Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Pagi ini di Sukabumi tepatnya di pabrik. Sudah di gemparkan dengan Vidio yang berdurasi tiga puluh detik, Vidio itu beredar di kalangan karyawan pabrik, bahkan sampai ke staf bagian dan para petinggi di pabrik, termasuk direktur utama yaitu Sena sendiri.


Bahkan Sena yang sedang berada di Jakarta pun melihat Vidio dengan adegan yang lumayan syur itu.


"Ini..?" Sena menutup mulutnya tak percaya jika ancaman Vidio yang di maksud adalah seperti itu, di mana dirinya dan Aaron sedang berciuman, dan wajah keduanya pun sangat terlihat jelas maka kali ini Sena tidak akan tinggal diam.


Meskipun perbuatan seperti itu dilarang di lingkungan pabrik, tapi ini adalah privasi dimana ada seseorang yang telah mengambil keuntungan dari hal ini, dan itu tidak bisa dibiarkan.


Sena menuruni tangga dengan tergesa dirinya lupa jika ini hari Weekand dan kedua pria di rumah itu sedang di rumah.


"Kak mau kemana?" Tanya Ren dengan menghadang di depan tubuh Sena.


"Minggir Ren." Tangan Sena menyingkirkan tubuh Ren.


"Nanti dulu, kakak mau kemana pagi-pagi begini." Ren tidak bergeming dirinya tetap menghalangi Sena, karena lusa Sena akan menikah, jadi Ren sebisa mungkin menahan kakaknya untuk pergi.


"Ke pabrik, kakak harus menyelesaikan sesuatu."


"Tapi kak_"


"Sesuatu apa?" Tanya Bimo yang muncul dari arah dapur.


"Papa." Sena menatap papanya dengan sedikit takut, dimana perbuatanya pasti akan mencoreng nama baik sang papa, apalagi kalau sampai terdengar oleh keluarga yang akan di jodohkan dengan nya.


"Apa yang akan kamu selesaikan?" Tanya Bimo lagi yang sudah berdiri di depan Sena.


"Aku..itu masalah yang_"


"Yang sedang ciuman di dalam pabrik dengan karyawan pria.".Potong Bimo cepat.


Glek


Sena menelan ludahnya kasar, mendengar ucapan papanya.


"Pah itu hanya_"


"Hanya rekayasa, atau hanya tidak sengaja." Bimo menatap wajah Sena intens, dimana kedua mata Sena memperlihatkan ketakutannya.


"Pah Sena gak bermaksud_"


"Papa kecewa dengan kamu, papa sudah jodohkan kamu dengan pria pilihan papa dan kamu malah dengan gampangnya berciuman dengan pria lain sampai Vidio itu tersebar, lalu apa yang harus papa bilang pada keluarga pria yang sudah berjodoh dengan mu hah." Bimo menatap Sena dengan kecewa, dirinya tak menyangka putrinya sudah berbuat hal sejauh ini.


"Pah.."


"Selesaikan, atau papa yang akan bertindak." Setelah mengatakan itu Bimo berlalu dari hadapan kedua anaknya.


"Pah.."


Sena ingin mengejar Bimo tapi di cegah oleh Ren, "Lusa pernikahan kakak, sebelum Vidio itu beredar luas sebaiknya kakak selesaikan, jangan buat papa kecewa kak." Ucap Ren menatap kakaknya intens.


Sena mengangguk. "Kakak pergi." Sena berjalan keluar dan menuju garasi mobilnya, kali ini dirinya akan menunjukan siapa dirinya.


Ketika mengeluarkan mobil, tiba-tiba mobil hitam mewah sudah menghalangi jalannya siapa lagi kalau bukan Aaron.

__ADS_1


"Sen-Sen keluar.." Aaron mengetuk kaca mobil Sena.


"Apa-an sih." Sena yang kesal karena di hadang akhirnya keluar.


"Ikut aku." Aaron langsung menarik tangan Sena ketika gadis itu keluar, dan langsung memasukkannya ke dalam mobil.


"Ar.."


Bantahan Sena tak dipedulikan oleh Aaron, dirinya tahu jika Sena akan ke Sukabumi sendiri.


Aaron Kemabli melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah Sena.


"Mereka itu aneh, mau jadi pengantin tapi kayak orang musuhan." Ucap Ren yang tertawa melihat kakaknya yang suka marah-marah pada Aaron pria yang akan menjadi suaminya.


"Kakakmu hanya menjaga perasaan papa." Bimo tersenyum.


"Gak kebayang kalau si Laron itu jadi kakak ipar." Ren membayangkan jika dirinya sedang beradu otor dengan pria yang menyebalkan itu.


"Tapi sayangnya akan jadi kenyataan, karena kakakmu sudah mencintainya." Bimo pun meninggalkan Ren yang masih melihat mobil Aaron hingga keluar dari perkarangan rumahnya.


Didalam mobil sejak tadi Sena hanya diam, dirinya malas dan tidak tau harus bicara apa, apalagi Vidio itu begitu jelas wajahnya dan Aaron terpampang, bagaimana jika Vidio itu tersebar dan sampai di tangan keluarga calon suaminya, pasti akan sangat marah. Dan bagaimana papanya, pasti akan kecewa dan sedih.


"Sen.." Aaron menyentuh tangan Sena. "Maaf untuk kejadian itu." Ucap Aaron yang melihat kesedihan Sena, Aaron berfikir jika Sena pasti sedih karena karir nya terancam rusak dan pasti Sena akan di keluarkan, belum lagi pasti gadis itu akan malu.


