
Ballroom hotel yang sudah di sulap dengan mewah, kini di penuhi oleh ribuan tamu undangan yang hadir, bahkan karyawan dari Sukabumi sangat antusias dan semua nya ikut hadir untuk memberikan doa kepada atasan mereka yang baru.
Para petinggi Bagaskara Grub dan para kolega bisnis semua ikut hadir, dimana putri pertama seorang Bimo Bagaskara yang terkenal duda selama dua puluh dua tahun itu menggelar pesta mewah dan megah untuk sang putri.
Semua keluarga dan kerabat hadir untuk memberikan selamat dan doa pasangan pengantin.
Tak lama lampu di matikan hanya ada satu lampu yang menyorot ke satu arah.
Sepasang pengantin berjalan perlahan bak pangeran menggandeng tuan putri, Sena yang begitu cantik dan memukau menggunakan gaun pengantin yang begitu cantik dan indah, bahkan semua mata terpana melihat penampilan Sena bak seorang putri.
Tapi mereka semua heran melihat pengantin pria menggunakan topeng di mata setengah wajah sang pria tak terlihat.
"Ya tuhan Pah, lihat kelakuan putramu." Arin geleng kepala melihat Aaron yang memakai topeng wajah.
"Dia juga putramu, konyol dan pembangkang." Arthur tersenyum, meskipun begitu dirinya sangat bangga dengan putranya.
"Ck. lihat saja nanti malam dia akan tau akibatnya." Kakek Lewis menyeringai ketika sebuah ide muncul di kepalanya.
Sena tersenyum manis ketika dirinya perlahan memasuki ballroom itu, di depan sana berdiri Papa dan juga Ren yang mengembang kan senyum. Mata Sena sudah berkaca-kaca ketika melihat sang papa merentangkan kedua tangannya.
Aaron yang mengerti itu langsung melepas tangan Sena yang merangkul lenganya.
"Papa.." Sena memeluk Bimo erat, sejak tadi pagi dirinya belum bertemu dengan Bimo dan adiknya, dimana dirinya sengaja untuk tidak bertemu dengan keluarga.
"Selamat sayang, sekarang tugas papa sudah selesai." Suara Bimo begitu serak, dirinya menahan sesak didada, dimana saat ini dirinya sudah menyerahkan putrinya dengan pria yang dia cintai.
Sena terisak dalam dekapan sang papa. "Sena tetap anak papa." Sena menatap wajah papanya dengan berlinang air mata bahkan bibirnya tersenyum.
"Sena akan bahagia, papa juga pasti akan bahagia, Sena minta maaf jika selama ini Sena belum menjadi putri terbaik untuk papa."
Bimo mengangguk, sebisa mungkin dirinya tidak meneteskan air mata. "Iya sayang, papa akan bahagia.. semoga kamu bahagia dengan pilihan papa." Bimo mengecup kening Sena dalam, matanya terpejam membuat air matanya menetes.
Semua orang yang menyaksikan terharu, di mana seorang pria rela merawat kedua anaknya hingga besar dan pria itu tidak mencari pengganti mendiang sang istri.
Aaron tersenyum dengan haru, mulai saat ini dirinya berjanji akan membuat Sena bahagia apapun yang terjadi dirinya tidak akan pernah meninggalkan wanita yang sangat berharga itu.
Ren pun ikut meneteskan air mata, saudari kembarnya kini sudah menemukan kehidupan baru.
Sena mengusap air mata Bimo dengan senyum, senyum bahagia namun menyesakkan dada.
"I love you papa.." Sena mengecup kening Bimo.
"Papa loves you too princess...forever.."
"Ren.." Sena memeluk sang adik dengan erat.
"Selamat kak, semoga kakak selalu bahagia." Ren membalas pelukan Sena dengan erat.
__ADS_1
Bimo memeluk Aaron dan menepuk punggung menantunya itu. "Jaga Sena, seperti papa menjaganya selama ini." Ucap Bimo dalam pelukan itu.
"Iya pah, Ar akan menjaga Sena sepenuh hati."
"Terima kasih sudah mencintai putri papa," Bimo tersenyum dalam wajah sendunya. "Pesan papa, jika kamu sedang marah tolong jangan pukul anak papa, jika kamu sudah tidak menginginkannya pulangkan lah sama papa dengan baik seperti papa melepaskan nya dengan keadaan baik." Pesan Bimo pada Aaron.
"Ar janji Pah, tidak akan melakukan hal itu, Ar mencintai Sena sepenuh hati." Aaron menyakinkan Bimo.
"Papa percaya padamu."
Ehem..
Aaron berdehem di belakang Sena yang masih berpelukan dengan sang adik.
