Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Pernikahan Anisa


__ADS_3

Ren menatap sendu wanita yang berbaring di atas ranjang, tangannya menggenggam tangan Alexa dan mengecupnya.


Setelah menyelesaikan urusan di kantor dan sudah memberi sangsi untuk orang yang sudah membuat Istrinya seperti ini, Ren langsung menuju rumah sakit . Disana Ren melihat tiga orang teman Alexa yang menunggu, dan Ren merasa lega jika Alexa dan kandungannya baik-baik saja, hanya mengalami kontraksi tapi mereka kuat hingga tidak terjadi hal yang membahayakan.


Kalau saja dirinya lebih dulu mengumumkan pernikahan nya dengan Alexa, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi, tapi semua sudah berlalu dan kini Ren bisa bernapas lega.


"Engh.." Alexa mengerjapkan matanya, menyesuaikan sinar lampu yang begitu terang di matanya.


"Kamu sudah sadar." Ren menyambut dengan senyum ketika Alexa membuka mata. Di ruang VVIP Ren menunggu sang Istri sendiri.


"Mas." Alexa ikut tersenyum, tapi dirinya langsung ingat sesuatu dan tangannya reflek langsung menyentuh perutnya.


Alexa bernapas lega. "Syukurlah." Gumamnya ketika tangannya masih menyentuh perutnya yang besar.


"Mereka kuat, jadi tidak akan terjadi sesuatu." Ren mencium kening Alexa.


"Em," Alexa hanya membalas dengan senyum.


Tidak bisa Alexa bayangkan jika kejadian tadi siang akan membuatnya masuk rumah sakit seperti ini, beruntung kandungnya baik-baik saja, jika tidak mungkin Alexa akan gila.


"Makan ya aku suapi." Ren mengambil nampan makanan yang tadi suster antar.


"Apa mas tahu siapa yang_"


"Mereka sudah mendapatkan balasannya, orang yang sudah menyakiti istriku tidak akan pernah aku Maafkan." Tegas Ren menatap wajah sang istri. "Jangan khawatir semua sudah baik-baik saja. Lagian siapa yang akan berani lagi menghina istriku."


Mendengar ucapan Ren membuat Alexa tersenyum. "Bukan orang lain, tapi kamu juga pernah menaykitiku." Alexa tersenyum.


"Ck, jangan di ingat sayang, sungguh dulu aku adalah pria yang paling bodoh." Ren kesal pada dirinya sendiri setelah apa yang dia lakukan pada Alexa dulu.


Jika tidak ada masalah mungkin mereka tidak saling kenal, apalagi menjadi pasangan suami-istri, Tuhan sudah merencanakan takdir mereka seperti apa. Dan pada akhirnya mereka menjadi keluarga bahagia.

__ADS_1


.


.


"Ar, aku boleh ke kantormu siang ini?" Sena membantu memakaikan dasi pada leher suaminya.


"Ada apa? tumben?" Tanya Aaron menatap wajah Istrinya yang fokus memasangkan dasi.


Sena tersenyum setelah dasi itu sudah terpasang rapi, wajahnya terangkat untuk menatap suaminya.


"Tidak apa, aku hanya ingin berkunjung dan mengantar makan siang mu."


"Aku bisa pulang sayang, tanpa harus kamu pergi keluar rumah." Aaron nampak tidak mengijinkan Sena untuk datang ke kantornya, membuat wajah Sena cemberut.


"Tapi Ar, aku."


"Tidak usah, lebih baik kamu menemani baby A, dan tunggu aku pulang kantor." Aaron tersenyum lalu mencium kening Sena. "Jangan manyun seperti itu, nanti ini aku makan." Jari Aaron menyentuh bibir Sena.


Aaron menghela napas, dirinya tidak mungkin memberi tahu Sena, dan Aaron memang sengaja membuat Sena tidak keluar rumah sama sekali karena Aron takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya maka dari itu lebih baik dirinya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi selama ini Richard belum diketahui keberadaannya, mungkin pria tua itu bisa saja menyerang istrinya ketika mendapat kesempatan dan Aaron tidak ingin itu terjadi.


"Hanya untuk berjaga-jaga, kamu sendiri tahu bagaimana keadaan di luar Sayang, dan aku tidak ingin terjadi apapun padamu." Aaron mengelus wajah Sena menatap wanita itu dengan penuh cinta.


"Baiklah sebagai istri yang baik aku akan mengikuti apapun yang kamu ucapkan. Maaf sudah keras kepala." senam menundukkan wajahnya. Sena tahu jika suaminya melarangnya untuk melakukan sesuatu hal yang bisa membahayakan dirinya, dan Sena sudah hafal dengan sifat suaminya yang begitu over protektif, dan itu semua juga untuk kebaikan dirinya.


