Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Bahagia dan rumit


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu, kesedihan yang Aaron rasakan sudah terbayar dengan kesembuhan Jack yang sudah membaik, bahkan pria itu sudah sehat kembali setelah melewati serangkaian perawatan intensif dengan dokter ahli yang tuan Arthur siapkan, untuk kesembuhan pengawal pribadi serta asisten putranya itu.


Jack sudah kembali bekerja, itupun dengan memaksa karena tidak melakukan apapun dalam waktu satu bulan membuatnya merasa jenuh. Baik Aaron maupun tuan Arthur belum memperbolehkan tapi Jack memaksa dan menyakinkan jika dia sidah kemabli sehat seperti sedia kala.


Bagi Jack kelaurga Lewis juga keluarganya, Jack sudah mengabdi puluhan tahun dikeluarga Lewis. Jack memang hanya sebatang kara, dia di angkat Kakek Lewis dari pinggir jalan kala sedang berkelahi dengan preman yang memukulinya karena Jack tidak memberi uang pada mereka. Dan dari sana dirinya dipertemukan dengan kakak Lewis, di sekolahkan hingga dia menjadi orang seperti sekarang. Setelah selesai menimba ilmu dan berhasil mendapat gelar yang memuaskan Jack kembali ke tanah air dan mengabadikan dirinya di keluarga Lewis. Dari Aaron yang masih berumur sepuluh tahun Jack lah yang berada di samping anak itu, selain menjadi pengawal dan asisten pribadi kakek Lewis, yang sekarang pindah menjadi sekertaris Aaron Lewis.


"Jack, reservasi tempat paling romantis, dan jangan sampai gagal, aku tidak mau membuat istriku tidak senang." Ucap Aaron pada Jack yang sedang memberikan berkas padanya.


"Baik tuan." Jack pun ingin pergi, tapi langkahnya terhenti.


"Dan jangan lupa, kado yang sudah aku siapkan harus sudah selesai tepat waktu."


Jack hanya mengangguk, dan kembali melangkah keluar.


Satu Minggu lagi adalah ulang tahun Sena yang ke dua puluh empat. Aaron sudah menyiapkan sesuatu untuk istri dan kedua anaknya.


.


.


Dilain tempat Ren nampak tersenyum dengan wajah penuh haru, kandungan Alexa yang sudah memasuki bulan ke empat membuat Aaron tidak sabar untuk melihat jenis kelamin kedua buah hatinya. Di layar terlihat buah hatinya yang meringkuk, ukuranya memang masih kecil, tapi semua sudah terlihat sempurna dan sehat.


"Mereka berjenis kelamin perempuan." Ucapan dokter tak mampu membendung rasa haru pada kedua pasangan suami istri yang saling tersenyum dengan haru, Ren menciumi wajah Istrinya, dengan perasaan meletup-letup karena bahagia.


"Terima kasih sayang." Ren begitu terharu hingga menitikan air mata.


"Em, doamu terkabul." Ucap Alexa dengan senyum.


"Ya, pasti papa dan kek Sena juga ikut senang."


Ren ingat jika dirinya ingin punya anak perempuan, agar kakaknya itu merasa iri karena tidak bisa membeli perlengkapan bayi perempuan yang menurut sena menggemaskan dan lucu-lucu.


Bahkan baby A pernah Sena pakaian baju berwarna pink, sepatu pink, dan topi berwarna pink membuat Aaron kakak iparnya mencak-mencak tidak jelas.

__ADS_1


Ren mengingat itu kemabli tersenyum sendiri.


Setelah melakukan pemeriksaan keduanya keluar dari rumah sakit. Ren membukakan pintu mobil untuk Alexa, dan setelah Alexa masuk Ren memutari untuk masuk di bagian kursi kemudi, perhatian kecil Ren yang tidak pernah lupa, bahkan terkadang Alexa sendiri yang tidak sabaran menunggu suaminya membukakan pintu.


"Sayang apa tidak sebaiknya kamu risain, kehamilan kamu semakin besar aku takut kamu kelehan." Ren manatap Istrinya sekilas, pandanganya fokus ke jalan.


"Pasti aku kesepian jika di apartemen sendirian." Tutur Alexa dengan jujur.


