
Setelah kejadian itu Ren dan Exa tidak lagi bertemu, Alexa yang fokus pada pekerjaan yang membuatnya sibuk. Dan Ren yang memang paling sibuk sebagai CEO dia harus pulang pergi keluar kota untuk menghadiri metting ataupun bertemu klien.
Meskipun begitu Ren sempat mengirim pesan kepada Alexa setiap ada kesempatan, tapi Alexa tidak pernah membuka ataupun membaca pesan dari Ren.
Kedekatannya dengan kepala staf administrasi keuangan pun mulai hangat di bicarakan, karena mereka sering terlihat bersama. Pagi waktu masuk kantor dan di kantin waktu makan siang, Diaz pasti menghampiri Alexa lebih dulu, sore hari Diaz juga membawa Alexa pulang bersama.
Mereka banyak yang membicarakan karena merasa cocok, cantik dan tampan begitulah para karyawan lain menilai. Apalagi keduanya sama-sama ramah membuat mereka yang kebal dengan Diaz maupun Alexa mendukung hubungan mereka.
Di Bagaskara Grub, tidak ada peraturan yang berlaku jika sesama karyawan tidak boleh memiliki hubungan, kecuali jika karyawan ada yang berselingkuh ketika sudah memiliki keluarga maka perusahaan akan mengeluarkan orang itu tanpa pesangon.
Bimo tidak menerapkan peraturan itu karena dirinya mengingat masa dulu jika Ia telah jatuh cinta dengan gadis OB di kantornya, dan berita dirinya sudah menikah dengan OB pun setelah istri nya telah tiada, karena rencananya akan mengumumkan pernikahan mereka setelah Alena akan melahirkan, tapi Tuhan berkehendak lain.
"Exa, ada sesuatu untuk kamu." Diaz menyodorkan kotak berwarna silver kepada Alexa.
Diaz menghampiri meja kerja Alexa ketika rekan yang lain sudah lebih dulu pulang, dan Alexa yang akan pulang menjadi terhenti.
"Apa ini kak?" Tanyanya dengan menerima kotak itu.
"Buka nya nanti saja setelah sampai di kost, sekarang sudah sore ayo kita pulang." Diaz mengulurkan tangannya untuk Alexa.
Mereka memang semakin dekat, Diaz pun tidak sungkan untuk mengandeng tangan Alexa, karena Alexa sendiri menerima nya.
Diaz ingin memperlihatkan kedekatan dengan Alexa pada semua karyawan, agar tidak ada pria yang mendekati Alexa, karena Diaz sudah merencanakan sesuatu untuk Alexa dan dirinya besok.
"Kak, aku ingin mampir ke Mall." Ucap Alexa ketika keduanya sudah duduk di kursi mobil Diaz.
"Ada yang ingin kamu beli?"
"Em, besok acara ulang tahun perusahaan aku belum memliki pakaian untuk menghadiri acara." Ucap Alexa jujur.
Besok adalah acara ulang tahun perusahaan, dan Alexa sudah berjanjian dengan keempat rekan kerjanya dulu waktu di BGS, karena mereka saja yang mendapat undangan untuk acara itu, mengingat terakhir kali tim Alexa yang bisa membuat program baru untuk divisi keuangan.
"Baiklah." Ucap Diaz dengan senyum. Sebenarnya kotak yang Ia berikan tadi adalah sebuah gaun untuk Alexa pakai di acara itu, tapi Diaz juga ingin melihat jika Alexa memakai gaun dengan pihaknya sendiri dan sudah pasti Diaz juga lah yang di mintai pendapat.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, mobil Diaz sampai di parkiran Mall terbesar di kota.
"Kak Diaz mau menemaniku?" Tanya Alexa yang melihat Diaz membuka sealbeth nya, pikir Alexa Diaz hanya ingin mengantarnya saja.
"Tentu saja, mana mungkin aku biarin kamu sendirian di dalam sana." Jawabnya dengan membuka pintu mobil, Alexa pun mengikutinya.
"Kakak pasti bosan nemenin aku, cewek kan kalau belanja lama." Ucap Alexa, dengan berjalan beriringan Diaz tidak lupa menggandeng tangan Alexa, sepertinya jika Diaz melakukan itu Alexa akan hilang.
"Tidak apa, Karena aku menginginkannya." Diaz tersenyum dengan manis, membuat Alexa memalingkan wajahnya merasa tersipu.
Diaz memang pria yang dulu sempat Alexa kagumi dan sukai di sekolah, tapi melihat Diaz yang sekarang entah mengapa Alexa merasa semakin menyukai Diaz, mengenal pria itu lebih dekat ternyata Diaz adalah pria hangat dan ramah.
