
Sampai di lobby Alexa masih saja memeluk lengan sumainya hingga mereka berhenti disaat seseorang memanggilnya.
"Ren..!!"
Ren pun berhenti dan Alexa ikut berhenti.
"Bu Jenar." Gumam Ren ketika melihat ibu Jihan menghampirinya.
"Siapa mas?" Tanya Alexa.
"Ren, maaf ibu menemuimu disini." Ucap Jenar ibu dari Jihan yang menunggunya.
"Oh, iya ada apa Bu?" Tanya Ren yang sebenarnya merasa malas untuk bertemu ibu dari perempuan yang sudah hampir membuat istrinya celaka.
"Bisa ini bicara sebentar." Ucap Jenar yang melirik Alexa, Jenar melihat Alexa merangkul lengan Ren dengan posesif.
"Maaf tapi kami ada urusan penting." Bukan Ren melainkan Alexa, entah mengapa dirinya tidak suka dengan lirikan wanita di depannya yang masih cantik itu.
Ren menatap Alexa sekilas, dan kembali berbicara pada Jenar. "Maaf Bu, kami memang ada hal penting yang harus kami selesaikan." Pungkas Ren pada akhirnya, karena sudah melihat raut kesal dari wajah istrinya.
Alexa tersenyum tipis melihat wajah kecewa wanita didepanya. "Tapi Ren, ibu harus bicarakan masalah ini sama kamu, ini tentang Jihan dia_"
__ADS_1
"Maaf Bu, kami permisi."Potong Alexa cepat karena mendengar nama Jihan di sebut. "Dan lagi, Jihan bukan urusan suami saya lagi."
Jederrr
Jenar seperti mendengar petir di siang bolong, dia kira wanita yang sejak tadi merangkul Ren adalah kekasihnya, tapi ternyata malah suaminya, sungguh Jenar tidak menyala jika mantan kekasih putrinya itu sudah menikah.
Jenar hanya menatap punggung kedua orang yang sudah berlalu pergi dari hadapannya dengan perasaan berkecamuk, antara tidak percaya kesal dan juga marah.
Ren menatap Alexa yang berada di kursi penumpang sampingnya, jarak kantor dan penjual bakso yang Alexa katakan sedikit jauh perlu waktu sepuluh menit untuk sampai kesana.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja." Tanya Ren dengan hati-hati, karena tidak ingin membuat Alexa tersinggung dengan pertanyaan nya.
Alexa yang menatap luar jendela kini menoleh. "Baik, memangnya kenapa?" Jawabnya dengan menatap intens wajah suaminya.
"Sudah tidak, karena kamu membawaku ke mari." Alexa tersenyum dan segera membuka pintu mobil untuk keluar, karena Ren sudah memberhentikan mobilnya di parkiran warung bakso yang Alexa maksud.
Ren yang melihat istrinya tidak sabaran geleng kepala. "Kenapa dia hari ini begitu aneh." Ucapnya pada diri sendiri.
Ren beranggapan jika Alexa tidak baik-baik saja, apalagi ketika bertemu dengan ibunya Jihan, Alexa terlihat begitu ketus dan tidak suka, padahal Alexa yang biasanya sangat menghormati dan juga lembut.
Dan mungkin Alexa melakukan itu karena Jihan sudah berbuat jahat padanya, begitu pikir Ren.
__ADS_1
"Loh, sayang kenapa pesen dua." Ren yang baru masuk sudah melihat dua mangkuk bakso di atas meja didepan Alexa yang terlihat begitu menggoda ketika melihat kuah panas itu.
"Aku mau dua-duanya." Ucap Alexa dengan semangat dan mata berbinar-binar.
Ren menelan ludah kasar, ketika melihat Alexa menuang kecap dan sambal yang begitu banyak, membuat lidah seperti terbakar meskipun hanya melihatnya.
"Sayang itu cabainya jangan banyak-banyak." Ucap Ren yang merasa negeri sendiri, melihat tiga sendok sambel Alexa taruh di dalam kuah bakso.
Dengan semangat Alexa mengaduknya, air liur nya seperti akan jatuh menetes kalau tidak segera Ia makan.
"Emmmm..Enak sayang." Alexa menikmati bulatan bakso dengan penuh penghayatan, membuat Ren hanya geleng kepala.
"Aa.." Alexa menyodorkan satu pentol bakso beserta kuah didepan bibir Ren.
"No sayang aku_ Emph.." Ren membulatkan kedua matanya, ketika Alexa menyuapkan bakso dengan tiba-tiba.
"Enak bukan."
Ren mengunyah dengan wajah merah padam, rasa panas langsung menjalar ke tenggorokannya.
"Arrgh pedes.." Ren langsung menegak es teh langsung dari gelasnya tanpa menggunakan sedotan lagi.
__ADS_1
Ren terduduk lemas, setelah merasakan lidahnya seperti kebakar dan menjalar kepala serta wajahnya.
'Ampun dah, gak lagi nurutin yang aneh-aneh.' Batinya dengan lidah yang masih kepedasan.