Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

"Lah tu bocah nya baru nonggol." Ucap Dadang ketika melihat Aaron berjalan mendekati mereka.


"Si kasep mah udah kayak pemilik pabrik aja." Sambung Asep.


Aaron tersenyum ceria melihat kedua sahabatnya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Mulut mereka berbicara tapi tangan sibuk bekerja.


"Gue telat ya." Ucap Aaron tanpa dosa, dirinya mengambil tepat di tengah-tengah mereka.


Arron yang memang tidak tahu gosip lambe lamis pabrik terlihat santai, tapi kedua temanya seperti sedang waspada.


"Lu pada ngapa dah, tengok sana sini." Tanya Aaron yang melihat mereka seperti maling.


"Ikut gue." Dadang menarik Aaron untuk mengikutinya.


"Gue mau di bawa kemana sih." Aaron mengikuti Dadang yang menarik tangan nya.


Hingga sampai di toilet pria Dadang mendorong Aaron masuk.


"Apaan sih."


Dadang mengeluarkan ponsel nya yang tak seberapa mahal itu, meskipun begitu yang penting bisa komunikasi dengan mbak google.


"Lihat ini dodol." Dadang membuka pesan grub dan memeprlihatkan sebuah foto.


"Lu minta di ruqiyah nih, kek nya. Main sosor atasan kita." Ucap Dadang kesal.


Aaron menyunggingkan senyum, melihat foto itu.


Plak


"Heh.." Dadang menggeplak kepala Aaron, pria berusia tiga puluh tahun itu tidak takut jika Arron marah. "Masih waras lu, malah senyum-senyum. Gawat Ian, ini gawat." Dadang yang tidak bersalah malah merasa takut sendiri jika temanya itu di pecat.


Aaron menatap Dadang dengan menaikan satu alisnya. "Gawat kenapa?"


Dadang membulatkan kedua matanya. "Kenapa kamu bilang..!"


"Hisss..gak usah ngegas." Aaron mengusap telinganya yang terasa sakit mendengar suara Dadang ngegas.


"Lu ada affair sama Bu Sena Ian, lu gak takut kalau foto mesum lu sampai ke tangan atasan, bakalan abis lu." Dadang kesal sendiri.


"Udah sih tenang aja, gue gak bakalan kenapa-kenapa, kalau pun jadi masalah gue akan bertanggung jawab." Aaron merangkul Dadang dengan senyum tengilnya. "Tanggung jawab buat nikahin Sena."


"Gak waras nih bocah."


Brak


Seseorang membuka pintu toilet dari luar.


"Woy, ngapain lu.. perang-perangan." Pria itu menatap Dadang dan Aaron penuh selidik.


"Mat lu." Ucap Dadang menepis tangan Aaron dari pundaknya.


"Terong-terongan nih mau." Ucap Aaron yang melesat keluar mengikuti Dadang yang sudah lebih dulu pergi.


Aaron mengejar Dadang dan merangkul pundak pria yang sudah baik kepadanya itu.


"Btw, makasih ya, lu udah kasih tau gue, lu emang teman baik gue." Ucap Aaron dengan tulus.


"Hm."

__ADS_1


.


.


.


Tring


Ponsel Sena berbunyi tanda pesan masuk.


"Siapa?" Gumamnya yang melihat nomor baru mengirim sebuah pesan foto.


Sena membuka nya dan melihat foto seseorang sedang berciuman, meskipun tidak terlihat siapa tapi sebagai pelaku dirinya hafal itu foto siapa.


"Kirimkan uang sepuluh juta, jika tidak mau foto mesum anda saya sebarkan di jajaran atasan pabrik.."


Pesan di bawah foto itu.


Sena yang membaca hanya tersenyum sinis.


Tring


Tak lama kembali ada pesan masuk.


"Mungkin foto itu tidak bisa membuktikan jika anda pelakunya, tapi bagaimana dengan vidio panas kalian yang sudah saya rekam.."


"Rupanya ada wartawan di dalam pabrik ini." Gumam Sena tersenyum tipis.


Drt..Drt..Drt..


Ponselnya kembali berdering, menandakan sebuah panggilan.


"Papa?"


"Halo Pah.."


"Sayang, apa kamu bisa pulang Minggu depan?" Tanya Bimo di seberang sana.


" Ada apa Pah?"


"Tidak ada apa-apa, tapi papa minta kamu pulang, setelah om Yuda kembali dari luar kota."


"Iya pah, Sena akan pulang."


Setelah sedikit mengobrol, sambungan telepon terputus.


"Tumben papa nyuruh pulang." Gumam Sena yang merasa aneh, karena jika ayahnya ingin bertemu pasti ayahnya yang akan datang, begitupun sebaliknya.


.


.


Hari ini Sena harus lembur mengingat Yuda dan Kemal sedang keluar kota, jadi Sena lah yang menggantikannya.


