
"Len kamu ada masalah apa? tidak biasanya kamu sakit gara-gara banyak pikiran apa lagi sampai di rawat seperti ini." Mirna duduk di kursi samping ranjang Alena yang setengah duduk di ranjang pasien.
Alena yang sedang memakan buah yang dikupas kan Mirna menghela napas, dirinya juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini pikiranya selalu memikirkan ibu mertua dan suaminya.
"Len.." Panggil Mirna karena Alena tidak menjawab dan malah bengong.
"Emm..gak papa mbak, hanya banyak yang harus aku pikirin apalagi setelah menikah." Ucap Alena memberi alasan, dirinya tidak mau jika Mirna tahu Mamanya Bimo tidak bisa menerimanya sebagai menantu.
Mirna yang kurang puas dengan jawaban Alena hanya menghela napas dirinya juga tidak ingin memaksa Alena untuk bercerita masalah pribadinya.
"Mbak mau jemput Alisa dulu, sudah waktunya pulang." Mirna beranjak dari duduknya untuk mengambil tasnya.
"Iya mbak, bawa Alisa kesini saja biar aku gak kesepian."
"Baiklah, nanti mbak ajak kesini." Mirna keluar dari ruang rawat Alena.
"Maaf mbak Lena tidak ingin membuat mbak Mirna khawatir." Alena menatap sendu tubuh Mirna yang hilang di balik pintu.
.
.
Di kantor Bimo baru saja keluar dari ruang mitting kali ini dirinya cukup puas dengan hasil yang disampaikan.
Pembangunan berjalan dengan semestinya, karena para investor tidak jadi menarik sahamnya alasannya karena Bimo sendiri yang menyakinkan mereka untuk tidak menarik saham mereka semua dan Ia juga menjanjikan keuntungan yang begitu besar mereka dapatkan, dan usahanya tidak sia-sia pembangunan kembali berjalan normal dan akan selesai dalam waktu kurang satu bulan.
Jika Bimo sedang senang atas kemenangan nya, maka lain dengan pria paru baya yang sedang marah kepada bawahannya.
Richard yang mengetahui usaha nya gagal untuk mempengaruhi para investor lainnya pun merasa geram, dirinya yang tidak terima di hina oleh Bimo pun menjadi benci.
__ADS_1
Richard adalah tipe pria yang ambisius dan sifat nya menurun pada putrinya yaitu Siera.
Siera memiliki rencana sendiri untuk membalas perbuatan Bimo yang sudah menghinanya, sebagai wanita terhormat dan banyak yang berminat kepadanya, siera tidak terima jika dirinya dianggap sebagai wanita murahan.
.
.
Ceklek
Alena keluar dari kamar mandi dengan membawa kantong infus, dirinya terkejut melihat Mama Bimo sudah duduk disofa ruang rawatnya.
"Nyonya.." Ucap Alena terbata, meskipun dirinya menantu tapi melihat sikap Leina yang belum menerimanya Alena memanggilnya nyonya.
Leina menatap Alena dari atas sampai bawah berdiri dan mendekati Alena yang masih berdiri diam ditempatnya.
"Kamu senang bisa mendapat perawatan kelas VVIP mahal seperti ini heh." Leina bersedakep dengan berjalan memutari tubuh Alena. "Sepertinya kamu menikmati kehidupanmu sebagai nyonya Bimo Bagaskara yang kaya raya."
"Jika bukan karena anak saya menikahi kamu, mana mungkin kamu dan keluargamu itu mendapat fasilitas dan kehidupan layak bahkan semua kebutuhan kamu dan mereka anak saya yang mencukupi, jika bukan anak saya kamu tidak punya apa-apa..!"
Alena hanya diam dengan wajah sedikit menunduk, dirinya tidak ada keberanian jika menyangkut ibu mertuanya yang jelas ibu dari suaminya.
Jika orang lain Alena mungkin tidak akan diam, lain halnya yang dia hadapi sekarang adalah ibu kandung suaminya yang begitu suaminya sayangi dan hormati.
"Asal kamu tau ya, saya tidak akan pernah mau menerima kamu menjadi menantu saya." Leina menatap tajam Alena.
"Berapa yang kamu butuhkan." Leina merogoh tas nya dan mengeluarkan cek kosong. "Tulis semau mu dan tinggalkan putra saya." Leina melempar cek kosong kepada Alena dan pergi begitu saja.
Alena diam mematung air matanya seketika jatuh ketika ibunya Bimo keluar dari ruangannya.
__ADS_1
.
.
"Kakak..." Alisa masuk dengan Mirna dibelakangnya.
"Alis.." Alena tersenyum senang dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
"Len, mata kamu kenapa bengkak?" Tanya Mirna yang menyadari mata Alena sembab.
"Oh..tadi liat tv bikin aku baper sampai nangis mbak." Ucap Alena bohong.
Nyatanya setelah kepergian ibunya Bimo dirinya menangis terisak lumayan lama.
"Kakak cengeng, cuma liat tv aja nangis, Alis yang jatuh dari sepeda dan kaki Alis lecet gak nangis." Ucap Alisa dengan gaya khasnya.
Alena tertawa dan memeluk tubuh Alisa yang duduk di atas ranjang sampingnya.
"Alis hebat dong, dari kak Lena kalau begitu."
"Iya dong, Alis kan sudah besar." Ucap Alisa dengan senang.
"Iya deh Alis sudah besar, sampai ada anak cowok disekolah yang kejar-kejar Alisa." Ucap Mirna menggoda Alisa, ketika pulang tadi Alisa di buntuti oleh anak cowok yang memanggil-manggil namanya.
"Iss..itu si Dodo ibu, dia teman Alis yang nyebelin." Ucap Alisa dengan wajah cemberut.
"Nyebelin tapi suka." Lagi-lagi Mirna menggoda.
Alena tertawa melihat wajah lucu adiknya, apalagi sekarang Alisa bersekolah di tempat yang cukup elit karena Bimo yang memindahkan Alisa kesekolah yang lebih dekat dengan rumah baru mereka.
__ADS_1