Mereka berdua memasuki butik yang berada di Mall itu, dan Alexa di bantu oleh pegawai untuk memilih gaun yang cocok.
"Disana kamar pas nya Mbak." Tunjuk karyawan itu pada ruangan kecil di ujung.
Alexa segera mencoba gaun yang dia pilih, ada tiga gaun yang dia pegang dan Alexa akan memilih satu untuk dia beli.
"Kak bagaimana?" Tanya Alexa ketika membuka pintu kamar pas itu dan melihat Diaz yang memunggunginya.
Diaz menoleh dan menatap Alexa dari atas sampai bawah. "Tidak, warna itu tidak cocok untuk kulitmu." Ucap Diaz yang memberi komentar, padahal gaun itu berbelahan dada rendah membuat Diaz tidak suka jika Alexa memakai itu di tempat umum.
__ADS_1
"Tapi ini bagus kak, aku suka."
"Tidak, sebaiknya coba yang lain." Diaz mendorong punggung Alexa agar kembali masuk, untuk berganti gaun yang lain.
"Yang ini." Alexa keluar dengan memakai gaun warna broken white, kontras dengan kulit Alexa yang putih, dan gaun dengan panjang sampai betis itu terlihat begitu anggun di tubuh Alexa membuat Diaz tak berkedip sejenak dan terpesona.
"Kak bagaimana." Seru Alexa menyadarkan lamunan Diaz.
"Aku suka ini, kamu terlihat begitu cantik." Ucap Diaz dengan jujur memuji kecantikan Alexa.
Alexa yang mendengarnya tersipu malu.
Diaz menemani Alexa untuk membayar di kasir, selain gaun Alexa juga membeli tas yang cocok untuk gaun itu.
"Totalnya xxx.xxx mbak." Ucap kasir.
"Pakai ini." Diaz memberikan kartu miliknya.
"Kak, aku punya uang." Cegah Alexa.
"Tidak masalah, kamu bisa menggantinya dengan hal lain, lain waktu." Ucap Diaz yang memberi kode pada kasir untuk membayar memakai kartunya.
"Hutang aku banyak dong." Ucap Alexa dengan wajah cemberut.
"Ya, dan kamu harus mencicilnya." Jawab Diaz dengan tertawa.
Alexa hanya pasrah dengan tindakan Diaz. "Mana ponsel kakak." Pinta Alexa pada Diaz.
"Untuk apa?" Tak urung Diaz memberikan ponselnya tanpa ragu. Karena baginya Alexa bukanlah orang lain.
Alexa menerima dan tidak menjawab tapi dirinya melakukan sesuatu di ponsel Diaz.
"Exa, aku tadi hanya bercanda. Aku ikhlas membelikanmu itu."
"Tidak apa, lain kali aku akan meminta telaktir lagi." Alexa memberikan kembali ponsel Diaz.
.
.
Ren kembali dari kota S, setelah dua hari. Nanti malam adalah acara ulang tahun kantor dan dirinya siang ini baru sampai di kantornya.
Ren memasuki Lobby dengan pakaian cansual, dirinya yang memang langsung ke kantor tidak peduli dengan penampilannya, padahal dengan penampilan seperti ini membuat semua karyawan yang berjenis kelamin wanita tak berkedip melihatnya.
Celana jins panjang dengan sepatu Kets, dan atasan kemeja yang pres dengan tubuh tegapnya, lengan panjang yang digulung sampai siku, jangan lupakan kaca mata hitam yang dia kenakan menambah aura rupawan Birendra.
Ting pintu lift terbuka Ren segera masuk, dan menekan angka sepuluh. Dimana ruangannya berada.
"Semoga pilihanku cocok untuk Alexa." Ren menatap paperbag di tangannya, dirinya sengaja ke kantor hanya untuk memberikan hadiah untuk Alexa. Dan senyum Ren terus mengembang ketika bayangan Alexa akan tampil cantik ketika memakainya nanti.
Meskipun Alexa mengabaikannya, Ren tidak peduli karena mungkin Alexa sedang sibuk dan tidak sempat membalas pesan yang dia kirim, karena Ren tahu jika divisi keuangan sedang mengerjakan proyek baru untuk akhir bulan ini.
Ren keluar dan sampai di depan meja sekertaris nya. "Ngel, tolong Alexa dari divisi keuangan surah keruangan saya." Ucap Ren seperti biasa, langsung pergi setelah berkata.
"Baik pak," Angel segera menghubungi divisi keuangan tepatnya ruangan Diaz.
__ADS_1
Tak lama setelah lima belas menit, Alexa yang sebenarnya malas sampai di depan pintu CEO.
