
"Duh apes banget sih hari ini." Yuda mengusap keringat yang membasahi kening dan sebagian wajahnya.
Kurang satu jam lagi perjalanan mereka akan sampai di tempat tujuan, tapi ketika di jalan yang cukup sepi ban mobil yang mereka tumpangi mendadak pecah.
Karena tidak ada bengkel yang terdekat akhir nya Yuda lah yang menjadi montir dadakan.
"Lu gak mandi kali Yud tadi pagi." Bimo menatap Yuda dengan wajah capeknya, karena baru kali ini dirinya membantu mengganti ban mobil sendiri.
"Sialan lu, ngatain gue belum mandi." Yuda melempar gulungan tisu bekas keringatnya ke arah Bimo.
"Udah buru, gue aja yang nyetir." Bimo masuk lebih dulu, duduk di belakang kemudi.
Yuda hanya menurut karena dirinya juga lelah dan badannya terasa remuk akibat membongkar ban mobil untuk pertama kali juga.
Waktu sudah sore ketika mereka sedang memperbaiki ban yang pecah dan kini malam sudah menyambut mereka di tempat itu.
"Kita cari penginapan dulu deh, capek badan gue sumpah." Yuda menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
Bimo juga sepertinya kasihan melihat Yuda yang kelelahan, dan kali ini dirinya akan menuruti sahabatnya itu.
Berhenti di sebuah hotel, Bimo memilih hotel yang letaknya tak jauh dari lokasi yang Yuda katakan, dimana istrinya berada.
Dan kedua pria itu memutuskan untuk istirahat di hotel itu untuk sekedar melepas lelah, karena perjalanan mereka memakan waktu seharian penuh.
"Gue saranin lu istirahat dulu bro, besok baru lu temuin bini lu.. agar lu kelihatan lebih fres." Yuda menepuk pundak Bimo dan dirinya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Bimo pun segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, karena tubuhnya juga lelah dan terasa pegal-pegal.
.
.
.
Alena membantu menutup kedai restoran Weni, semua karyawan sudah pulang setelah pukul sembilan malam.
"Ayo..pulang." Weni berjalan beriringan dengan Alena. kedai nya tidak jauh dari tempat tinggal mereka, Weni sudah menawari Alena untuk tinggal bersamanya tapi Alena lebih memilih untuk mengontrak saja, karena tidak ingin merepotkan Weni yang sudah membantunya.
"Ibu mungkin besok Lena akan berangkat agak siang ya, jadi ibu tidak perlu menunggu Lena." Katanya dengan langkah pelan, karena kehamilan nya yang sudah membesar, apalagi hamil kembar membuat perut Alena lebih besar dari umur kehamilan pada umumnya.
"Memangnya kenapa? apa kamu sakit?" tanya Weni menatap intens Alena dari samping.
__ADS_1
"Tidak, hanya saja Lena merasa lelah setelah tadi menyelesaikan menu baru yang Alena buat."
"Kenapa kamu lakukan itu jika membuat mu lelah nak, kasian mereka." Tangannya mengelus perut Alena.
"Tidak apa Bu, ini semua mungkin keinginan mereka juga, karena tidak biasanya Alena sangat ingin membuat masakan kesukaan suami Alena."
Weni hanya mengangguk dan tersenyum. "Semoga kalian selalu sehat dan bahagia, tidak sabar melihat kalian lahir di dunia, apalagi memanggil aku nenek." Weni merasa terharu jika nanti anak-anak Alena lahir dan memanggilnya nenek.
Keduanya berpisah setelah Alena sampai di depan rumah kontrakannya. Weni juga langsung pulang kerumahnya yang jarak nya hanya dua rumah dari tempat tinggal Alena.
"Huh..kenapa dada aku sejak tadi berdebar terus ya." Alena merebahkan dirinya di tempat tidur yang berukuran medium itu.
Karena tidak biasanya jantungnya berdebar tak karuan seperti saat ini. "Mungkin hanya merindukan dia disana." Alena menatap foto di samping tempat tidurnya, foto Bimo yang sempat jatuh dan kini Alena sudah mengganti bingkainya dengan yang baru.
"Selamat malam Mas, kami selalu merindukanmu." Alena tersenyum menatap foto suaminya.
Entah mengapa dirinya merasakan kerinduan yang begitu menggebu, dadanya seakan tak kuasa menahan segala kerinduan nya dan membuatnya sesak.
...****************...
Tak jauh beda dengan Alena, Bimo juga merasakan hal yang sama, dirinya tidak bisa memejamkan mata nya walaupun jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, padahal Yuda yang biasanya suka kelabing hingga pagi, kini pria itu sudah terkapar sejak tadi setelah makan malam.
