun memang mama belum bisa menerima aku sebagai menantu tapi aku akan tetap berusaha untuk membuatnya bisa menerima aku apa adanya."


Mirna dan Fandi saling tatap dan tersenyum. "Kamu istri baik yang begitu dicintai oleh Bimo, apapun keputusanmu kami akan selalu mendukung mu." Mirna menyentuh tangan Alena.


"Iya mbak, mas terima kasih, hanya kalian dan Alisa yang Lena punya selain mas Bimo."


Mereka sedikit memberi kekuatan dan semangat untuk Alena, agar selalu kuat untuk menghadapi mertua yang belum bisa menerima kehadirannya.


Mungkin karena status sosial dan latar belakang Alena, yang belum bisa membuat ibunya Bimo menerima Alena, karena Bimo dari keluarga kaya raya dan terpandang, sedangkan Alena hanya gadis yatim piatu bersama adiknya.


Mirna dan Fandy akan selaku berada di samping Alena dan menyemangati gadis yang mereka anggap seperti anak sendiri.

__ADS_1


__ADS_2