Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part163


__ADS_3

Semua berjalan dengan apa adanya dan seperti biasa, mereka semua nampak menikamati kehidupan kini, meskipun mereka semua nampak bahagia tidak ada yang tahu dalam hati mereka seperti apa, yang ada hanya raut wajah ceria dan bahagia.


Begitulah Bimo jika depan kedua anaknya dan keluarganya dirinya tidak pernah tidak tersenyum hanya untuk kedua putra dan putrinya. Dulu ketika Alena menghilang dirinya hanya senyum kepada Alisa, dan kini senyum itu di gantikan untuk kedua putra dan putrinya meskipun masih sedikit senyum Bimo sisakan kepada Alisa.


Seperti janjinya kepada mendiang sang istri dan janjinya kepada kedua anak-anak nya, jika dirinya tidak akan pernah menggantikan Mama mereka dalam hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papa...!!" Panggilan yang selalu menghiasi telinganya selama dua puluh dua tahun ini, membuat dirinya tersenyum bahagia.


"Ren, kecilkan suaramu, apa kamu tidak malu dengan usiamu yang sekarang." Tegur Bimo ketika putranya itu sudah berdiri di hadapannya.


"Pah, Ren berhasil memenangkan tender." Wajah Ren begitu bahagia, untuk kali pertama dirinya menangkan tender.


"Bagus Nak, papa bangga sama kamu." Bimo tersenyum lebar menepuk punggung sang putra ketika memeluknya.


Ya, kini kedua putra dan putriku sudah dewasa, aku pun tak semuda waktu dulu. Kini usiaku sudah kepala empat dan aku pun akan pensiun dari kantor ketika Ren sudah siap menggantikan posisiku.


Tidak mudah bagiku untuk sampai dititik ini, dimana aku yang harus mendidik kedua anak-anak ku untuk manjadi pribadi yang kuat dan mandiri, dimana ketika yang di butuhkan mereka seorang ibu dan aku yang harus berdiri di samping mereka sebagai seorang ayah dan ibu sekaligus.


Dalam hidup ku, aku tidak pernah membayangkan hidup seperti ini, aku hanya membayangkan bisa hidup bersama dan menua bersama orang-orang yang aku cintai, tapi pada akhirnya takdir yang menentukan hidupku yang bisa mengalahkan harapanku.


Bukan nya tidak ada yang ingin menjadi ibu sambung mereka, hanya saja diriku sendiri lah yang menutup hati untuk para wanita di luaran sana, karena bagiku memliki cinta sang istri dan kedua anak-anak ku itu sudah membuatku bertahan sampai detik ini.


.


.


"Kak kamu jadi pergi ke Sukabumi?" Tanya Bimo ketika ketiganya sudah berada di meja makan untuk makan malam.


Rutinitas mereka selama ini, setiap sarapan dan makan malam harus bersama, tidak ada yang boleh melewatkan kebersamaan itu, dan itu semua sudah disiplin dan diterapkan dari mereka kecil sampai sekarang dewasa.


"Hm.. kalau papa mengijinkan." Sena masih dengan kegiatan makanya.

__ADS_1


Wanita cuek dan dingin itu, ingin melanjutkan bisnis ritel di Sukabumi dengan atas nama sang Mama.


Ya, Bimo memang membeli pabrik itu dulu untuk Alena, dan sekarang putrinya ingin mengabdi di kota itu untuk memajukan bisnis di sana.


"Jika kamu ke sana papa sama siapa." Ucap Bimo setenang mungkin, meskipun hatinya berdenyut nyeri mengatakan itu.


"Ada Ren Pah, dan Sena bakalan sering pulang juga." Sena masih terus menyakinkan sang papa.


Sebenarnya dirinya sudah membicarakan masalah ini sejak satu bulan lalu, dimana dirinya baru saja pulang dari menimba ilmu di tempat papanya dulu sekolah. Dan meminta ijin untuk ke Sukabumi pun Sena belum mendapatkan ijin.


Bimo menghela napas dalam, sedangkan Ren hanya menyimak, pria itu menatap sendu papanya yang mencoba biasa saja ketika bicara dengan sang kakak.


Ren yang mengerti perasaan papanya pun merasa sedih.