Walaupun ini adalah pekerjaan dan tanggung jawabnya, tapi bagi Sena ini adalah tugas utama sebagai pemilik pabrik, mampu kah dirinya menyelesaikan dan membuat orang-orang yang mempercayainya bangga.


Meskipun dirinya menjadi lulusan terbaik dari LN, tapi dirinya juga perlu belajar dari bawah, mengingat semua pencapaian dan kesuksesan bermula dari bawah dan tidak instan.


Mie instan aja butuh proses memasak untuk bisa di nikmati..hm


Karena fokus pada pekerjaan, Sena tidak sadar jika waktu sudah pukul sembilan malam, dan dirinya masih di dalam pabrik, di ruangan direktur.

__ADS_1


Ponselnya yang sejak tadi bergetar, tidak Sena hiraukan karena sedang fokus dan sibuk.


"Ahh..akhirnya." Sena merenggangkan otor tangannya yang terasa kaku, dan memijat tengkuknya pelan. "Ternyata seperti ini menjadi papa." Gumam Sena yang baru merasakan bekerja lembur dan menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai tepat waktu.


Dan pertamakali untuknya merasakan lelah dan capek, mungkin seperti ini yang papanya rasakan setiap hari, belum lagi jika Ren dan dirinya rewel di waktu yang bersamaan, dan papanya hanya merawat mereka tanpa seorang pendamping.


Sena mengambil ponsel nya di dalam tas.


"Loh, lowbat lagi." Mungkin karena banyak pesan dan panggilan masuk ponselnya lowbat.


Sena beranjak dari duduknya, jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, perutnya pun sudah keroncongan minta di isi.


Keluar dari ruangan Yuda, lampu sudah tak seterang ketika sore tadi, hanya ada beberapa lampu yang masih menyala.


Sena tanpa rasa takut berjalan santai keluar dari pabrik.


"Hah, udah malam banget ya." Ucapnya ketika sampai di parkiran hanya ada motor nya saja.


"Loh, mbak Sena baru pulang." Ucap security penjaga pos.


"Iya pak, abis lembur." Jawab Sena dengan memakai helm.


"Oh, saya kira yang punya motor bukan mbak Sena." Ucap security itu yang memang mengenal Sena.


"Memangnya kenapa pak?"


"Ngak papa mbak, hati-hati kalau begitu." Security itu pergi, kembali ke pos nya.


Sena yang ingin cepat pulang dan mengisi perutnya, tidak memperdulikan keadaan sekitar dan langsung tancap gas keluar dari parkiran pabrik.


Jalanan cukup sepi karena waktu sudah malam, Sena menambah kecepatannya agar cepat sampai setidaknya tempat yang lumayan ramai, karena setengah perjalanan dari pabrik memang hanya lahan kosong, dan beberapa warung saja, termasuk kedai Weni.


"Lah..kenapa ni motor, kok gak bisa ngerem."


Mendadak rem tangan nya blong, Sena sedikit panik karena di depan sana sebuah tikungan dan laju motor nya sedikit kencang.


"Ya, tuhan." Sena melihat sorot lampu mobil dari arah berlawanan, dan laju motornya belum stabil, perlahan tangannya mengurangi kecepatan gas motornya, hingga ketika benar-benar sampai di tikungan motornya perlahan berhenti.


"Hah..Jantung gue." Napas Sena naik turun, beruntung dirinya dalam keadaan tenang, jika gugup mungkin dirinya sudah nyungsep.


"Kenapa rem nya gak berfungsi sih." Sena mencoba lagi, tapi memang rem motornya tidak bisa di pakai.


"Pelan-pelan aja deh." Belum sempat sena menstater motornya, sebuah tangan menarik kunci motornya.


"Mau kemana neng, kok sendirian aja." Ucap seorang pria dengan rambut gondrong.


Dua orang pria tertawa senang mendapatkan mangsa baru.


"Kalian mau apa, balikin kunci motor saya." Sena mencoba meraih kunci motornya lagi, dengan cepat pria itu menghindar.


"Eiittss...gak usah buru-buru dong kita main dulu yuk."


Dua pria itu kembali tertawa, malam ini pasti mereka akan pesta besar.


.


.


Di lain tempat sejak tadi Aaron menghubungi nomor Sena tapi tidak di angkat, dan sekarang nomor itu tidak aktif.


Aaron yang berdiri di depan apartemen Sena menjadi gelisah, sejak tadi dirinya mencoba membuka pintu apartemen tapi, sepertinya Sena mengganti sandi apartemen nya.

__ADS_1


Dan Aaron yang tidak tahu jika Sena lembur, tidak kepikiran untuk mencarinya di pabrik. Aaron pikir Sena pergi keluar untuk mencari sesuatu, karena motor Sena tidak ada di parkiran basement.


"Lu dimana sih Sen-sen."


__ADS_2