
"Kamu mau menginap dimana bro?" Tanya Yuda yang kini sedang makan malam, ketiganya sedang duduk di ruang makan kecil milik Alena.
Alena memasak menu kesukaan suaminya sehingga membuat Bimo makan dengan lahap, bahkan menu nya malam ini hampir tak bersisa karena Bimo.
"Sayang apa tempat tidurmu lebar?" Tanya Bimo yang sudah menyelesaikan makananya, perutnya terasa penuh karena makanya kali ini cukup banyak, setelah lama tidak pernah merasakan masakan Alena.
"Em..kalau untuk berdua cukup." Ucap Alena polos.
"Lu balik aja kes hotel, gue disini." Lanjutnya kepada Yuda setelah mendengar jawaban Alena.
"Ck. ada asap terselubung bau nya." Ucap Yuda yang mencium bau mesum dari sahabatnya.
Bimo tersenyum miring.
"Iya deh yang udah bisa senyum, tujuh bulan gue empet liat muka lu yang datar dan beku itu."
Bimo semakin melebarkan senyumnya sambil menatap istrinya yang masih menghabiskan makanannya.
"Yaudah deh gue pergi, sepet mata gue liatin muka lu yang gak jelas itu." Yuda berdiri dan melenggang pergi.
"Loh, kok pergi kenapa mas?" Tanya Alena yang memang tidak mengerti karena dirinya asik memakan salad buah yang di belikan oleh Bimo ketika dirinya menginginkan makanan itu, dan Bimo pun dengan senang hati membelinya karena ini hal pertama keinginan sang istri sejak mengandung.
__ADS_1
"Tidak usah di pikirkan." Bimo mengusap sisa yogurt di sudut bibir Alena menggunakan ibu jarinya.
"Kebiasaan mu tidak bisa pernah hilang sayang." Ucapnya dan memasukan ibu jarinya ke bibirnya untuk menyesap sisa yogurt tadi.
"Yank..jorok ah." Alena menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Bimo.
.
.
"Sudah selesai." Alena menunggu suaminya didepan pintu kamar mandi yang terletak tak jauh dari dapur.
"Takut jika kamu membutuhkan sesuatu, karena kamar mandi disini tidak seperti di rumah."
Bimo mengusap rambutnya dengan handuk yang tadi Ia pakai, karena dirinya membawa ganti ke dalam kamar mandi.
"Aku bantu." Alena meraih handuk yang di pegang Bimo. Dengan senang hati Bimo duduk di kursi tempat makan dan Alena berdiri di depannya, diantara kedua kakinya.
Perasaanya kembali hidup dan hangat dari sebelumnya yang meras kosong dan dingin.
"Terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil kami." Bimo mengecup perut Alena yang persisi didepan wajahnya.
__ADS_1
Dirinya tidak menyangka jika istrinya mengandung dua buah hati mereka sekaligus. Meskipun dirinya tahu jika Alena hamil tapi tidak berfikir jika akan mendapatkan bayi dua sekaligus.
"Sayang kapan terakhir kamu periksa kandungan kamu?" Tanyanya disela-sela tangan Alena yang bergerak mengusak rambutnya agar kering.
"Em..satu Minggu yang lalu, memangnya kenapa."
"Aku ingin melihat mereka, di dalam sini." Ucapnya dengan lirih.
Lagi-lagi sesak di dadanya kembali menyeruak ketika menyadari selama hampir delapan bulan dirinya belum melihat ataupun mendengar detak jantung kedua bayinya.
Alena menyudahi gerakannya untuk mengeringkan rambut Bimo. Dirinya berjalan mengambil sesuatu di dalam kamarnya.
Setelah beberapa saat Alena kembali dengan mebawa sesuatu.
"Apa ini sayang?" Tanya Bimo ketika Alena meyerahkan beberapa kertas kecil berwarna hitam putih.
"Mereka dari usia dua bulan sampai kemarin tujuh bulan." Ucap Alena menunjukan foto hasil USG nya kepada Bimo.
Tangan Bimo bergetar mendegar ucapan Alena, menatap kertas berwarna hitam putih itu dari ada titik kecil berwarna hitam hingga dimana terkahir sedikit terlihat jelas dua gambar bayi mereka. Karena di di sana hanya ada USG tiga dimensi, jadi gambarnya tidak terlalu jelas.
"Ya Tuhan.." Bimo tersenyum haru, dirinya tidak pernah sebahagia ini melihat pertumbuhan setiap bulan kedua anaknya hanya lewat foto hitam putih itu.
__ADS_1