
Deg
Alena tak bisa berkata mendengar suara wanita yang dia yakin bukan dari ibu Diki.
"Halo sayang...sayang..!!"
Alena mematikan langsung ponsel Diki meskipun suara diseberang sana masih terdengar.
"Sayang siapa yang telpon?" Diki datang dan kembali duduk, di belakang dirinya tadi mendengar ponsel nya berdering.
"Eng..salah sambung." Alena menjawab dengan wajah sebiasa mungkin.
"Oh.."
Tak lama ponsel Diki kembali berdering. "Sebentar aku angkat dulu." Diki mengusap kepala Alena dan segera berjalan keluar untuk mengangkat telpon.
Apa mas Diki punya wanita lain?
Atau hanya kebetulan salah sambung?
Tapi nama itu?
Pikiran Alena terus berkelana memikirkan wanita yang menelpon Diki tadi.
"Sayang maaf aku harus pergi." Diki menatap Alena merasa bersalah karena harus pergi.
"Tadi seorang klien menghubungi jika ada kendala di bagian pembangunan,.dan aku harus kesana sekarang." Ucapnya lagi.
"Iya Mas...tidak apa-apa." Alena hanya tersenyum.
"Maaf, karena aku terlalu sibuk." Diki mengecup kening Alena dan pergi dari sana.
__ADS_1
Alena hanya berdiri diam memperhatikan mobil Diki yang bergerak menjauh.
"Sedang apa?" Bimo memeluk Alena dari belakang, ketika gadis itu masih berdiri diambang pintu.
"Eh...jangan peluk-peluk Malu tau." Alena mengerucutkan bibir nya melepas tautan tangan Bimo di perutnya.
"Ck. Malu tapi mau." Bimo ikut mencebikkan bibir bawahnya.
Alena hanya tersenyum melihat wajah lucu Bimo.
"Udah mau petang, kamu tidak pulang?" Tanya Alena yang kembali duduk di kursi.
"Nunggu supir." Bimo ikut duduk dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Alena.
"Ehh...jangan begini." Alena merasa kikuk dan jantung nya kembali berdebar-debar.
"Hanya sebentar, sampai Yuda datang." Kursi yang mereka duduki memang tidak panjang, tapi cukup untuk merebahkan badan Bimo, meskipun kaki nya harus menggantung.
Tangan Alena perlahan terangkat untuk mengelus lembut kepala Bimo.
"Kenapa wajah kamu sedih dan muram begitu? Apa dia menyakitimu?" Tanya Bimo yang memang memperhatikan wajah Alena dari bawah.
Alena masih setia mengelus kepala Bimo. "Bilang ada apa?" Bimo mengambil tangan Alena yang berada di kepalanya membawanya untuk dia kecup.
"Tadi gak sengaja aku angkat telpon Mas Diki, tapi_" Alena diam menatap wajah Bimo yang masih dibawahnya.
"Tapi suara perempuan yang memanggil sayang." Alena menghela napas dalam, dengan dada sesak.
Bimo kembali menegakkan badan nya dan duduk menatap Alena.
"Apa kamu berfikiran jika dia punya wanita lain?"
__ADS_1
Alena hanya diam. "Entahlah rasanya tidak mungkin jika pria sebaik Mas Diki selingkuh di belakang aku." Ucap Alena tanpa melihat wajah Bimo yang kesal.
Bimo mendengus kasar mendengar ucapan Alena. "Apa kamu mau tau pria yang kamu sebut baik itu seperti apa di belakang kamu." Ucap Bimo dengan nada kesal.
Alena menatap Bimo dengan bingung." Maksudmu apa?"
"Mungkin jika aku bicara kamu tidak akan percaya, baiklah jika kamu ingin lihat sendiri pria seperti apa yang kamu bilang baik itu, nanti malam ikut aku." Ucap Bimo sungguh-sungguh.
Dirinya tidak ingin melihat Alena terlalu lama dipermainkan oleh pria brengsek seperti Diki.
"Kemana?" Alena masih tak mengerti.
Apakah benar jika Diki benar-benar selingkuh di belakang nya.
"Ketempat yang akan membuat mata kamu terbuka lebar, melihat siapa pria yang kamu sebut baik itu sesungguhnya." Ucapnya lagi dengan nada yakin.
Bimo segera meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada Yuda, jika malam ini dirinya akan membawa Alena ke apartemen wanita yang menjadi selingkuhan Diki. Dan sudah dia pastikan kalau mereka akan berada disana.
"Oke.."
Balasan dari Yuda membuatnya tersenyum menyeringai.
.
.
.
Bang Bim-Bim kok gak jadi rebutan sih..🥱
__ADS_1