Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Rian mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dirinya yang sudah emosi melihat Sena tak sadarkan diri dan terikat membuat amarahnya berkobar.


Siapa yang sudah berani bermain dengan nya, pasti tidak akan selamat.


Tiga puluh menit Rian sampai di tempat, dimana Sena di sekap.


"Tikus bedebah..!!" Umpatnya kasar, ketika banyak penjaga disekitaran gedung kosong itu.


Rian mencoba cari aman tanpa ketahuan dan berkelahi, meskipun dirinya memiliki beladiri yang cukup tangguh, tapi melawan banyak musuh, hanya memperlambat waktunya saja.


Melalui semak-semak di samping bangunan itu Rian mengendap-endap, hingga dirinya menemukan pintu samping gedung itu.


"Sebelum menggunakan otot, gunakan otak lebih dulu." Gumamnya tersenyum menyeringai.


Dengan otak nya yang licik, Rian membuka pintu tua itu, dan suara nya pun cukup nyaring.


"Woy..siapa di sana..!!" Teriak seseorang penjaga yang mendengar.


"Dasar pintu sialan..!!" Rian pun segera masuk dan bersembunyi di bagian celah dinding.


"Ck. pintu rusak." Penjaga itupun hanya melihat dan pergi.


Bugh


Rian meninju wajah penjaga itu ketika berbalik.


Tanpa menunggu lama Rian pun membuat penjaga itu tak sadarkan diri.


"Hah, kalian tidak ada apa-apa nya." Ucapnya sambil membuang ludah.


"Sena.." Teringat Sena Rian segera masuk lebih dalam, mencari di mana tempat kira-kira Sena di sekap.


"Rupanya anda sudah datang pangeran." Ucap pria sangar ketika melihat Rian.


"Cih, dasar botak.. ternyata kau biang keladinya." Rian berdecih marah, melihat tubuh tinggi dan botak salah satu orang yang selama ini mengejarnya.


"So..apa anda ingin menyerah tuan muda." Pria yang di panggil botak itu menyeringai.


"Hisss...kalian benar-benar membuatku marah." Rian pun menyerang botak dengan kemampuannya.


Meskipun cukup seimbang tapi Rian mampu membuat wajah botak lebam.


Bugh


"Auws.." Rian memegangi punggung nya yang terkena pukulan balok dari belakang.


"Kumis sialan..!!" Rian pun tumbang dan tak sadarkan diri setelah mengumpat.


"Ck. kau terlalu keras Kum, tuan muda pingsan." Ucap botak sambil tersenyum.


"Jika tidak begitu, mana mungkin kau berani memukulnya keras." Pria yang di panggil Kim itu membantu Rian untuk berdiri dan membawanya ke tempat yang sudah di sediakan.


.


.

__ADS_1


Sena mengerjapkan matanya perlahan, pandanganya masih terlihat rabun, dan lama-lama dirinya bisa melihat dengan jelas.


"Nona sudah sadar?" Tanya seorang maid wanita yang berdiri di samping Sena.


"Kalian siapa?" Tanya Sena yang langsung duduk dengan memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing, menatap ruangan sekeliling yang mewah namun terlihat asing baginya.


"Nona berada di rumah tuan kami." Maid itu memberikan minuman kepada Sena. "Minum dulu nona, ini bisa meredakan pusing anda."


Sena hanya menatap minuman itu, tanpa mengambilnya. "Jangan khawatir nona, ini hanya minuman biasa, setelah anda benar-benar pulih orang kami akan mengantar anda pulang." Ucap maid itu karena Sena enggan untuk menerima minuman itu.


Sena pun mengambil dan meminumnya, dan benar hanya minuman rasa jahe yang dia rasakan.


"Aku ingin pulang sekarang." Ucapnya setelah memberikan gelas itu pada maid.


"Baiklah, mari ikut kami." Maid itupun membantu Sena untuk bangun dan mengikutinya keluar dari kamar mewah tadi.


Sepanjang jalan dari kamar hingga keluar rumah, lebih tepatnya mansion Sena tak habis pikir untuk apa dirinya di culik dan di bawa ke mansion besar lalu di antar pulang.


"Mari nona." Seseorang membukakan pintu mobil mewah untuk nya.


"Semoga kita bisa bertemu lagi nyonya." Ucap maid itu menunduk hormat.