"Tapi kamu hamil kembar sayang, dan perut kamu sudah besar tidak seperti kebayang orang hamil kebanyakan." Ucap Ren lagi, yang mulai posesif pada sang istri.


Memang perut Alexa lebih besar dari wanita hamil kebanyakan, karena Alexa sedang mengandung dia bayi sekaligus. Dan Ren melihat Alexa yang kelehan membuatnya tidak tega dan kahawatir.


"Tapi aku harus apa jika dirumah, tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol. Kalau di kantor aku bisa mengobrol dengan mbak Mita dan Gesya."


Ren menghela napas, dirinya yang sebenarnya tidak tega, juga tidak rela jika Alexa masih ingin bekerja. Meskipun dikantornya sendiri tapi Ren juga masih kahawatir.


tangan Alexa terulur untuk menyentuh lengan suaminya, wanita itu tersenyum manis menatap suaminya dan berkata. "percayalah Mas, aku akan baik-baik saja." Alexa tersenyum manis. "Papa tidak usah khawatir kami akan menjaga Mama." Lanjut Alexa dengan menurunkan suara anak kecil.


Ren tersenyum lebar. "Janji jangan buat aku kahawatir dan takut."


Ren mengecup tangan Alexa, dirinya bahagia.


.


.


.


Kak kenapa kita kesini?" Tanya Gesya yang melihat rumah yang asing baginya, rumah itu terdiri dari dua lantai tapi sepertinya milik orang kaya.


"Hanya ingin mengajakmu ke sini. Ada yang ingin bertemu." Jawab Diaz dengan senyum, lalu keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Gesya.


Gesya turun dan menatap rumah didepanya. Gesya tahu jika rumah ini mungkin milik Diaz, dan Gesya sudah merasa was-was melihat rumah Diaz yang mewah.

__ADS_1


"Ayo.." Diaz menggenggam tangan Gesyanuntuk mengikutinya masuk.


Diaz yang tinggal di apartemen sendiri mendapat undangan dari Mamanya untuk datang kerumah, dan Mamanya bilang jika ada acara makan malam kelaurga.


Sebenarnya Diaz tidak ingin, tapi mungkin ini kesempatan untuk mengenakan Gesya kepada kedua orangtuanya, agar mereka tidak selalu menjodohkannya dengan wanita yang bukan pilihanya sendiri.


"Assalamualaikum." Ucap Diaz yang masuk kea dalam rumah, Diaz di sambut oleh Mamanya.


"Diaz kamu apa kabar." Mama Diaz bernama Dian, dan papanya bernama Wilyy.


"Baik mah." Diaz menyambut pelukan Mamanya, dan melepas genggaman tangannya pada Gesya.


"Mama merindukan mu nak," Nyonya Dian begitu senang melihat putranya mau datang, karena selama ini Diaz susah untuk datang sejak kejadian waktu lalu.


"Mah, kenalin Gesya kekasih Diaz." Diaz meraih tangan Gesya dan memperkenalkan keduanya.


"Gesya, Tante." Gesya menyalami tangan Nyonya Dian, dan Nyonya Dian hanya menerima seadaanya.


Gesya hanya tersenyum kecut, sepertinya Mama Diaz tidak menyukainya.


"Ayo masuk, mereka sudah menunggu sejak tadi." Nyonya Dian merangkul lengan putranya dan mengajaknya masuk. Sedangkan Gesya menatap keduanya yang berjalan lebih dulu.


"Sayang jangan jauh-jauh." Ucap Diaz yang kembali meraih tangan Gesya, dan Gesya tersenyum melihatnya


"Fiola, lihat siapa yang datang." Mama Diaz begitu senang memanggil nama Fiola dan yang di panggil pun menoleh dengan mata berbinar.


"Mas Diaz." Fiola langsung berdiri dari duduknya menghampiri Diaz dan langsung memeluknya. "Mas Diaz apa kabar Fiola kangen" Ucap gadis itu dengan senyum manis.


"Em, baik." Diaz nampak kikuk, ingin melepaskan karena merasa tidak nyaman.


"Tante bilang kita kan menikah, dan Fiola suka dengan konsep yang mas Diaz pilih.


Jederr

__ADS_1


Bagai tersambar petir disiang bolong Gesya maupun Diaz terkejut dengan perkataan Fiola.


__ADS_2