Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Panas bukan karena api


__ADS_3

"Loh, kak kok kita kesini?" Tanya Alexa yang melihat mobil Diaz berbelok ke sebuah restoran.


Diaz hanya tersenyum, dan mematikan mesin mobilnya. "Kita makan dulu ya." Ucap Diaz sebelum turun.


Alexa hanya menurut dan keluar dari dalam mobil.


Restoran yang cukup mewah, dulu Alexa sering keluar masuk restoran mewah ataupun mahal ketika bertemu klien ataupun menemani atasannya untuk metting. Tapi semenjak mendapat masalah waktu itu Alexa sudah sangat lama tidak lagi memasuki restoran mewah dan mahal.


"Pesan lah sendiri karena aku tidak tahu makanan kesukaan mu." Ucap Diaz dengan menyodorkan buku menu makanan pada Alexa, setelah dirinya selesai memesan.


"Samakan saja dengan kakak." Ucap Alexa yang memang juga menyukai makanan yang Diaz pesan.


"Selera makanan kita sama?" Tanya Diaz dengan senyum mengembang.


"Em, hanya kebetulan." Ucap Alexa tertawa.


Dua orang itu saling mengobrol dengan, lain halnya dengan seorang pria yang mengepalkan kedua tangan nya erat dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.


"Bodoh kau Ren." Ucapnya berlalu pergi dengan hati dongkol.


Entah kenapa sekarang Ren seperti penguntit atau seperti kekasih yang diselingkuhi, melihat Alexa tertawa dengan pria lain membuat Ren kesal dan tidak suka, padahal dengan Jihan dirinya biasa saja.


"Ini bukan kamu Ren." Batinnya dengan mengemudikan mobilnya untuk pulang, mood nya sudah buruk ketika melihat pemandangan yang menyebalkan.


Tidak ada api, tapi hatinya terasa panas, itulah yang Ren rasakan sekarang. Dirinya tidak tahu kenapa bisa merasakan hal seperti itu.


Apakah dirinya menyukai Alexa?


Sudah mencintai Alexa kah dirinya?

__ADS_1


Pikirnya di penuhi dengan tanda tanya, apalagi wajah Alexa selalu menari-nari di otaknya sejak kejadian di kantor sang papa tempo lalu.


Drt...Drt...Drt..


Ponselnya berdering, melihat nama yang tertera membuatnya malas.


"Ck, ternayata tidak lebih dari sampah." Ucap Ren dengan menatap layar ponselnya.


.


.


.


"Terima kasih kak, sudah mengantar dan menelaktir ku makan." Alexa berdiri didepan pintu gerbang kos nya, disana memang kos khusus wanita. Jadi tidak ada tamu yang sembarang masuk apalagi seorang pria. Kecuali sudah ijin dengan pemilik kos.


"Sama-sama, karena jalan kita searah jadi berangkat dan pulang kamu bisa bareng aku."


Diaz tertawa. "Tidak perlu ongkos hanya cukup gantian telaktir aku makan saja." Timpal Diaz yang juga ikut bercanda.


"Oke, tapi tunggu aku gajihan dulu ya, nanti aku telaktir. Karena untuk ke restoran mahal aku juga butuh modal." Mendengar ucapan Alexa membaut Diaz tertawa keras.


"Ya..ya..ya.., dan kamu harus punya uang banyak untuk mentlaktir ku makan."


Sejak tadi mereka selalu bercanda dan tertawa, Alexa yang memang dasarnya gadis ramah, dan Diaz memang pria ramah.


Tapi hanya dengan Birendra Alexa bersikap ketus dan menyebalkan, karena jika bersangkutan dengan Ren entah mengapa membuat Alexa selalu emosi dan darah tinggi.


Diaz pamit, dan Alexa masuk kedalam kos-nya dengan tubuh lelah.

__ADS_1


"Hah..akhirnya bisa rebahan juga." Alexa tidur terlentang di atas kasur yang tanpa ranjang. "Ternayata lelahnya sama dengan bayarannya." Gumam Alexa yang mengingat gaji yang akan dia dapat dan pekerjaan yang hari pertama melelahkan.


.


.


" Mau kemana Ren?" Tanya Bimo ketika melihat Ren yang rapi seperti ingin keluar, padahal biasanya putranya itu tidak pernah keluar setelah masuk rumah. Karena jika ada acara pasti Ren tidak langsung pulang melainkan langsung menyelesaikan urusannya lebih dulu.


"Ada perlu Pah sebentar." Jawabnya dengan terus melangkah keluar rumah.


"Tumben lah, si Ren keluar rumah." Tanya Sena yang baru muncul dengan membawa mangkuk yang berisikan salad buah.


Ibu hamil itu suka sekali makan makanan yang berbau buah, dan sayur. Jika daging Sena tidak terlalu suka, bahkan bisa mual dan muntah ketika mencium baunya.


Aaron sang suami yang oper protektif pun selalu memberikan dan menjaga pola makan sang istri yang menghidupi dua buah hati dalam kandungan. Aaron akan menuruti permintaan Sena jika itu yang terbaik untuk ibu dan buah hatinya.


"Tidak tahu." Jawab Bimo singkat. "Apa sudah terlihat jenis kelamin cucu papa?" Tanya Bimo yang mengelus perut buncit putrinya yang berusia enam bulan.


"Bulan depan Pah, kata dokter baru akan kelihatan." Jawab Sena dengan santainya sambil memakan salad buah.


"Apapun jenis kelamin mereka, papa hanya berharap kalian semua baik-baik saja." Tangan Bimo mengelus kepala Sena. Meskipun sudah menikah dan akan memiliki anak Sena tetaplah princess nya yang selalu dia manja.


Bimo tidak menyangka di usianya yang sekarang dirinya akan mendapatkan cucu kembar sekaligus. "Ternyata papa sudah tua ya." Ucapnya sambil terkekeh.


"Baru nyadar kalau papa udah tua." Ucap Sena dengan nada meledek. "Umur hanya angka papa, dan wajah papa masih bisa di bilang." Sena nampak menelisik wajah papanya dengan mengelus dagunya sendiri. "Papa masih pantas disebut hot Daddy." Lanjut Sena dengan manggut-manggut dan tersenyum.


"Hot kakek sayang, papa akan segera punya cucu." Bimo menjawab dengan tertawa.


Putri nya itu ada-ada saja, mana mungkin dirinya yang sudah berumur setengah abad masih dibilang hot Daddy.

__ADS_1


Yang ada dirinya ingin segera bertemu dengan sang istri tercinta, sungguh Bimo merindukan mendiang sang istri dengan sepenuh hati, dirinya banyak menyimpan cerita untuk sang istri di sana kelak.


__ADS_2