Sena yang di perlakukan seperti itu hanya diam dengan penuh kebingungan.


.


.


"Arghh.." Rian mengeliat ketika dirinya merasakan sakit di punggungnya.


"Tua bangka sialan." Rian menatap tajam kakeknya.


"Masih berani menggataiku..!!" Pria tua itu memukulkan tongkatnya pada kepala Rian.


"Cukup kek, kau mau membuatku geger otak." Rian menepis tongkat yang akan mendarat di kepalanya.


"Masih untung kau geger otak, sebelum ku habisi burung mu itu."


Reflek Rian menutupi aset miliknya. "Hiss..kejam sekali kau kek, jika burungku kau potong mana bisa memberimu cicit banyak."


"Tidak perlu banyak satu saja belum kau berikan." Kakek Rian mendelik menatap cucu satu-satunya itu yang ternyata lebih menyebalkan ketimbang putranya dulu.


"Pantas saja kedua orang tua menyerah, kelakuan mu lebih brutal dari pada ayahmu."


Rian hanya diam, dirinya mengingat-ingat kenapa bisa sampai tempat ini.


"Botak sialan..!!" Rian hendak berdiri tapi di cegah oleh penjaga di samping sang kakek.


"Mau kemana kau."


"Lepas..!! dimana kakek menyekap Sena?" Tanyanya degan marah.


"Siap Sena, bagiku perempuan itu hanyalah pion saja." Ucap kakek.


"Sialan..!!" Rian memberontak untuk melepaskan diri dari kedua penjaga itu.

__ADS_1


Bugh


Bugh


Bugh


Tanpa ampun Rian memukuli dua penjaga itu dengan kedua tangannya hingga kedua nya terkapar.


Sang kakek hanya tersenyum tipis melihat cucunya memukuli bodyguard nya membabi buta.


"Kamu kabur hanya untuk lepas dari perjodohan yang kakek buat, tapi karena wanita kamu datang sampai memukuli bodyguard kakek hingga terkapar."


Rian menatap sengit sang kakek, dirinya memang kabur untuk menghindari perjodohan konyol itu, dirinya tidak mau di paksa menikah dengan wanita buang tidak di kenal, meskipun wanita itu dari keluarga kaya raya.


"Kakek akan menyesal telah menculik Sena." Ucap Rian berapi-api.


"Baik lah kakek akan menawarkan kerja sama untuk mu." Ucap kakek dengan senyum culas.


"Jika kamu berhasil kakek akan lepaskan wanita itu, dan kamu bebas mau melakukan apapun."


.


.


Sena menjatuhkan tubuhnya di ranjang tidur miliknya, waktu menunjukan pukul sebelas malam dirinya baru saja kembali setelah melewati adegan yang cukup membingungkan.


Meraih ponselnya, Sena melihat beberapa panggilan dan chat dari papa dan adiknya.


"Maaf Pah, Sena tadi ketiduran..jadi Sena tidak tahu kalau papa menelpon.."


Jarinya menekan tombol kirim. Sena tidak mungkin bercerita tentang apa yang baru saja Dia alami, meskipun tidak terjadi sesuatu pasti papanya akan khawatir dan panik dan Sena tidak mau hal itu terjadi.


.


.


Rian berdiri di balkon kamarnya, langit malam begitu terang ketika bintang dan bulan menyinari dunia malam ini.


Aaron Rian Lewis, adalah cucu pertama dan satu-satunya Alex Lewis, lebih tepatnya Aaron adalah anak dari Arthur Lewis dan Aerin.


Rian adalah nama samaran atau nama tengah nya, Aaron atau biasa di panggil Ar itu kabur di saat sang kakek menyuruhnya untuk menerima perjodohan itu.


Dan kini Aaron kembali ke mansion besarnya karena menyetujui permintaan sang Kakek untuk bergabung di perusahaan nya yang berpusat di Jakarta, dan Aaron pun lusa sudah harus pergi, kalau tidak sang kakek akan menganggu kehidupan wanita yang sudah membuatnya kalap memukuli bodyguard yang sudah menjaganya selama ini.


"Kakek sialan..!! Bagaiman bisa aku di Jakarta sedangkan Sena disini." Ar meminum anggur merah di tangannya. "Awas saja jika mereka berani macam-macam dengan ku."


.


.


.


AARON RIAN LEWIS


__ADS_1


__ADS_2