Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part95


__ADS_3

"Sudah siap sayang." Tanya Bimo pada istrinya yang berjalan menghampirinya di ruang tengah.


Hari ini mereka ingin mengunjungi Diki, melihat apakah benar pria itu benar-benar depresi seperti yang dikatakan kedua orang tuanya.


"Sudah Mas." Ucap Alena yang berdiri di samping Bimo.


"Mas?" Tanya Bimo dengan kening berkerut.


Alena tersenyum dan mengangguk. "Masa udah nikah aku tetep panggil kamu nama kan gak sopan, iya kan mbak?" Ucap Alena yang di mendapat anggukan dari Mirna yang sedang menemani Alisa menggambar.


Bimo menjadi tersenyum sendiri, dirinya merasa senang meskipun hanya sebuah panggilan.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." Ucapnya dengan meraih pinggang Alena, dan mencium pipi Alena.


"Mas..!" Alena mendelik kearah Bimo, pipinya merona karena di lihat oleh mbak Mirna yang terkikik sendiri sambil menutup mata Alisa menggunakan tangannya.


Bimo tertawa melihat wajah Alena yang malu.


"Mbak kita jalan dulu." Bimo masih tertawa dan pamit pada Mirna.


"Hati-hati kalian." Mirna juga tersenyum, bahagia melihat Alena mendapatkan pria yang begitu mencintainya dan keluarganya, meskipun dirinya dan juga suami tidak memiliki hubungan darah namun Alena ataupun Bimo memperlakukan mereka dengan baik dan seperti kerabat sendiri.


'Semoga kalian selalu, bahagia dan selalu bersama'.


"Mas, tolong jaga rumah ya, kami pergi." Ucap Bimo pada Fandi yang menjaga gerbang di pos.


"Baik Mas, hati-hati dijalan." Fandi pun tersenyum dan menutup kembali gerbang setelah mobil bos mudanya itu sudah pergi.

__ADS_1


"Yank, gimana kalau benar Dia depresi?" Tanya Alena dengan memiringkan tubuhnya menghadap sang suami.


Bimo menatap Alena sekilas. "Tadi Mas, sekarang berubah Yank, tapi aku lebih suka kamu panggil aku yank." Ucap Bimo dengan tersenyum menggoda Alena.


"Em..Kalau panggil yank didepan orang lain aku malu." Ucap Alena dengan menggigit bibir bawahnya.


"Ck. jangan menggodaku sayang." Bimo sudah mulai tak nyaman melihat bibir bawah Alena Ia gigit sendiri.


"Hah, apa siapa yang menggoda?" Tanya Alena yang merasa tidak menggoda suaminya, pada dasarnya Alena tidak menyadari jika tindakannya barusan memancing ke mesum-an suaminya.


"Apa perlu kita mampir ke hotel dulu." Ucap Bimo yang membuat Alena semakin tak mengerti.


"Kita mau ke penjara yank, bukan ke hotel." Alena yang tak mengerti pun menjadi kesal.


"Tapi di bawah sana ngajak ke hotel sayang." Arah mata Alena mengikuti tatapan suaminya yang menunduk.


"Ya..ya.. Hanya sebentar." Ucap Bimo dengan wajah memelas.


"Sebentar mu, lebih dari satu jam yank."


"Janji sebentar, lagian masih banyak waktu untuk kesana." Lagi-lagi Bimo merayu istrinya.


Alena mendesah kasar, dirinya heran kenapa suaminya begitu mesum pada dirinya bahkan Bimo melakukanya setiap hari tanpa lelah.


Meskipun tidak dipungkiri dirinya juga senang melakukan ritual panas itu.


Tanpa menjawab ataupun memberi persetujuan Bimo membelokkan mobil mewah ke sebuah hotel yang tak jauh dari dimana tempat Diki mendekam.

__ADS_1


"Yank.." Alena menatap suaminya tak percaya jika dirinya benar dibawa ke hotel.


Bimo hanya tersenyum dengan menyeringai, membuat Alena ngeri sendiri.


"IC Hotel?" Alena membaca nama hotel yang sepertinya baru didirikan.


"Ya, ini hotel milik OM Allan, IC adalah inisial nama istrinya." Bimo mengandeng tangan Alena untuk masuk ke lobby hotel.


Alen hanya membulatkan bibirnya "Oh."


"Selamat pagi pak Bimo, ada yang bisa kami bantu, ucap resepsionis yang berjaga, kebetulan pegawai hotel disana mengenal semua keluarga Adhitama.


"Sayang ingin Cek-in kamar bersama istri saya." Bimo merangkul pinggang Alena.


Petugas resepsionis itu tersenyum ramah kepada Alena, gadis yang dibawa oleh cucu keluarga Aditama tersebut.


"Silahkan tuan, ini nomor kamar khusu untuk pengantin baru, di kamar ini semua lengkap dengan fasilitas dengan didesain lengkap paket honeymoon." Ucap wanita resepsionis itu panjang lebar menjelaskan, bahkan membuat Alena tak nyaman dan malu sendiri, niatnya hanya ingin mampir tapi malah di berikan pelayanan khusus honeymoon.


Memasuki kamar presiden suite khusus kamar untuk honeymoon Alena menatap takjub dengan ruangan lebar yang di desain sedemikian rupa terlihat begitu romantis.


"Anggap saja honeymoon kita pertama." Bimo memeluk tubuh Alena dari belakang, memberikan kecupan dipipi.


"Niatnya cuma mampir, kenapa malah pesan kamar seperti ini."


"Hadiah, buat kamu..maaf kalau kemarin sehabis kita menikah aku belum kasih pesta seperti layaknya orang lain." Bimo mengeratkan pelukannya kepada Alena.


"Tidak apa, aku sudah bahagia meskipun tidak mendapatkan semua itu..karena aku sudah mendapatkan pria sepertimu yang mencintaiku." Alena membalikkan tubuhnya, kini keduanya saling berhadapan. "Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku." Tangannya membelai wajah Bimo. "Jika suatu saat aku tidak bisa menjaga Alisa, maka kamu harus menjaganya." Ucap Alena tersenyum menatap wajah tampan suaminya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan kemana-mana kita akan selalu bersama, sampai maut yang akan memisahkan kita, jangan pernah bicara sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak menginginkan mu untuk pergi dari sisiku." Bimo langsung melahap bibir tipis Alena dengan kasar, hatinya begitu nyeri mendengar ucapan istrinya.


__ADS_2