Dirinya tidak tahu akan melakukan apa jika bertemu dengan Alena, karena dia pergi atas perlakuan ibunya yang begitu membencinya, dan apakah dirinya mampu membujuk Alena untuk ikut kembali bersamanya.
"Aku harap kamu mau memaafkan ku sayang, maaf yang tidak bisa melindungi mu dari mereka." Tangannya mercekram erat besi pembatas pagar balkon.
.
.
.
Pagi seperti yang sudah mereka rencanakan, kini kedua pria itu bersandar di badan mobil, melihat kedai restoran di mana Alena bekerja didepan sana.
"Uwahem.." Yuda lagi-lagi kembali menguap ketika. "Lu gak kira-kira Bim, masih jam enak pagi udah tongkrongan warung orang." Yuda bersungut kesal dengan muka wajah bantalnya.
"Ck berisik lu." Bimo menatap Yuda malas, dirinya tetap santai menunggu kedai itu buka.
"Tau ah, lu emang nyusahin gue aja." Yuda yang kesal melengos kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali merajut mimpinya.
Pagi sekali Bimo sudah membangunkannya dengan tak berperasaan, padahal Yuda masih lelah dan masih mengantuk, bahkan dirinya tidak sempat mandi kerena langsung di tarik Bimo untuk menunjukan tempat Alena bekerja.
__ADS_1
"Ck. kenapa lama sekali sih." melihat jam di pergelangan tangannya dirinya sudah satu jam berdiri di sana, tapi kedai itu juga belum buka.
Merasa lelah karena terus berdiri dan menunggu akhirnya dirinya kembali masuk ke dalam mobil, memilih menunggu dari dalam mobil.
"Dasar kebo." Bimo mendengus melihat Yuda yang sudah kembali ke alam mimpinya dengan aman.
Karena tadi malam tidak bisa tidur alhasil lelah menunggu dirinya juga ikut terlelap di dalam mobil.
Pukul tujuh lagi Weni baru sampai di kedainya, dan para pekerjanya sudah menunggu seperti biasa untuk di bukakan pintu kedai.
"Kalian tahu itu mobil siapa?" Tanya Weni yang melihat ada mobil di parkiran kedainya. dan terasa asing karena tidak biasanya ada mobil yang parkir di sana pagi buta seperti ini.
"Tidak tahu Bu, kami datang mobil itu sudah ada." Ucap mereka.
"Yasudah biarkan saja, ayo kita mulai bekerja hari ini, semangat ya untuk semua." Weni menyemangati para pegawainya yang ada sekitar enam orang sebagai pelayan, dan satu khusus memasak.
"Baik Bu." Mereka semua semangat untuk memulai hari.
"Oya mbak, tolong nanti tambahin menu spesial ini, karena kemarin Alena sempat membuat masakan itu, dan mungkin hanya untuk beberapa orang saja karena Alena tidak membuat banyak, jadi di tawarkan saja makanan itu jika masih ada, dan jika kalian ingin mencicipinya boleh menyisakan dulu." Weni memberi tahu pada pekerjanya yang khusus memasak.
"Baik Bu, nanti saja koordinir sama mereka." Ucap wanita itu pada bosnya.
Weni termasuk bos pemilik kedai yang begitu baik pada pekerjanya, dirinya tidak pernah membedakan mereka, hanya saja jika untuk urusan kasir dirinya tidak mudah percaya kepada siapapun, karena pengalamannya yang dahulu sudah membuatnya belajar.
Hampir dua jam kedua pria tampan itu tidur di dalam mobil, hingga Bimo yang lebih dulu membuka mata ketika tubuhnya terasa pegal karena posisi tidur nya.
"Emp..." Mengeliat untuk melemaskan otot nya tak sengaja tangannya mengenai kepala Yuda.
"Aduh.." Yuda mengaduh ketika kepalanya terbentur kaca pintu mobil.
"Lu ada masalah apa sih Bim, dari lagi udah bikin gue emosi aja." Yuda bersungut kesal, dengan mengusap kepalanya.
"Sorry Yudi, gue gak sengaja." Ucap nya santai.
"Ck. tau ah.." Yuda membuka pintu mobil dan keluar.
"Eh mau kemana Yud." Bimo berteriak ketika Yuda meninggalkannya.
"Makanlah, sebelum gue makan lu orang." Ucap Yuda ketus.
Yuda tak menghiraukan panggilan Bimo, dirinya tetap berjalan masuk ke kedai restoran untuk mengisi perutnya yang lapar.
__ADS_1