"Jangan khawatir aku pasti akan tanggung jawab." Ucap Aaron yang ingin mengecup tangan Sena, secepat kilat Sena menarik tangannya sehingga Aaron tidak jadi menciumnya.


"Jaga batasan kamu Ar, kita bukan siapa-siapa." Sena bicara dengan tegas.


Aaron mengangguk dengan tersenyum getir, ternyata Sena masih tetap dalam pendiriannya.


Bugh


"Kok di pukul sih yank.." Aaron mengusap kepalanya yang Sena geplak menggunakan tasnya.


"Kepala aku di fitrah-in loh."


"Kepala di fitrahin, percuma otak kamu isinya mesum." Sena mendelik menatap wajah Aaron dari samping, karena pria itu fokus menyetir.


"Mesum cuma sama kamu doang sayang, dan itupun kamu suka kan." Aaron menaik turunkan alisnya menggoda Sena, dirinya suka melihat wajah kesal Sena, apalagi bibir tipis Sena yang sudah lama tidak Ia rasakan.


Seketika banyangan ciuman di Vidio tadi berkelana dalam otak nya membuatnya menelan ludah sendiri.


Plak


"Mesum kan, dasar otak ngeres." Sena menggeplak lengan Aaron agar pria itu sadar dari fantasi kemesumannya.


"Duh Sen, lama-lama aku cium kamu loh."


"Dih ogah banget." Sena membuang muka, melihat pemandangan luar jendela.


Setengah perjalanan Aaron memberhentikan mobilnya di sebuah restoran, hanya tinggal tiga jam perjalanan lagi mereka akan sampai, itupun sudah sore hari.


"Ayo turun." Aaron membukakan pintu untuk Sena.

__ADS_1


"Kenapa ke restoran ini?" Tanya Sena yang sangat ingat betul kejadian pertama kali yang menimpanya.


"Hanya ingin mengenang masa lalu." Aaron tertawa jahil. "Tidak apa, hanya ingin kesini saja."


Sena memutar kedua matanya malas. "Ayo.." Aaron menarik tangan Sena untuk dirinya gandeng, Sena tidak menolak melainkan malah tersenyum sendiri.


Mereka memasuki restoran dimana Aaron memilih duduk di tempat yang dulu pernah Ia tempati.


Aaron memanggil pelayan, "Sayang mau makan apa?" Aaron suka sekali membuat jantung Sena tak sehat.


"Samakan saja."


Aaron memesan dua makanan dan minuman, dan sambil menunggu makanan mereka kesibukan Aaron hanya menatap wajah cantik Sena.


Ya, restoran itu adalah tempat dimana untuk pertama kali mereka bertemu, dan pertama kali Aaron mengambil ciuman pertama Sena di dalam toilet.


"Kamu masih ingat tempat ini?" Tanya Sena dengan menatap wajah Aaron sekilas.


Aaron tersenyum senang, karena Sena mengingat tempat ini, dimana tempat yang dia anggap sejarah.


"Ingat, Ingat sekali malah."Aaron menatap wajah Sena. "Karena tempat ini aku bertemu kamu, apalagi di toilet di sini membuat kenangan tersendiri bagiku." Ucapan Aaron membuat Sena tersipu malu.


"Ck, tidak usah bahas di toilet." Ucap Sena yang mencoba menetralkan degub jantungnya.


"Aku tidak membahas sayang, hanya mengingatkan." Aaron mengulum senyum ketika melihat pipi Sena sedikit merah merona. "Karena aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu."


Tak lama makanan yang mereka pesan datang, dimana Aaron memesan dua stik daging dan jus jeruk.


"Disini tidak ada bebek goreng, jadi aku pesankan stik." Ucap Aaron yang memang tahu kesukaan Sena bebek goreng.


"Hm.." Sena hanya bergumam.


Aaron memotong daging stiknya kecil-kecil dan memberikan pada Sena.


"Apa?" Tanya Sena yang melihat Aaron memberikan piring miliknya.


"Untuk kamu." Aaron mengambil piring milik Sena, padahal sudah sempat Sena potong dan di makan.


"Tapi Ar, itukan sudah aku makan." Ucap Sena yang merasa tidak enak.


"Tidak apa? Sekarang makanlah."


Sena hanya terdiam, hatinya berbunga mendapat perhatian kecil dari Aaron tapi mampu membuat hatinya bergetar.


Wajar jika Sena bisa mencintai Aaron secepat itu, karena selama ini Aaron memperlakukannya dengan penuh perhatian apalagi pria itu membuatnya merasa nyaman.


Jika Sena di kasih pilihan, makan dirinya sangat ingin memilih pria di depannya ini menjadi suaminya. Selain tampan Aaron juga seperti papanya ketika memperlakukan dirinya.


Tapi semua sudah ada jalan takdir sendiri, dan mungkin takdir Sena melalui sang Papa, yaitu menerima perjodohan yang sudah di buat.


Hidup selama dua puluh dua tahun, Sena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, meskipun di kelilingi orang baik, tapi sebagai anak Sena juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Ar, apa kamu benar mencintaiku?" Sena menatap Aaron dengan serius.

__ADS_1


Aaron yang akan menyiapkan potongan stik ke dalam mulutnya berhenti. "Ya, bahkan sangat mencintaimu."


Sena hanya tersenyum menanggapi ucapan Aaron, membuat Aaron bingung.


__ADS_2