"Hufh.. kenapa jadi deg-degan gini." Alexa menarik napas tiga kali sebelum masuk keruangan bosnya.
"Semoga tidak ada drama." Gumam Alexa yang muak dengan ucapan Birendra.
"Siang pak." Sapa Alexa ketika sudah membuka pintu lebar-lebar dengan sengaja agar pintu besar itu tetap terbuka.
Ren mendongak, dan mendapati Alexa yang berdiri didepannya.
"Apa pintunya rusak, sehingga kamu tidak bisa menutupnya lagi." Ucap Ren ketus.
Alexa hanya menghela napas. "Ada apa bapak memanggil saya." Ucap Alexa tanpa menghiraukan ucapan Ren.
"Jika tidak ada, maaf pekerjaan saya banyak." Alexa menunduk dan ingin pergi, tapi ucapan Ren menghentikan langkahnya.
"Begitukah caramu bicara dengan atasan, apa kamu sudah tidak butuh lagi pekerjaan disini." Ren menatap tajam Alexa, dirinya berdiri dan mendekati Alexa.
Alexa menatap Ren yang semakin mendekatinya. "Saya hanya bekerja, jika anda ingi memecat saya silahkan." Tantang Alexa dengan wajah santainya. "Lagi pula saya sudah sering dipecat karena anda."
Birendra semakin menatap Alexa tajam. "Bicaralah yang baik, lagi pula sampai kapanpun aku tidak akan pernah memecatmu." Ren menarik pinggang Alexa paksa.
"Lepas..!! Apa anda tidak malu dilihat banyak orang." Umpat Alexa dengan kasar, karena posisi mereka terlalu intim dan pintu ruangan Ren terbuka lebar, siapapun yang lewat pasti melihatnya.
"Kenapa? kamu takut." Ren tersenyum menyeringai, melihat wajah Alexa yang panik dan juga marah membuat dirinya merasa gemas sendiri karena lucu.
Alexa terus mencoba melepaskan tubuhnya pada rangkulan bos menyebalkan itu, ternayata mendatangi Ren sama saja mendatangi buaya.
"Kenapa tidak membalas pesan ku hm, apa kamu begitu sibuk sampai tidak melihat pesan yang aku kirim."
"Ahh." Pekik Alexa ketika tubuhnya melayang, dan Ren menggendongnya menuju sofa.
"Pak, turunkan saya." Alexa terus meronta.
Bugh
Ren menghempaskan tubuhnya di sofa, sehingga membuat Alexa memekik dengan berpegangan pada leher Ren.
Ren yang melihat hanya tersenyum, membenarkan posisi Alexa untuk duduk di pangkuannya, kedua tangan Ren memeluk pinggang Alexa dengan fokus menatap wajah serta kedua bola mata Alexa membuat jantungnya berdebar tak menentu.
Ren menyentuh tangan Alexa, dan menaruhnya di dada sebelah kiri. "Kamu merasakannya." Ucapnya dengan wajah sendu menatap wajah Alexa yang sangat dekat dengannya, mata Alexa berkedip-kedip membuat bulu mata lentik itu bergerak indah. "Jantungku selalu seperti ini akhir-akhir ini jika dekat dengan mu."
Alexa terdiam, "Apa kamu juga merasakan hal yang sama." tanya Ren dengan menatap sayu wajah Alexa.
Untuk sesaat keduanya saling menatap dengan perasaan yang dirasakan masing-masing. "Aku punya sesuatu untuk mu." Ren bergerak untuk meraih paperbag yang dia bawa tadi di atas meja, tanpa melepas Alexa dari pangkuannya Ren meraihnya.
"Terimalah, aku ingin kamu memakainya nanti malam." Ren memberikan paperbag itu, tapi Alexa tak kunjung menerima.
"Percayalah ini bukan bom, yang akan membuatmu meledak jadi tidak ada alasan untuk tidak menerimanya." Ren menyodorkannya ke tangan Alexa.
"Sudah!" Tanya Alexa tanpa ekspresi.
Ren yang mendengar hanya menautkan kedua alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Alexa.
"Jika sudah maka saya permisi." Alexa segera meloncat dari pangkuan Ren ketika pria itu lengah dengan rangkulannya, dan segera keluar dari rungan itu sebelum Ren menyadarinya.
__ADS_1
"Lexa..!!" Teriak Ren dengan kesal, "Berani sekali dia seperti itu." Umpatnya dengan menahan amarah.
Jika wanita yang akan mengejarnya, maka sekarang dialah yang mengejar seorang wanita. Wanita dengan dua sisi yang berbeda jika sedang orang lain dan dirinya, sepertinya Alexa memiliki dendam pribadi pada dirinya.