Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

"Sen-sen, jangan lupa sarapan..."


"Sen-sen jangan lupa pakai helm yang benar, dan jangan ngebut di jalan.."


"Jangan lupa ya kalau udah sampai, kabari aku.."


"Meskipun pesan ku tidak kamu balas, tapi aku senang setidaknya kamu membaca pesan ku.."


Sena hanya menghela napas melihat pesan masuk itu sudah dua hari lalu, dan masih banyak pesan yang Aaron kirimkan setiap hari, bahkan setiap jam.


Dan sekarang ponsel nya tidak pernah berdering kembali setelah dua hari ini, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang kurang.


Tring


Sena buru-buru mengambil ponselnya, senyumnya mengembang ketika ada pesan masuk.


"Gratis kuota tok-tik untuk satu bulan kedepan, caranya kirim ke xx.."


Sena melemparkan ponselnya kesal Ia pikir pesan dari pria gila yang akhir-akhir sudah mengusik kehidupan nya.


"Kenapa aku tiba-tiba memikirkan pria gila itu." Gumamnya dengan menatap langit-langit kamar di apartemennya.


Beberapa hari, setelah Aaron mengungkapkan isi hatinya, esoknya pria itu tidak muncul kembali. Tapi pesan yang Aaron kirimkan sudah menandakan jika pria itu tidak marah.


Dan sekarang pesan itu menghilang bersama orangnya.


"Apa iya gue udah punya rasa sama dia." Sena masih belum tahu arti isi hatinya, dirinya yang tidak pernah merasakan jatuh cinta, membuatnya tak mengerti dengan perasaan yang dia rasakan sendiri.


Apakah hanya merasa senang jika ada pria yang memperhatikannya atau merasakan cinta seperti orang katakan, jika kita merasa nyaman dan merindukan seseorang, jika orang itu tidak ada maka bisa dikatakan kita sedang jatuh cinta.


"Arrggg.." Sena berguling-guling di atas ranjang, pikirnya yang memikirkan Aaron dimana, dan hatinya yang merasa bimbang dan galau.


.


.

__ADS_1


.


"Gak bisa gitu dong kek, kakek udah janji dan itu udah kesepakatan kit." Aaron menatap tajam pria yang sudah berumur itu degan kilatan emosi.


"Itu sudah keputusan kakek, dan kamu harus menurut. Jika tidak kakek akan keluarkan kamu dari kartu keluarga, dan kakek jamin bukan kamu saja yang akan menderita, melainkan gadis yang kamu incar juga." Ucap kakek Lewis dengan tegas.


Kedua tangan Aaron mengepal erat, rahangnya mengeras ketika mendengar ucapan kakek Lewis.


Kenapa Sena harus di bawa-bawa dalam masalah ini. Dan Aaron tidak menyangka jika Kakek nya itu ternyata licik.


Aaron memang sudah kembali ke Jakarta, setelah mengungkap perasaanya kepada Sena. Aaron yang di hubungi oleh sang kakek jika dirinya harus kembali ke Jakarta karena ada hal penting yang akan kakek Lewis katakan, dan mau tidak mau Aaron kembali juga.


Tanpa Arron duga jika hal penting itu mampu membuatnya marah dan tak terima.


Bagaimana bisa kakek Lewis melanggar kesepakatan mereka di mana, Aaron akan bergerak bebas setelah mendapat tanda tangan persetujuan kerja sama itu, dan semua berjalan lancar kini Aaron di buat tak percaya dengan sang kakek.


"Itu karena kamu memberikan saham lima puluh persen keuntungannya LWS Grub, dan itu tidak masuk akan untuk kerja sama ini, dan kakek anggap semua itu batal karena ulah mu yang tidak masuk akal." Ucap Kakek Lewis pada Aaron, itulah alasan yang kakek Lewis tidak terima.


"Omong kosong." Aaron mengusap wajahnya kasar, dengan kemarahan yang begitu membuncah, dirinya tidak terima jika usaha yang dia lakukan di anggap konyol, apalagi dia rela menyerahkan semua kekayaan yang dia miliki demi wanita yang dia cintai.


