Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Melacak


__ADS_3

Brakk


Dor


"Ahh,.shitt.!!" Aaron Memejamkan matanya ketika mobilnya kembali diserang dari samping dan belakang.


Beruntung dirinya bisa menghindari tikungan yang dilewati, dan sekarang dirinya harus menahan sakitnya tertembak.


"Bertahanlah Ar, demi keluarga kecilmu." Gumamnya dengan merasakan nyeri di bagian lengan kiri yang terkena peluru tembakan dari samping. Aaron kembali menekan pedal gasnya ketika di depan sana dirinya melihat pos polisi dan berharap ada yang bisa membantunya.


Keringat dingin sudah muncul di pelipisnya, menahan rasa panas dan sakit di lengan yang terkena tembakan.


"Tuhan beri hamba pertolongan." Dengan sekali putar setir ke kanan Aaron membelokkan mobilnya yang lumayan remuk ke pos polisi, dan Tuhan mengabulkan doanya disana banyak polisi yang berjaga.


Ciittt


Suara decitan ban mobil miliknya langsung membuat atensi beberapa polisi mengarah pada mobil yang baru saja berhenti di depan pos mereka.


Dan mereka menghampiri ketika melihat mobil itu nampak rusak dan hanya di bagian tertentu, apalagi ada bekas tembakan di bagian samping depan.

__ADS_1


Melihat dua mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, polisi yang lain langsung sigap mengejar dua mobil itu, mereka yakin jika kedua mobil itu yang membuat celaka korban.


Tok...Tok..tok..


Salah satu dari mereka mengetuk pintu kaca samping kemudi yang terkena tembakan.


Aaron pun langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dengan wajah datar.


"Pak Aaron Lewis." Salah satu dari mereka mengenali wajah Aaron.


"Tolong antarkan saya ke jalan xxx," Ucap Aaron yang mengingat Istrinya.


"Istri saya lebih penting." Tegas Aaron dengan napas yang sudah mulai memburu.


"Baik."


Rekan satunya, membukakan pintu mobil dan menyuruh Aaron untuk duduk di bagian kursi penumpang, mereka khawatir namun juga tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi Aaron adalah cucu satu-satunya keluarga Lewis.


Aaron memejamkan matanya, kepalanya bersandar di bahu kursi. Ingatannya kembali ke beberapa hari kebelakang mengingat dirinya pernah memiliki musuh. Dirinya yang tidak terbiasa membawa pengawal kini merasa hidup keluarga kecil nya terancam.

__ADS_1


"Ren, kenapa kakak mu belum juga sampai rumah, dia bilang hanya sebentar untuk mampir ke toko mainan." Tanya Bimo yang sudah duduk dikursi meja makan, tadi Sena mengirim pesan ketika mobil mereka mengambil jalur yang berbeda di jalan. Dirinya merasa ada yang mengganjal di hati, apalagi sudah lewat dari jam tujuh dan mereka semua menunggu Sena yang belum juga kembali, tidak biasanya seperti ini.


"Ren coba hubungi Pah." Ren menghubungi nomor Sena, tersambung tapi tidak di angkat sampai beberapa kali.


"Kak Ar." Ren kembali menghubungi nomor kakak iparnya, namun tidak juga tersambung, malah tidak aktif.


Beberapa kali Ren kembali menghubungi tapi hasilnya tetap sama.


"Tidak di angkat Pah." Ucap Ren langsung membuat mereka panik.


Bimo mengeluarkan ponselnya dan melacak nomor Sena, "Bukankah ini di jalan xx, yang baru saja di perbaiki dan sepi." Ucap Bimo melihat letak titik berhenti di layar ponselnya.


Ren mendekati papanya, begitupun juga Gio. "Iya pah, untuk apa kakak disana." Ren nampak mengusap wajahnya.


Segera dia menghubungi orang suruhannya untuk melacak jalan yang di lalui Sena dan juga Aaron.


"Mas," Alexa mendekati suaminya dengan wajah panik dan kahawatir.


"Tenanglah, tidak akan terjadi sesuatu." Ucap Ren untuk memenangkan Istrinya.

__ADS_1


Bimo juga menghubungi orang-orangnya untuk melacak keberadaan putrinya.


__ADS_2