"Tapi kamu perempuan Nak, disana kita tidak punya siapa-siapa." Ucap Bimo lagi, masih mencoba menggoyahkan keinginan Sena.


Sena menatap intens papanya, tangannya terulur utuk meremat lembut kedua tangan Bimo. Kedua tangan yang sudah membesarkan nya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


"Papa percaya sana Sena," Sena masih meremat tangan itu lembut. "Sena hanya butuh kepercayaan papa untuk Sena, karena papa adalah segalanya untuk Sena." Wajah Sena berubah sendu.


"Jika papa kangen Sena, papa bisa datang, atau Sena yang datang, Sena sudah besar Pah, Sena ingin menjadi diri Sena sendiri, Papa sudah banyak melakukan apapun untuk kita, dan sekarang saatnya Sena dan Ren untuk membahagiakan papa dan mengantikan papa." Sena manjatuhkan air mata.


"Sayang, maafkan papa nak," Bimo memeluk tubuh putrinya. "Maaf jika papa banyak kekurangan ketika membesarkan kalian." Suaranya begitu serak, pria berumur kepala empat yang masih segar dan gagah di usianya menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Papa adalah papa terbaik yang kami miliki, papa adalah segalanya untuk kami, papa tidak gagal, papa berhasil mendidik kami hingga seperti ini." Sena menangis sesenggukan di dalam dekapan papa nya.


Ren pun mendekati papa dan kakak nya itu, memeluk mereka berdua." Ren juga Pah, Ren menyanyangi papa, kita akan selalu bersama, walaupun ada jarak pemisah tapi hati kita akan terus bersama." Mata Ren pun ikut memerah, menahan emosi yang menyesakkan dadanya untuk tidak menangis. Meskipun terlahir sebagai adik, tapi dialah yang akan menjadi pelindung keluarganya.


.


.


"kak semua sudah siap." Teriak Ren ketika sudah memasukan semua keperluan yang akan di bawa Sena ke Sukabumi.

__ADS_1


Pada akhirnya Sena mendapatkan ijin dari sang papa untuk pergi ke suka bumi.


"Iya Ren, tidak usah teriak-teriak." Sena yang berjalan keluar dengan Bimo mendelik tajam menatap adik nya itu.


"Ck, kalau tidak teriak kamu tidak akan menjawab." Ren pun berdiri dengan menyilang kan kedua tangannya di dada.


Bimo hanya terkekeh, kedua anak-anak nya itu masih sama saja seperti bocah jika besama. "Ya sudah ayo kita berangkat, kali ini perjalananya cukup menyita waktu dan tenaga." Ucap Bimo yang sudah siap untuk ikut mengantar Sena dan melihat perkembangan di sana.


"Siap Pah.." Ren yang semangat empat lima pun segera masuk ke dalam mobil samping kemudi, karena kali ini mereka membawa supir untuk mengantar mereka.


"Ayo Nak." Bimo membukakan pintu untuk Sena.


"Terima kasih papa." Sena mencium pipi Bimo dan masuk ke dalam mobil.


"Kamu menggemaskan seperti ibu mu nak." Bimo terkekeh, ketika ingin masuk, matanya menangkap seseorang dengan pakaian serba putih tersenyum manis ke arah nya, senyum yang selalu membuat hatinya berdebar-debar dan sampai sekarang pun hatinya masih sama.


Wanita itu melambaikan tangannya dengan senyum terus mengembang indah.


'Kamu bahagia sayang, aku pun juga.' Bimo membalas senyum itu dengan manis, senyum yang menandakan semua baik-baik saja.


"Papa ayo buruan." Seru Ren dari dalam membuyarkan lamunannya.


"I-iya Nak." Matanya kembali menoleh ke tempat semula di mana wanita itu berada, tapi sudah tidak ada.


'Tenanglah di sana sayang, suatu saat kita akan bersama'.


.


Sedih gak sih..😭 aku kok sedih🤧


DISINI AUTHOR MAU BAHAS KEHIDUPAN SENA DAN REN YE,,


Yang jelas Mas duda tidak akan menikah lagi, dia cukup hidup bersama kedua anak-anak nya dan tidak ingin berpaling dari mendiang sang istri..

__ADS_1


Jadi jangan minta jodoh untuk mas duda, karena jodoh mas duda adalah Otor sendiri🤧


__ADS_2