"Lakukanlah apapun yang akan anda lakukan, karena saya tidak pernah akan mau mengikuti perintah konyol anda itu " Aaron bicara dengan nada tegas, matanya berkilat rasa kecewa kepada sang kakek, tanpa rasa hormat sedikit pun Aaron tidak lagi peduli, dirinya keluar dari mansion utaman dengan perasaan marah, kesal dan kecewa.


Bagaimana pun seorang ayah akan menyerahkan putrinya kepada pria yang benar-benar bisa di percaya dan bertanggung jawab, bukan hanya rasa cinta saja yang mereka miliki. Karena cinta saja tidak cukup, butuh pengorbanan untuk menguji rasa cinta mereka.


Dan untuk itu, Bimo memberi sarat sejauh mana Aaron menginginkan putrinya, bahkan sebesar apa pengorbanan cinta Aaron kepada putrinya Biana Sena Bagaskara.


Aaron melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dirinya merasa marah dan kecewa dengan kakek nya sendiri.


"Arrghh.." Memukul setir kemudi untuk meluapkan amarahnya.


Bayangan Sena yang tersenyum tipis, dan kata-kata ketus wanita itu terus melintas di pikiranya, dirinya tidak bisa memikirkan gadis lain selain wanita yang dia inginkan itu.


"Tidak akan ada yang bisa menyakitinya, aku pastikan itu." Ucapnya dengan perasaan menggebu-gebu.


"Kak sudah mau pulang?" Tanya Kemal saat melihat Sena membereskan meja kerjanya, padahal masih pukul tiga sore.

__ADS_1


"Em..iya sepertinya kakak tidak enak badan." Ucap Sena yang memang seharian ini dirinya merasa kurang sehat, apalagi akhir-akhir ini pola tidurnya tidak teratur dan akhirnya kurang istirahat.


"Kakak sakit?" Kemal mendekati Sena yang wajahnya memang sedikit pucat.


"Hanya kelelahan." Sena tersenyum tipis, mendapat perhatian kecil dari Kemal, yang sudah Ia anggap seperti adiknya.


"Tapi wajah kakak pucat, aku antar kerumah sakit ya." Kemal sedikit khawatir melihat keadaan Sena.


"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat."


"Aku akan kakak pulang." Kemal mengambil tas Sena yang berada di atas meja, lalu membantu Sena untuk berjalan keluar, karena tubuh Sena terasa lemas.


Perhatian Kemal pada Sena atasan yang terbilang sudah tak baru di bagian pengemasan itu, selalu mengundang perhatian kaum wanita, apalagi gadis-gadis yang menyukai Kemal, membuat mereka tidak suka melihat Sena berdekatan dengan Kemal.


"Dasar cewek gatel, baru masuk aja udah pinter gaet pak Kemal."


"Iya, apasih bagusnya tu cewek penampilannya aja lurus-luris gitu aja, masih kalah seksih sama gue."


"Modal tampang doang."


Begitulah para wanita yang melihat Sena tidak suka dekat dengan Kemal.


"Kemarin aja Si ganteng Rian, ehh setelah Rian gak ada mepet terus sana pak Kemal."


"Iya..ya..kayaknya tu cewek emang bakat jadi ***_***."


Mereka masih saja mencemooh Sena, dimana para karyawan yang tidak tahu status Sena yang sebenarnya.


Kemal mengantarkan Sena sampai di apartemen, sebenarnya Kemal ingin menemani Sena, takut jika terjadi sesuatu mengingat Sena tidak mau di panggilkan dokter dan hanya meminum obat saja.


Karena diusir oleh Sena, dan juga pekerjaan Kemal yang banyak, akhirnya pria itu meninggalkan Sena di apartemen sendiri.


Sena bergelung selimut di kasur, tubuhnya terasa dingin, tapi mengeluarkan keringat.


"Mama..." Tubuhnya menggigil dengan mata terpejam erat.

__ADS_1


"Sena ingin ikut Mama.." Ucapnya dengan suara lirih.


Karena sakit Sena tak sadar jika seseorang memeluk tubuhnya yang terasa sangat panas, bahkan orang itu memberikan kompres di kening Sena.


__ADS_2