"Terima kasih sudah mau mengerti." Aaron tersenyum dan memajukan wajahnya untuk mencium bibir yang selalu membuatnya candu. "Vitamin untuk pagi ini." ucapnya membuat Sena merasakan panas di sekitar wajahnya. walaupun sudah sering dan sangat sering namun sering kali kata-kata Aaron membuatnya merasa tersipu malu.


Seperti yang dikatakan suaminya Sena yang ingin pergi ke kantor untuk mengantar makan siang, menjadi mengurungkan niatnya karena dia pikir itu juga demi kebaikannya. Meskipun suaminya protektif tapi Sena tahu jika Aaron melakukan itu hanya demi keselamatannya semata.


"Aku berangkat sayang hati-hati di rumah."


Setelah mengantarkan suaminya untuk berangkat ke kantor Sena kembali masuk ke dalam untuk menemui baby A yang sedang bermain dengan para pengasuhnya.

__ADS_1


Sena yang ingin menemui kedua anaknya berhenti di depan ruang televisi, melihat papanya yang masih duduk santai dengan membaca koran. Sena pikir papanya sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Papa tidak bekerja?" Sena menghampiri papanya.


Bimo menatap putrinya sekilas. "Hari ini papa ada undangan teman Papa yang menikah, jadi papa tidak ke kantor."


"Oh.." Sena hanya membulatkan bibirnya dan berlalu pergi untuk menemui kedua putranya.


Bimo memang tidak pergi ke kantor, dia akan menghadiri acara ijab Kabul Putri Umi Aisyah yaitu Anisa yang akan melangsungkan pernikahan hari ini dan Bimo diminta untuk datang menjadi saksi. maka dari itu dia tidak pergi ke kantor.


Pukul 09.00 pagi Bimo Sudah berdiri di depan Panti Asuhan yang akan menjadi saksi pernikahan wanita yang pernah menyatakan perasaannya, dan dirinya tersenyum ketika mengingat hal itu.


Panti asuhan nampak sudah ramai. Bimo masuk Dan disambut oleh anak-anak Panti yang selalu menyambutnya dengan hangat senyum mereka selalu membuat Bimo merasa senang dan nyaman.


"Nak Bimo?" Umi Aisyah yang melihat Bimo Sudah datang menghampiri, wanita paruh baya itu tersenyum dalam balutan gamis yang membuat wajahnya terlihat cantik di usianya yang sudah lebih dar lima puluh tahun.


"Pagi umi Apa kabar?" Salam Bimo mencium telapak tangan Umi Aisyah sudah, lebih satu minggu memang dirinya belum sempat mengunjungi panti karena ada sedikit problem di kantor yang membuatnya sibuk hingga belum bisa mengunjungi anak-anak di Panti.


"Baik Nak, kamu sendiri apa kabar?" Umi Aisyah tersenyum.


"Baik, Umi."


Tak lama rombongan para tamu penghantar pengantin pria yaitu Yusuf, datang dengan beberapa mobil. Ijab kabul dilaksanakan pukul 10.00 pagi dan kediaman Umi Aisyah yaitu panti asuhan menjadi saksi ikrar ijab Kabul untuk putri satu-satunya.


Anisa nampak begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun putih, ditambah hijabnya ynag menambah kharisma di wajah Anisa dengan balutan make up natural, Semua mata menatap Anisa dengan kagum. Terutama Yusuf calon suami Anisa, yang tidak berkedip ketika calon mempelai istrinya datang untuk duduk di sampingnya.


Senyum Yusuf tidak pernah luntur apalagi dirinya sangat mencintai Anisa. Dan hari ini dia benar-benar akan memiliki wanita yang sangat dicintainya itu seutuhnya. Senyum Anisa mampu menggetarkan hatinya, hingga Yusuf bertekad untuk menjadikan Anisa wanita halal baginya.


Anisa menatap Bimo sekilas, dan Bimo yang melihat itu membalas dengan senyum.


Tidak terasa air mata Bimo menetes ketika mendengar Pak penghulu mengucapkan ijab qobul, dan Yusuf menerimanya. Sungguh melihat pernikahan di depan matanya mengingatkan dirinya di saat dulu juga pernah mengucapkan ijab kabul di hari pernikahannya dengan Alena. Bimo seperti dejavu dengan keadaan seperti ini.

__ADS_1


'Semoga kita bisa bersama kelak meskipun di dunia kita hanya bersama sebentar, tapi aku ingin meminta Tuhan menyatukan kita di akhirat nanti.'


__ADS_2