
Kali ini Alena tidak sendirian ketika berjalan di pagi hari, karena sekarang dirinya di temani sang suami, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan, banyak orang yang melihat mereka dengan pandangan tidak suka apalagi warga yang sering mencibir Alena.
"Sayang, apa seperti ini setiap hari yang kamu lalui." Tanya Bimo pada Alena.
"Ya, setiap pagi aku berjalan kaki seperti ini, dan berangkat ke kedai setelahnya." jawab Alena dengan senyum.
Dirinya memakai daster lengan panjang dengan kerudung jadi yang langsung pakai.
"Bukan itu yang aku maksud." Katanya lagi. "Apa mereka selalu membicarakan dirimu di belakang." Katanya yang dimaksud adalah beberapa ibu-ibu yang mereka lewati, dan Bimo mendengar jika mereka membicarakan Alena.
"Apa yang Mas dengar, Wanita tidak punya suami, hamil di laut nikah?" Tanya Alena dengan senyum.
Bimo hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon karena dirinya memang mendengar perkataan seperti itu tadi, dan membuat dadanya terasa panas.
"Sudah makanan sehari-hari sayang, apalagi sekarang aku jalan dengan pria asing, yang sayang nya tampan seperti kamu." Alena tersenyum dengan memainkan matanya sebelah untuk Bimo.
Sempat kesal dan panas, kini Bimo malah tertawa dan merasa gemas dengan tingkah istrinya yang mulai pintar menggoda.
"Kamu genit sayang." Bimo menarik hidung Alena, menggoyangkannya ke kanan dan kiri, sehingga kepala Alena mengikutinya.
"Mas..Iss." Alena menepis tangan Bimo.
"Nyebelin." bibir nya mengerucut dengan kesal.
Bimo semakin tertawa melihat wajah istrinya yang semakin menggemaskan.
Dan mereka menjadi pusat perhatian, apalagi dengan Bimo yang terlihat mencolok di antara yang lain, paras tampan postur tegapnya membuat beberapa wanita yang melewati mereka rela berhenti hanya untuk menatap wajah tampan Bimo.
__ADS_1
"Ssttt...jangan tertawa..kamu tidak lihat banyak Lidya-lidya yang menginginkan mu." Ucap Alena dengan melirik sekeliling mereka.
Bimo hanya terkekeh mendengar perkataan istrinya yang membawa-bawa nama Lidya. "Biarkan saja mereka para Lidya, karena aku bukan Mas Aris sayang,," Bimo menatap Alena penuh cinta, tangannya mengelus pipi Alena. "Aku Bimo Bagaskara hanya milik Alena Adhisti seorang."
Alena tersenyum dengan wajah malunya mendengar ucapan Bimo yang pasti di dengar pada perempuan yang sengaja menguping pembicaraan mereka sejak tadi.
"Isss.. pagi-pagi belajar gombal." Alena memukul dada Bimo.
Keduanya kembali melanjutkan jalanya untuk kembali ke kontrakan.
"Sayang, nanti aku akan bertemu klien sebentar." Katanya setelah selesai sarapan pagi mereka dengan nasi uduk yang Alena beli ketika pulang jalan paginya tadi.
"Disini kamu punya klien juga." Alena bertanya dengan kening berkerut.
"Ya, kebetulan sebelum menemukan keberadaan mu disini, aku sudah membuat janji akan datang ke tempat ini." Bimo menyesap kopinya.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa." Alena tersenyum dan berdiri membawa piring kotor bekas makan mereka ke tempat cucian piring.
Bimo berdiri dan memeluk Alena dari belakang, ketika dirinya sedang mencuci piring. "Aku harap kamu mau ikut pulang denganku." Bimo mencium kepala Alena.
"Apa tidak ada pilihan lain." Tanya Alena berharap.
"Sayangnya tidak ada, dan ini perintah suami yang harus di tepati oleh istri."
.
__ADS_1
.
Bimo pergi dengan Yuda untuk meninjau pabrik ritel yang akan di belinya, dan ternyata pabrik itu cukup besar dan luas, jika saja pemiliknya yang mempunyai ide segar dan mengerti pasar mungkin pabrik ini akan semakin maju pesat.
"Bagaimana bak Bimo, apa anda sudah bisa memberi keputusan..?" Tanya pria paruh baya bersama istrinya yang akan menjual pabrik miliknya.
"Saya rasa tidak ada salahnya untuk membeli pak, karena saya juga tertarik dengan pabrik anda apalagi lokasinya cukup strategis dan pasti banyak menguntungkan masyarakat untuk menjadi lahan pencaharian mata uang mereka, karena setelah ini saya akan membuat pabrik ini agar lebih maju dan pasti akan menambah tenaga kerja banyak, saya rasa penduduk di sini masih banyak yang menganggur." Ucap Bimo mengutarakan niatnya.
"Saya setuju dengan ide kamu anak muda, dan pasti pabrik ini akan semakin maju jika pemimpin seperti kamu yang mengelola." Pria itu cukup bangga dengan pemikiran pria muda yang memiliki segudang prestasi dan sudah menjadi pemimpin perusahaan yang maju pesat di usianya yang masih muda.
Bimo tersenyum dan mengucapkan terima kasih, karena sudah memujinya.
"Baiklah, sebaiknya kita makan siang dahulu, karena ternyata waktunya makan siang, tidak terasa sejak tadi kita mengobrol hingga waktu begitu cepat berlalu." Pria itu tertawa dengan suara khas usianya.
"Iya nak, kalian pasti belum mencoba menu di kedai restoran dekat sini, disana menyediakan banyak menu yang enak-enak, ibu saja sampai setiap hari beli dan tidak mau masak." Wanita paruh baya itu tertawa, menceritakan kejadian yang di alaminya.
"Tidak apa Bu, seperti kata ibu makanan di sana pasti enak,,kalau begitu jangan buang waktu lagi, perut saya sudah keroncongan." Bukan Bimo melainkan Yuda yang menjawab.
Mereka hanya tertawa melihat tingkah Yuda yang tidak ada malunya sama sekali dan malah malu-maluin.
Mereka berbincang hangat, pemilik pabrik itu sudah sepakat untuk menjual nya kepada Bimo, pria muda yang sukses dan memiliki pemikiran cerdas.
.
.
Jangan lupa kasih hadiah banyak Author...hari ini up gila-gilaan..ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1