
Diki bertanya kepada Alena karena mendengar suara mobil yang berhenti di depan.
Alena hanya diam tanpa menjawab.
"Waduh..kayaknya ada yang lagi ke gep nih." Yuda keluar dari mobil juga melihat ada mobil lain, yang Yuda yakin adalah mobil tunangan Alena.
"Duh, berantem apa malah peluk-peluk ya mereka didalam." Yuda bingung sendiri, ingin masuk dirinya takut kena tonjok oleh tunangan Alena yang galak.
Menunggu di luar takut sahabatnya kenapa-kenapa.
"Serba salah nih gue." Yuda menggaruk kepalanya yang tak gatal, lebih baik dirinya menunggu diluar saja.
Diki keluar melihat siapa yang datang, karena sejak tadi tak ada orang masuk.
"Kamu.." Diki menatap Yuda tajam.
"Macan deh yang keluar." Gumam Yuda.
Alena ikut keluar dan berdiri disamping Diki. "Dia pacar temen kantor aku Mas, hanya mengambil barang milik Gina yang ketinggalan." Ucap Alena cepat karena tidak ingin melihat keributan di antara keduanya, karena dia tahu jika Diki pria yang gampang marah.
Yuda di buat melongo mendengar ucapan Alena.
"Iya kan kak, tadi Gina kirim pesan kalau lipstik nya ketinggalan." Ucap Alena sambil memberi kode Yuda agar mengiyakan.
"I-iya sih.." Ucapnya gagap.
"Sebentar aku ambil" Alena melenggang masuk mengambil barang guna yang tertinggal.
Diki menatap tajam Yuda, yang terlihat santai. Berbeda waktu dirumah sakit pria itu menciut ketika dirinya mengancamnya.
"Ehh.."
Bugh
__ADS_1
Alena menutup matanya ketika seseorang menahan tubuhnya ke dinding.
"Hah..kamu disini." Alena berbisik didepan wajah Bimo.
Ternyata Bimo berada di dalam kamarnya bersama Alisa yang masih tertidur.
"Emph.." Alena membulatkan matanya ketika Bimo mencium bibirnya tiba-tiba.
Hanya sebentar namun mampu membuat keduanya merasakan hawa panas.
"Apa dia menyentuh ini." Ucap Bimo mengelus bibir Alena.
Alena hanya menggeleng untuk menjawab.
"Yasudah sana." Bimo melepaskan pelukannya dari tubuh Alena.
"Hah.." Beo Alena.
"Ck. menggemaskan." Bimo kembali duduk di kursi depan cermin tempat Alena biasa merias wajah.
"Dia itu wanita bukan sih, kenapa alat make up nya cuma tiga biji." Ucap Bimo yang tak habis pikir.
Padahal dirinya pernah melihat alat kecantikan Mamanya yang bisa memenuhi meja rias di kamar, belum yang di kamar mandi juga.
.
.
"Ini, tolong kasih sama Gina." Ucap Alena yang memberikan lipstik nya sendiri pada Yuda. "Ya udah gih, Kakak buruan anter takutnya Gina menunggu." Tambahnya lagi yang secara langsung mengusir Yuda.
"Yakin aman?" Ucap Yuda dengan maksud lain.
Alena yang mengerti hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oke..gue pergi." Yuda kembali masuk kedalam mobil setelah tersenyum kepada Diki.
"Apa dia sering kesini?" Tanya Diki.
Kini keduanya sudah kembali duduk.
"Ngak juga, tadi kan karena aku jalan sama Gina." Ucap Alena tenang, meskipun ada rasa takut jika Diki tahu ada pria lain sedang bersembunyi di kamarnya.
"Mas mau kekamar mandi sebentar." Diki beranjak dari duduknya setelah menaruh ponsel di meja dari saku celananya.
Alena hanya mengangguk.
Drt...Drt..
Ponsel Diki bergetar, namun Alena tak berniat untuk mengangkatnya, sehingga ponsel itu mati sendiri.
Tak lama deringan kembali bergetar, Alena yang penasaran melihat ID nama di layar ponsel Diki yang di beri nama 'Nyonya lain'.
"Eh..apa ini dari ibu, tapi kok namanya Nyonya lain." Alena pun mengambil ponsel Diki karena melihat nama yang tertera Ia kira dari ibu Diki.
Deg
Alena membeku mendengar ucapan dari seberang sana.
.
.
.
Neng Ale nya siapa ini...😜
__ADS_1