
Ballroom hotel itu kini sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang yang bertugas membersihkan sisa pesta. Kini semua orang sudah kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat dan kembali beraktivitas esok hari.
Aaron masih menemui kedua sahabatnya ketika berada di suka bumi yaitu Dadang dan Asep, dengan sengaja Aaron menahan mereka agar tidak ikut pulang bersama rombongan.
"Jadi kita panggil apa dong sekarang, tuan Aaron atau den Ryan." Ucap Dadang dengan serius. Dirinya merasa malu dan tidak enak jika menyapa Aaron hanya nama saja, jelas-jelas kasta mereka jauh berbeda fikir Dadang.
"Ck. kalian berlebihan, santai aja gue lebih suka kalian kayak biasanya." Aaron tersenyum.
Waktu dirinya mencari tempat sembunyi dan mencari pekerjaan tanpa ijasah atau apapun mereka berdua lah yang menolong nya.
"Mane teh, beneran ngak papa kita panggil kaya biasanya." Asep ikut memastikan, padahal Aaron adalah pria kaya raya tapi masih mau berteman dengan mereka.
"Iyalah emangnya kenapa, gara-gara kalian gue jadi bisa kenal sama bidadari gue." Aaron tersenyum dan membayangkan wajah Sena yang begitu cantik.
"Eh lu, mau gue kasih resep biar tahan lama menunggang kuda ngak." Dadang menaik turunkan alisnya.
"Menunggang kuda?" Wajah Aaron mengisaratkan tidak mengerti.
"Ck. gitu doang lu gak tau, tapi udah kawin aja."
Plak
"Gue nikah dan belum kawin, besok lu baru boleh bilang gue udah kawin." Aaron menggeplak tangan Dadang.
__ADS_1
"Hahahah....masih ori ye lu berdua." Dadang tertawa melihat wajah kesal Aaron. "Nih gue kasih vitamin agare lu tahan lama." Dadang menyodorkan bungkusan plastik kecil.
"Apa'an nih." Aaron membolak balikkan bungkusan kecil itu.
"Kata orang ini kuat sampai dua belas jam." Dadang tersenyum jumawa. "Gue yakin neng Sen-Sen loe itu bakalan klepek-klepek sama naga api lu itu " Dadang melirik bagian bawah perut Aaron.
Reflek Aaron mengikuti arah mata Dadang. "Sialan lu."
Kedua teman nya tertawa.
.
.
.
"Ingat, jangan kasih kesempatan Ar untuk malam ini... kamu tidak ingin membalas perbuatanya tadi?"
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya, di mana rasanya Sena juga ingin membalas perbuatan Aaron.
Bahkan sebelum tahu suaminya adalah Aaron, Sena sudah pasrah jika ternyata di balik topeng tadi adalah suami buruk rupanya, yang akan berubah tampan ketika ada wanita yang mencintainya dengan tulus. Karena begitulah cerita dongeng yang pernah Sena baca.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, di mana Aaron melihat istrinya yang duduk sedang membersihkan wajahnya.
"Eh, kamu sudah selesai?" Tanya Sena yang tiba-tiba di peluk Aaron dari belakang, kepala Aaron di ceruk lehernya.
"Hm..Aku merindukanmu." Aaron mengecupi leher Sena, menghirup aroma tubuh yang sudah membuatnya candu.
"Mereka kamu suruh menginap di mana?" Sena mencoba menahan gelayar aneh di tubuhnya ketika Aaron mulai menyusuri leher hingga bahunya yang terbuka.
"Kenapa tanya mereka, disini ada aku bukan mereka." Aaron mendongak menatap wajah Sena dari cermin yang berada di depan mereka.
Sena hanya memutar kedua bola matanya malas, ternayata Aaron adalah pria menyebalkan karena terlalu posesif.
"Hm.." Sena hanya bergumam, dan hendak berdiri namun di cegah oleh Aaron.
"Mau kemana?" Aaron mengecup pipi Sena.
"Sudah malam Ar, aku lelah mau tidur." Sena tidak bohong tubuhnya memang terasa lelah karena hampir empat jam dirinya berdiri untuk menerima ucapan selamat dan doa para tamu undangan yang hadir.
"Tidur?" Beo Aaron menatap tak percaya ketika Sena langsung berbaring di atas ranjang. Dan memejamkan mata.
"Alamak, ini?" Aaron menatap naga apinya yang sudah setengah mengembang, di mana dirinya tadi di paksa oleh Dadang untuk meminum obat tadi, dan sekarang sudah bereaksi.
"Mampus gue." Aaron segera berlari masuk ke dalam kamar mandi di mana sesuatu miliknya yang sudah mengeras ingin di lepaskan.
__ADS_1
"Dadang sialan...!!"