"Yaelah, posesif amat, awas aja sampe lu sakiti kakak gue, gue bakalan suruh kakak gue ninggalin lu, biar lu miskin." Ren kesal, karena kakak ipar barunya itu mengganggu momen harunya, karena tiba-tiba Sena di tarik dan dipeluk pinggang nya posesif.
Aaron hanya mendelik, sejak tadi memang Sena belum mendengar suara suaminya itu, bahkan Sena tidak bisa mengenali suaminya yang memakai topeng, 'Apakah suaminya berwajah cacat, sehingga memakai topeng.' Pikir Sena dalam hati.
Kini giliran Sena berkenalan dengan kedua orang tua Aaron, bahkan Sena sempat terkejut melihat wajah Kakek Lewis berdiri di antara kedua orang tua suaminya.
"Kakek.." Ucap Sena ketika sampai di depan kakek Lewis.
"Selamat datang di keluarga Lewis cucu menantu." Kakek Lewis melebarkan senyumnya, tanpa peduli melihat wajah Aaron yang sudah kesal.
"Kakek, jadi_" Sena menatap Aaron sekilas. "Suami Sena cucu Kakek?"
"Selamat datang di keluarga kami sayang." Arin mencium Sena dan memeluknya. "Mama senang putra mama memilih wanita secantik dan sebaik kamu." Arin tersenyum menyentuh wajah Sena.
"Terima kasih Mama." Sena terharu, meskipun baru pertama ketemu tapi mereka menyambutnya dengan hangat.
"Selamat nak, semoga kamu selalu bahagia." Arthur memeluk Sena.
Ehem
Aaron yang posesif menarik tangan Sena agar terlepas dari pelukan papanya.
"Lihatlah suamimu, sepertinya kamu harus ektra sabar menghadapi tingkahnya." Arthur meledek putranya yang ternyata sangat posesif.
Sena hanya tersenyum dan melirik Aaron.
Kini keduanya berjalan untuk menaiki panggung pelaminan.
MC pun kembali membawakan acara, setelah kedua mempelai menaiki pelaminan.
"Nah, sekarang acara yang kita tunggu-tunggu para hadirin semua, pasti kalian penasaran kan seperti apa wajah pengantin pria yang tertutup topeng itu." MC pun tertawa melihat ke arah Aaron. "Apakah dia pria tampan atau pria yang buruk rupa yang beruntung mendapatkan sang putri." Semua tamu tertawa, mendengar candaan MC.
"Sialan.." Aaron mendengus kesal.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Sena yang mendengar umpatan Aaron.
Aaron hanya menggeleng.
"Baiklah tuan pangeran bertopeng." Ucap MC lagi-lagi mengundang tawa para tamu. "Silahkan berdiri dan perlihatkan wajah asli anda, biar kami samua tidak tidak penasaran."
Aaron yang menahan kesal pun berdiri, tangannya terulur utuk membantu Sena berdiri.
Ehem
Aaron berdehem untuk membuat suaranya berbeda. "Jangan kaget jika wajahku jelek." Ucap Aaron setenang mungkin agar Sena tak mengenali suaranya.
Sena hanya mengangguk matanya memindai wajah suaminya yang akan membuka topengnya.
"Baiklah kita bantu menghitung mundur ya para hadirin." MC pun menghitung mundur dan di ikuti para tamu undangan.
Meskipun ada yang sudah tau siapa menantu Bimo Bagaskara itu, tapi mereka juga sangat antusias mengikuti MC menghitung.
Tiga..!!!
Dua..!!
Sa-tu..!!
Lampu kembali di matikan ketika Aaron akan membuka topeng, dan berganti lampu sorot untuk kedua pengantin.
"Ar..!!" Sena membulatkan kedua matanya melihat pria yang berdiri di depannya dengan senyum mengambang.
"Ar..ka-kamu." Sena menutup mulutnya tak percaya.
"Hem.. i love you my wife." Aaron mencium kening Sena, membuat semua tamu bertepuk tangan melihat keromantisan keduanya.
Sena tak mampu membendung rasa terkejutnya.
"Ar, beneran ini kamu, kamu suami aku." Sena menyentuh wajah Aaron.
"Ya, suami yang sudah kamu buat kesakitan aset masa depannya."
Bugh
Sena memukul dada Aaron dan Aaron malah memeluknya. "Kamu mempermainkan aku." Sena tertawa dan menangis jadi satu dirinya sungguh bahagia jika calon yang papa nya pilihkan adalah Aaron pria yang dia cintai.
"Tidak, tapi mereka yang mempermainkan kita." Aaron menunjuk dengan menggunakan dagunya, para keluarga di bawah sana sedang tertawa melihatnya.
"Mereka?"
"Ya, mereka yang tidak memberi tahu dengan siapa aku di jodohkan, kalau tahu itu kamu, aku pasti sudah mau sejak dulu." Aaron tertawa.
__ADS_1
"Iss..dasar." Sena pun ikut tersenyum.