Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Makan siang Aaron


__ADS_3

Hidup di dunia tidak ada yang berjalan lurus tanpa hambatan, pasti ada batu kerikil ataupun sungai untuk kita lewati dan sebarangi, masalah Ren dan Alexa tentang Jihan adalah secuil masalah kehidupan, dan pasti masih ada masalah-masalah lainya yang akan mereka lewati.


Bagi Birendra, keselamatan istrinya adalah yang terpenting, dirinya tidak akan melepaskan siapapun yang sudah membuat Istrinya terluka, itulah saya fat Birendra yang mendapat warisan dari sang papa.


Cintanya kepada sang istri begitu besar, hingga membuatnya tak perlu menoleh ke kanan dan kiri untuk melirik cinta yang lain. Kini Birendra sudah bahagia dengan memiliki Alexa sebagai istrinya dan calon bayinya yang masih dalam kandungan.


"Mas, aku mau mampir ke sana." Alexa menunjuk sebuah toko kue yang tidak jauh dari kantor Bagaskara Grub, setelah bertandang ke kantor polisi dan membebaskan Jihan, mereka memutuskan untuk pergi ke kantor.


"Apa ini termasuk ngidam twins?" Ucap Ren yang membelokkan setir kemudi ke toko kue yang Alexa mau.


"Tidak, aku hanya ingin membeli dan membagikannya dengan rekan kerja." Alexa melepas sabuk pengaman.


"Oh, aku kira karena ngidam." Ren tersenyum dan ikut turun dari dalam mobil.


"Mas tunggu sini saja, aku hanya sebentar." Ucap Alexa yang menyuruh Ren untuk menunggu di luar.


"Oke, jangan lupa aku juga mau." Ren tersenyum.


Alexa membalas dengan acungan jari jempolnya, dan melenggang masuk ke dalam.


Di dalam Alexa memilih banyak macam kue, ada enam macam untuk rekan kerjanya, dan dua lagi untuk suaminya.


Ketika ingin membayar Alexa tak sengaja menyenggol bahu seseorang, membuat keranjang belanjaan orang itu terjatuh dan kue di dalamnya berantakan.


"Aduh, maaf Mbak saya tidak sengaja." Alexa menaruh keranjangnya sendiri dan membantu mengambilkan milik orang yang dia jatuhkan.


"Kalau jalan pake mata dong, kamu sengaja kan jatuhin belanjaan aku."


Mendengar suara yang tidak asing membuat Alexa mendongak. "Kak Maura." Ucap Alexa langsung berdiri.


"Apa?" Maura mendelik menatap Alexa tajam. " Kamu harus ganti semua yang aku ambil." Ucap Maura dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


Alexa melihat kue yang jatuh tadi memang berantakan dan itu juga salahnya. Alexa membayar kerugian yang dia lakukan dan mengganti semua yang di ambil oleh Maura.


"Maaf mbak, saya yang mengganti dan membayar milik mbak tadi." Ucap Alexa pada kasir dan menyerahkan kartu untuk membayar.


"Terima kasih mbak." Alexa keluar dengan membawa dua kantung kresek, diambang pintu dirinya berdiri mematung ketika suaminya merangkul pinggang Maura seperti orang yang sedang berpelukan.


"Maaf Ren, aku tidak sengaja." Ucap Maura dengan tersenyum lalu berdiri tegak, setelah tadi pura-pura jatuh.


Ren tidak menjawab, melainkan menyingkir dari hadapan Maura dan mengusap tangannya seperti ada debu. "Lain kali berlajar berjalanlah dengan baik." Ucap Ren meninggalkan Maura yang diam mematung dengan bibir terbuka.


Alexa yang mendengarnya tersenyum tipis, " Sudah selesai." Ren meraih dua keresek yang Alexa bawa, "Sudah mas." Ucap Alexa tersenyum manis.


"Jangan di sini sayang, kamu tahu kan aku sedang menahannya." Ren menatap wajah Alexa, dengan kening berkerut.


"Ish, kamu mesum." Alexa memukul bahu suaminya dan tertawa.


Pemandangan itu tidak luput dari Maura yang mengepalkan kedua tangannya, panas dan juga kesal melihat adik tirinya yang lebih bahagia dari dirinya.


.


.


"Mereka menggemaskan nyonya." Ucap salah satu karyawan yang Sena undang.


"Ya, mereka sangat menggemaskan." Sena tersenyum, melihat kedua putranya yang tenang dan tidak menangis.


"Sayang..." Arron merangkul pundak Sena dari belakang dan memberikan kecupan di pipi tanpa rasa malu, meskipun ada pengasuh kembar dan petugas spa.


"Sayang, malu." Ucap Sena mendelik menatap Aaron.


"Buat cuci mata mereka." Ucap Aaron cuek, tidak peduli yang melihatnya merasa malu. "Sayang ikut aku." Aaron menarik tangan Sena untuk berdiri.

__ADS_1


"Kemana? tumben kamu pulang jam segini." Sena melihat jam masih menunjukkan setengah dua belas, dan Aaron biasa pulang di jam dua belas lewat.


"Ada pertemuan di luar, dan aku lapar ingin makan sesuatu." Ucap Aaron dengan tersenyum.


Sena pun berdiri, dan mengikuti langkah suaminya.


"Mbak jaga si kembar, kalau rewel." Ucap Aaron, yang berjalan menggandeng tangan Sena, dan mereka hanya mengangguk.


"Untuk apa, kita kan mau makan bukan mau pergi." Sena yang tidak mengerti maksud suaminya, bingung.


"Karena makan ku, akan butuh waktu sayang." Tanpa lama Aaron menarik Sena menaiki tangga menuju kamar mereka, Aaron yang sedang bertemu dengan rekan bisnisnya, tidak tahu jika orang itu memiliki rencana licik.


"Ar, wajahmu berkeringat." Ucap Sena mengelap keringat yang berada di kening Aaron.


"Engh.." Tubuh Arron meremang dengan suhu yang begitu panas, apalagi mendapat sentuhan dari Sena membuatnya merasa terbakar gairah.


Beruntung Sena sudah melewati masa melahirkan, dan Aaron sangat membutuhkan Istrinya.


"Ar_ Emph.." Sena terperanjat ketika bibirnya langsung diserang oleh Aaron setibanya di kamar. Ciuman Aaron begitu dalam dan menuntut seperti tidak sabaran.


"Ar, kau kenapa?" Sena mencoba mendorong tubuh suaminya, napasnya tersengal-sengal akibat lumattan yang Aaron lakukan cukup lama.


"Bantu aku sayang." Napas Aaron memburu, dengan melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, Sena yang melihat tidak percaya.


"Ar, kamu." Sena melihat tatapan mata Aaron yang sudah di kuasai oleh gairah, Sena tahu jika terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Ar, ahh." Sena memejamkan matanya ketik Aaron meremas kedua miliknya dengan kuat, bibir Aaron tak berhenti mencumbu lehernya dan memberikan tanda disana.


Napas Aaron berkejaran dengan seiriang beraksinya obat yang sudah dia tekan, dan itu semua karena kelicikan kliennya, beruntung Ren mengetahui lebih awal sehingga membuatnya bisa sampai rumah dengan selamat, jika tidak mungkin dia sudah meniduri wanita ja***ng yang sudah mereka siapkan.


"Aku sudah tidak tahan sayang." Aaron memposisikan tubuh Istrinya yang sudah lemas karena pemanasan yang begitu gila dia lakukan. Sungguh Sena dibuat tak berdaya dengan keberingasan suaminya.

__ADS_1


"Arrgh, Ar pelan-pelan." Sena merintih, ketika Aaron memasukinya dengan kasar. Bahkan milik suaminya begitu sesak dan keras didalam miliknya.


"Maaf sayang." Ren mengecup bibir Istrinya lembut, dengan pelan Aaron bermain di atas tubuh istrinya yang sudah berkeringat.


__ADS_2